Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 24 Oktober 2018

KAU BAKAR KUNCI ITU,LANTAS MAU MASUK SURGA DENGAN APA?




Manshur Abdilla

Adalah kholifah Utsman bin Afwan duduk termenung serius memikirkan bagaimana cara dirinya bisa selamat diakhirat kelak. Padahal beliau adalah salah satu dari sepuluh manusia beruntung yang dijamin pasti masuk surga.

Saking seriusnya beliau berfikir hingga ia tidak sadar kalau sahabatnya Umar bin Khattab sedang  melewati dan mengucapkan salam padanya. Umar-pun mengadu pada Abu Bakar, maka dua sahabat terbaik ini berinisiatif mendatangi Utsman untuk menkorfirmasinya. "Saya memikirkan bagaimana caranya bisa selamat di akhirat kelak, saya belum sempat bertanya pada Nabi saw dan beliau sudah meninggal". Jawab Utsman memberi alasan pada kedua sahabatnya. Maka Abu Bakar segera menenangkan bahwa sudah beliau tanyakan pada Nabi saw, " Barang siapa yang menerima kalimat yang pernahsaya tawarkan pada pamanku Abu Tholib-dan beliau menolaknya-maka dia akan selamat". Demikian tutur Nabi saw kata Abu Bakar.[Musnad Imam Ahmad]

Kalimat yang dimaksud adalah kalimah tauhid yang menjadi panji kebesaran islam. Ibnu Hajar al-Asqalani mengeluarkan :

كان مكتوبا على رايته: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ.
“Bendera Nabi SAW bertuliskan kalimat tauhid.” (ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari,  6/147).

Demi mempertahankan panji tersebut para sahabat Nabi saw semisal  Zaid, Ja‘far, dan Abdullah bin Rawahah rela kehilangan tangan bahkan nyawanya sekaligus -bangga gugur karenanya:

أَخَذَ الرَّايَةَ زَيْدٌ فَأُصِيبَ ثُمَّ أَخَذَهَا جَعْفَرٌ فَأُصِيبَ ثُمَّ أَخَذَهَا عَبْدُاللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ فَأُصِيبَ
“Ar-Râyah dipegang oleh Zaid, lalu ia gugur; kemudian diambil oleh Ja‘far, lalu ia pun gugur; kemudian diambil oleh Ibn Rawahah, dan ia pun gugur.”[HR. Bukhari]

Dulu , demi kalimat itu Nabi saw dan para sahabat rela diboikot selama tiga tahun hingga kotoran BAB-nya  mirip kotoran kambing karena harus makan dedaunan. Demi kalimat itu pula Bilal harus rela menahan siksa diluar batas kemanusian. Keluarga Sumayyah juga menjadi bukti  harus rela menahan derita tak terperihkan bahkan nyawa harus menjadi tumbal. Belum hilang juga kenangan manis kita selaku santri, sambil duduk manis menunggu pak kyai atau imam sholat datang kita lantunkan pujian merdu "Miftahul Jannah Laa Ilaa ha illa Allah".  Ya,mereka sanggup lakukan itu karena mereka adalah orang orang mulia yang jelas tujuan hidupnya.

    Namun kini berbalik adanya, kalimat itu kalian benci setengah mati. Siapapun yang berani membawanya kalian persekusi sedemikian rupa. Kalian anggap perusak persatuan,anti NKRI. Dengan serius dan semangat kalian sematkan gelar seram pada pembawanya semisal ekstrimis, fundamentalis hingga teroris. Entah siapa yang mengajari kalian.

Puncaknya, Hari ini  hati kami kalian buat perih, dada sesak, darah mendidih dan ingin berbuat sesuatu demi menjaga kehormatan dan kemuliaan simbol islam tersebut ketika dengan bodohnya kalian bakar kalimat tauhid tersebut. Kami tidak habis pikir, nalar kami tidak menjangkaunya, hati kami terlalu kotor jika harus sedikit berhusnudzon dan mentoleransi tindakan bodoh tersebut.

Bagaimana tidak rayap saja  tidak berani memakan lafadz Jalalah (Allah swt ) pada perjanjian diwaktu awal kalimah tauhid diperjuangkan. Sungguh  kalian lebih buruk dibanding rayap. Sejarah merekam  bahwa akta pemboikotan Nabi saw  hancur dimakan rayap kecuali kecuali kertas yang tertulis :

بِـاسْمِكَ اللّـهُمَّ  
(Atas nama Engkau, ya Allah !)

Namun, Sekarang kau bakar semuanya. Padahal dalam panji itu ada nama Allah swt,dzat yang telah mencipta dan memberi makan kalian . Disitu pula ada nama Nabi saw yang mulia pemilik syafaat kelak. Rayap yang tak berakal saja menjaga nama Nya. Tapi kalian dengan pongah membakarnya. Naudzubillah

Maka, Setelah ini kalian dan semua yang masih alergi dengan kalimah tauhid tersebut dikibarkan harus segera bertaubat. Taubatan nashuha,taubat yang sebenarnya. Menyesal dengan penyesalan yang serius seperti penyesalan Umar sebelum masuk Islam. Ambil segera panji tersebut dan perjuangkan bersama mereka yang telah mewakafkan diri dan hidupnya demi berkibarnya kalimah tauhid dan kejayaan islam semata. Jika tidak,maka yaqinlah bahwa kemurkaan Allah swt,Nabi saw,dan seluruh kaum muslim yang masih jernih mata hatinya ditambah seluruh makhluk langit dan bumi akan mengutuk-laknat kalian selamanya.

Pilihan ada ditangan kalian dan jangan mau dimanfaatkan, karena setiap pilihan pasti akan ada pertanggungjawabanya kelak . Pilihlah Allah swt dan Nabi-Nya dengan menjunjung kalimat tauhid,niscaya selamat dunia akhirat.Dari ’Ubadah bin Shomit ra Nabi saw bersabda,
مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ
”Barangsiapa mengucapkan ’saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa ’Isa adalah hamba Allah dan anak dari hamba-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta Ruh dari-Nya, dan (bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya dan neraka pun benar adanya, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga dari delapan pintu surga yang mana saja yang dia kehendaki.” (HR. Muslim no. 149)
(Kalimatul Ikhlas, 52-66).

Jika tidak dengan kalimah tauhid ini, lantas dengan apa kalian mau buka pintu surga kelak? Paman Nabi saw saja yang membela dakwah nabi saw tidak selamat karena menolak menerima kalimah tersebut,apalagi kalian yang bukan pamanya Nabi Saw [].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox