Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 29 Oktober 2018

Hizbut Tahrir Indonesia dan Solusi Alternatif


Fajar Kurniawan
(Analis Senior PKAD)

Perbincangan seputar HTI menggema di nusantara. Komitmen Kebangsaan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dipertanyakan. Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto pernah menjelaskan kalau komitmen kebangsaan yang dimaksud adalah kecintaan pada negeri, membela negeri, dan membawa negeri Indonesia kepada kebaikan dan kemajuan. Maka, Hizbut Tahrir sangat berkomitmen kebangsaan.

Jubir HTI juga menjelaskan bahwa Hizbut Tahrir memandang Indonesia dalam ancaman neo-Liberalisme dan neo-Imperialisme. Ancaman tersebut sangat nyata,neo-liberalisme nampak dalam undang-undang yang tidak berpihak pada rakyat dan kebijakan-kebijakan pro-asing. Sementara, Neo-imperialisme nampak dalam berbagai instrumen seperti instrumen hutan.

Akan tetapi, apabila komitmen kebangsaan dimaknai harus setia dengan sekularisme, Hizbut Tahrir dengan tegas menolaknya. Karena sekulerisme tidak sesuai dengan ajaran Islam. Ajaran Islam menegaskan umat Islam harus tunduk dengan ajaran Islam dalam kehidupan pribadi, rumah tangga, dan masyarakat.

Jubir HTI juga pernah menyampaikan, banyak pihak mengaku sebagai kelompok atau partai nasionalis. Namun, langkah dan tindak tanduknya malah membahayakan negara, seperti menjual aset negara, berkompromi dengan negara asing untuk merubah undang-undang menjadi liberal.

Benar, banyak kita lihat komitmen kebangsaan hanya dilihat sebatas orang mengatakan 'saya Nasionalis, saya Pancasilais',  sementara tindakannya sangat jauh dari komitmen kebangsaan. Masyarakat terbiasa melihat masalah pada tataran superficial bukan substansial. Sementara, orang Islam yang secara substansial cinta dengan negeri ini dituding sebagai tidak nasionalis atau tidak memiliki komitmen kebangsaan.

Sebagai contoh, Aksi 212 pernah dituding sebagai kebangkitan primordialisme, kelompokisme, kebangkitan politik aliran, seolah-olah memperjuangkan Islam itu anti dengan kebangsaan. Memangnya siapa dahulu yang memerdekakan Indonesia kalau bukan umat Islam.

Dalam konteks bernegara, kita semua paham bahwa proses lahirnya sebuah Undang-Undang melalui Pemerintah dan DPR. Lantas, mengapa UU berpihak kepada asing dan merugikan rakyat tersebut tetap di sahkan? Bukankah itu bertentangan dengan pancasila? itulah buah dari Demokrasi dimana para pembuat undang – undang boleh membuat undang undang apa saja yang menguntungkan kelompoknya asalkan suara mayoritas di parlemen dan pemerintah setuju walaupun rakyat tidak setuju. inilah akibatnya apabila suatu sistem mengijinkan sekelompok orang membuat aturan untuk mengatur orang lain.

Pada kondisi diterapkannya hukum buatan manusia yang ternyata membelenggu. Begitu pun tatanan kenegaraan yang tidak mengurusi kehidupan rakyatnya. Maka Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dengan gigih berusaha menyadarkan masyarakat bahwa untuk memperbaiki segala persoalan yang mendera bangsa ini hanyalah dengan di kembalikannya hukum, undang – undang, peraturan dan segala sesuatu yang mengatur masyarakat kepada pemilik alam semesta ini yaitu Allah SWT dengan kata lain semua hukum, undang -undang, peraturan harus bersumber dari syariat Islam.

Perjuangan HTI adalah untuk menyelamatkan Indonesia dari ide-ide yang menyengsarakan dunia akhirat seperti sekularisme, liberalisme di segala bidang. Keburuskan dan kebusukan ide-ide itu sangat terlihat dan terasa oleh masyarakat Indonesia. Usaha HTI adalah mengedukasi masyarakat dengan cara dakwah pemikiran tanpa kekerasan dan juga tanpa paksaan.

Apabila selama ini HTI terlihat berseberangan dengan kebijakan pemerintah, hal itu tak lain karena HTI hanya mengingatkan bahwa peraturan atau kebijakan yang dikeluarkan apabila bertentangan dengan hukum Allah akan berakibat buruk bagi bangsa ini. Karena itu upaya amar ma’ruf nahi munkar akan terus dilakukan HTI. Tak segan-segan beragam rekomendasi, press release, analisis politik sudah dilakukan untuk memberikan solusi bagi kehidupan. Mulai dari persoalan aqidah hingga khilafah. Dari pesoalan ekonomi, politik, pemerintahan, hingga pendidikan.

HTI menyakini pangkal dari persoalan bangsa Indonesia dan kaum muslim di seluruh dunia akibat diabaikannya sistem politik Islam dan penerapan syariah kaffah. Upaya mengembalikan kehidupan Islam inilah yang sedang dirintis oleh HTI. Dilakukan dengan membongkar makar segala tipu daya musuh-musuh Islam. Menjelaskan kepalsuan ide-ide selain Islam. Serta mendorong umat untuk ikut berjuang siang dan malam bersama HTI menegakkan Islam.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox