Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 10 Oktober 2018

IMF-WB BUKAN PENYELAMAT


Aminudin Syuhadak
LANSKAP

"Pinjaman dari IMF bukan pilihan karena ekonomi Indonesia tidak membutuhkannya, ekonomi Indonesia dikelola dengan sangat baik oleh Presiden Jokowi, Gubernur Perry, Menteri Sri Mulyani, Menteri Luhut, dan rekan-rekan mereka," ujarnya saat berkunjung ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) di sela-sela agenda Annual Meetings IMF-World Bank Group 2018, Senin 8 Oktober 2018.https://bisnis.tempo.co/read/1134306/imf-karena-ekonomi-dikelola-baik-indonesia-tak-butuh-pinjaman

Bukan Penyelamat

IMF maupun World Bank bukanlah protagonis ekonomi dunia, bukan pula savior atau penyelamat. Sebaliknya mereka adalah antagonis yang harus dinihilkan keberadaannya. Seperti yang diingatkan ekonom senior Rizal Ramli bahwa krisis ekonomi Indonesia 1998 saat itu disebabkan oleh kehadiran IMF di Indonesia. Ia menceritakan apabila IMF memaksa dan membujuk pemerintah Indonesia untuk menaikkan tingkat bunga sangat tinggi, dari 18 persen menjadi 80 persen. Rizal Ramli mengaku saat itu dia menjadi satu-satunya ekonom yang menolak pinjaman IMF dalam pertemuan para ekonom di Hotel Borobudur pada tahun 1997. https://www.google.co.id/amp/wow.tribunnews.com/amp/2018/10/09/indonesia-jadi-tuan-rumah-am-2018-rizal-ramli-bongkar-peran-imf-dalam-krisis-ekonomi-1998

Simak pula pernyataan ekonom peraih nobel, Joseph E. Stiglitz, bahwa negara-negara kapitalis maju, dengan bantuan IMF, Bank Dunia, dan WTO, tidak hanya tidak membantu apa yang diperlukan oleh negara berkembang, tetapi kadang-kadang malah membuat mereka tambah sulit. Sebagai contoh sejak pendiriannya di tahun 1944, Bank Dunia dan IMF aktif mendukung semua rezim diktator dan korup yang menjadi sekutu imperialisme Amerika Serikat (AS). Dalam pelanggaran keji hak rakyat guna mengontrol hidup mereka, mereka (Bank Dunia dan IMF) menginjak-injak kedaulatan negara lain yang tak terhitung jumlahnya, terutama melalui pengondisian/pengajuan syarat yang mereka paksakan ke negara-negara itu. Pengajuan syarat ini memiskinkan rakyat, meningkatkan ketidaksetaraan, menyerahkan negara tersebut ke tangan perusahaan multinasional, dan mengubah UU negara tersebut (biasanya mereformasi UU perburuhan, pertambangan, dan kehutanan) untuk melayani kreditor dan investor asing. http://www.berdikarionline.com/30-fakta-kejahatan-imf-dan-bank-dunia/

Fakta-fakta tersebut menegaskan bahwa IMF-WB adalah kepanjangan tangan kekuatan kapitalisme global. Lewat tangan merekalah neo imperialisme bisa melanggengkan hegemoninya atas dunia khususnya negara-negara dunia ketiga, termasuk negeri ini.

Jadi bukan masalah apakah IMF mau memberi pinjaman lagi atau tidak, atau apakah Indonesia layak atau tidak mendapat pinjaman atau tidak. Masalahnya adalah keberadaan IMF-WB itu sendiri yang justru harus diposisikan sebagai ancaman karena alih-alih sebagai lembaga internasional yang menjadi penyelamat dari krisis ekonomi mereka justru menjadi aktor utama krisis ekonomi yang terjadi secara periodik dari negara-negara yang menjadi pasien mereka. Dan ini sejalan dengan skenario yang disutradarai kapitalisme global.

Dan hari ini, setelah 1998-2006 menjadi pasien IMF yang notabene beban itu rakyat yang menanggung, negeri ini menyambut meriah rentenir internasional itu. Ratusan milyar rupiah disiapkan untuk mereka. Tanpa ada musibah Lombok atau Palu pun, berteman atau bahkan bekerjasama dengan IMF-BW adalah musibah besar buat negeri ini yang dampaknya akan sangat 'menyakiti' rakyat. Ingat, rezim bisa berganti tapi kerusakan akibat kebijakan mereka tidak ikut menghilang bersama tumbangnya rezim itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox