Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 18 Oktober 2018

Bersatu, Melepas Sistem Ekonomi Ribawi!


Aji Salam
(Forum Ekonomi Indonesia)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memperingatkan umatnya akan fitnah harta yang akan menimpa mereka. Bukanlah kefakiran yang beliau takutkan, namun sebaliknya beliau justru khawatir jika fitnah harta duniawi menimpa umatnya sehingga melalaikan mereka dari urusan akhirat.  Tengoklah peringatan beliau tatkala mengucapkan;

"Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli darimana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau haram." (HR. Bukhari - Al Fath 4/296 nomor 2059; 4/313 nomor 2083)

Sistem ekonomi ribawiyah di segenap negara-negara dunia telah membentuk suatu jaringan yang saling bergantung secara sempurna. Masyarakat dunia melakukan transaksi dengan bank-bank ribawiyah; sistem perbankan ribawiyah di setiap negara melakukan transaksi dengan bank sentral negara tersebut maupun dengan institusi-institusi ribawiyah di luar negeri.

Bank sentral negara tersebut melakukan pinjam-meminjam dengan institusi-institusi ribawiyah internasional, semacam Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, maupun pinjaman antar-negara secara ribawiyah.

Di antara bentuk saling ketergantungan yang sangat intensif terlihat dari beroperasi bank-bank asing di suatu negara hingga ke sejumlah provinsi di negara tersebut, baik berupa bank dengan seratus persen modal asing maupun bank dalam bentuk usaha patungan dengan pengusaha lokal.
Di dalam keragaman bentuk saling ketergantungan ini terlihat dari bank-bank suatu negara melakukan bisnis reksadana dengan portofolio berupa saham, obligasi, dan berbagai mata dagangan lainnya dari negara-negara lainnya. Misalnya, sebuah bank di Italia menjual surat berharga pemerintah Argentina, sebuah bank di ibu kota provinsi di Indonesia menjual saham perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa saham New York, dan lain sebagainya.

Tampak bahwa hal itu semakin menyempurnakan saling ketergantungan dalam sistem ekonomi ribawiyah, sedang posisi Amerika dalam hal ini adalah sebagai penggerak sistem perekonomian dunia. Praktis pertumbuhan perekonomian dunia bergerak sesuai dengan kebijakan yang diambil Gubernur Bank Sentral Amerika.

Maka, ketika gempa moneter raksasa benar-benar terjadi dan meruntuhkan Amerika sebagai pilar penyangga jejaring sistem ekonomi ribawiyah-spekulatif global, segenap bentuk kekayaan yang tersangkut pada jejaring tersebut hingga ke pelosok bumi yang paling terpencil pun secara teknis akan ikut hancur tersapu gelombang tsunami moneter dengan suatu kehancuran yang sempurna! Hasil akhirnya adalah kemelaratan dan kehebohan luar biasa yang menghampiri segenap negeri di dunia tanpa terkecuali.

Dampak Negatif Bagi Masyarakat dan Perekonomian

(1) Riba menimbulkan permusuhan dan kebencian antar individu dan masyarakat serta menumbuhkembangkan fitnah dan terputusnya jalinan persaudaraan.

(2) Masyarakat yang berinteraksi dengan riba adalah masyarakat yang miskin, tidak memiliki rasa simpatik.
Mereka tidak akan saling tolong menolong dan membantu sesama manusia kecuali ada keinginan tertentu yang tersembunyi di balik bantuan yang mereka berikan. Masyarakat seperti ini tidak akan pernah merasakan kesejahteraan dan ketenangan. Bahkan kekacauan dan kesenjangan akan senantiasa terjadi di setiap saat.

(3) Perbuatan riba mengarahkan ekonomi ke arah yang menyimpang dan hal tersebut mengakibatkan ishraf (pemborosan).

(4) Riba mengakibatkan harta kaum muslimin berada dalam genggaman musuh dan hal ini salah satu musibah terbesar yang menimpa kaum muslimin. Karena, mereka telah menitipkan sebagian besar harta mereka kepada bank-bank ribawi yang terletak di berbagai negara kafir. Hal ini akan melunturkan dan menghilangkan sifat ulet dan kerajinan dari kaum muslimin serta membantu kaum kuffar atau pelaku riba dalam melemahkan kaum muslimin dan mengambil manfaat dari harta mereka.

(5) Tersebarnya riba merupakan "pernyataan tidak langsung" dari suatu kaum bahwa mereka berhak dan layak untuk mendapatkan adzab dari Allah ta'ala. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda;

"Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk diadzab oleh Allah." (HR. Al Hakim 2/37, beliau menshahihkannya dan disetujui oleh Adz Dzahabi. Syaikh Al Albani menghasankan hadits ini dalam Ghayatul Maram fii Takhrij Ahaditsil Halal wal Haram hal. 203 nomor 344)
(6) Riba merupakan perantara untuk menjajah negeri Islam, oleh karenanya terdapat pepatah;

"Penjajahan itu senantiasa berjalan mengikuti para pedagang dan tukang fitnah."

Kita pun telah mengetahui bagaimana riba dan dampak yang ditimbulkannya telah merajalela dan menguasai berbagai negeri kaum muslimin.
(7) Memakan riba merupakan sebab yang akan menghalangi suatu masyarakat dari berbagai kebaikan. Allah ta'ala berfirman;

"Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang lain dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih." (QS. An Nisaa': 160-161)

(8) Maraknya praktek riba sekaligus menunjukkan rendahnya rasa simpatik antara sesama muslim, sehingga seorang muslim yang sedang kesulitan dan membutuhkan lebih "rela" pergi ke lembaga keuangan ribawi karena sulit menemukan saudara seiman yang dapat membantunya.

(9) Maraknya praktek riba juga menunjukkan semakin tingginya gaya hidup konsumtif dan kapitalis di kalangan kaum muslimin, mengingat tidak sedikit kaum muslimin yang terjerat dengan hutang ribawi disebabkan menuruti hawa nafsu mereka untuk mendapatkan kebutuhan yang tidak mendesak.

Tinggalkan Riba!

Setelah memperhatikan berbagai dalil yang mengharamkan riba dan berbagai dampak negatif yang ditimbulkan olehnya, selayaknya kaum muslimin untuk menjauhi dan segera meninggalkan transaksi yang mempraktekkan riba. Bukankah keselamatan dan kesuksesan akan diperoleh ketika menaati Allah dan rasul-Nya. Ketahuilah tolok ukur kesuksesan bukan terletak pada kekayaan! Anggapan yang keliru semacam inilah yang mendorong manusia melakukan berbagai macam penyimpangan dalam agama demi mendapatkan kekayaan, walau itu diperoleh dengan praktek ribawi misalnya.

Bukankah telah cukup laknat Allah dan rasul-Nya sebagai peringatan bagi kaum muslimin? Tentu akal yang sehat dan fitrah yang lurus akan menggiring pemiliknya untuk menjauhi dan meninggalkan transaksi ribawi. Suatu keanehan jika ternyata di antara kaum muslimin yang mengetahui keharaman dan keburukan riba kemudian nekat menjerumuskan diri ke dalamnya demi memperoleh bagian dunia yang sedikit, renungilah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berikut;

"Satu dirham yang diperoleh oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dan buruk dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali." (HR. Ahmad 5/225. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani mengatakan, "Sanad hadits ini shahih berdasarkan syarat syaikhain." Lihat Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah 2/29 nomor 1033. Syaikh Syu'aib Al Arnauth berkata dalam catatan kaki Syarhus Sunnah karya Al Baghawi 2/55, "Shahihul Isnad."[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox