Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 20 Oktober 2018

Dukungan Untuk Sosok Alim KH. Elyasa… Ulama yang Tidak Membuat Pembenaran Atas Kekeliruan Pemimpin


Abu Inas – Tabayyun Center

Di tahun politik yang panas saat ini, kami mendengar kabar bahwa Kyai Heru Elyasa, seorang ulama Mojokerto menjalani pemeriksaan di Polres Mojokerto atas pelaporan atas dugaan pelanggaran UU ITE. Beliau disuport banyak Ulama di berbagai wilayah Jatim, termasuk beberapa tokoh Mojokerto dan LBH Pelita Umat.

Beliau selama ini dikenal sebagai ulama yang istiqomah dalam amar makruf nahi munkar. Banyak pandangan beliau yang perlu diperhatikan oleh penguasa agar musibah, bencana alam yang menimpa negeri ini berakhir. Dan hendaknya penguasa punya siifat rendah hati yang mau menyambangi ulama. Meminta nasehat secara tulus.

Persepsi sebagian publik terhadap penguasa di era demokrasi, kalau pun ada di antara para penguasa yang mau meminta pendapat, orang yang dicari adalah ulama yang sependapat dengan mereka. Biasanya, mereka tidak mendatangi ulama, tapi memanggilnya. Sang ulama pun akan tergopoh-gopoh memenuhi panggilan para penguasa. Padahal, sebaik-baik penguasa adalah yang mendatangi ulama. Dan, seburuk-buruk ulama adalah yang mendatangi penguasa. KH. Elyasa termasuk sosok ulama yang tegas menasihati penguasa. Beliau bukanlah sosok ulama yang takluk di bawah titah para penguasa.

Fenomena yang terjadi ditengah-tengah masyarakat akhir-akhir ini, dimana dakwah dan ceramah keagamaan yang benuansa politik mengalami "persekusi". Padahal Politik adalah salah satu bagian penting didalam ajaran Islam. Dengan pemahaman politik yang baik dan benar sesuai dengan ajaran islam akan mampu mencerdaskan umat dalam konteks urusan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Disinilah peran ulama sangat dibutuhkan untuk memahamkan masyarakat. Dan sejatinya Ulama dalam pandangan Islam merupakan tonggak kebangkitan umat dan sebagai penyambung lidah ajaran yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul,  seperti dikatakan dalam sebuah hadist. “Ulama adalah pewaris Nabi,” (HR. Imam Al Tirmidzi).

Kita perlu pahami, ulama ٌrabbani adalah ulama agama yang hanya takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Rasa takutnya ini merupakan buah dari ilmunya terhadap keagungan Allah dan kekuasaan-Nya. Allah telah menjelaskan bahwa ulama yang sebenarnya adalah mereka yang memiliki rasa takut kepada Allah yang sempurna. Hal ini bukan berarti yang selain mereka tidak punya rasa takut. Kaum mukminin secara umum punya rasa takut terhadap Allah, namun rasa takut kepada Allah yang benar-benar dan sempurna hanya dimiliki ulama; sesudah para nabi dan rasul.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Faathir: 28)

Demikian itu, setiap kali pengetahuan seseorang tentang Allah yang Maha agung itu sempurna, maka ilmu yang ada padanya juga sempurna. Jika ilmu sempurna maka rasa takut pada dirinya terhadap Allah juga akan lebih besar. Karena hakikat ilmu adalah apa yang tertanam dalam hati, lalu nampak pada lisan, berbuah amal dan melahirkan rasa takut dan takwa.

Ulama yang demikian itu tidak aan berbicara tentang Allah melainkan dengan ilmu. Jika ia khawatir tidak tahu maka ia diam, tidak membuat-buat kedustaan dalam agama Allah. Ia sadar bahwa berdusta terhadap Allah dan syariat-Nya itu dosanya lebih berbahaya daripada syirik kepada-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
“Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui".” (QS. Al-A’raf: 33)

Dalam ayat ini, Allah membuat urutan tingkatan dosa dari yang ringan sampai yang terberat. Kemudian Allah menjadikan dosa berkata terhadap Allah tanpa ilmu sebagai dosa terberatnya.

Jika demikian maka ulama Rabbani ini tidak akan membuat pembenaran atas kejahatan para pemimpin yang dholim. Tidak akan menggambarkan keberadaan para perusak di muka bumi tersebut sebagai orang-orang yang membuat perbaikan. Ia berkata tegas tentang kebenaran Islam dan lantang menjelaskan kebatilan isme-isme yang berlawanan dengannya, walaupun ia dianut oleh pemerintah dholim tersebut. Ia tak sungkan menyatakan demokrasi itu keliru, liberalisme dan pluralisme bertentangan dengan Islam, menentang hukum Allah itu kekufuran, dan lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox