Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 31 Oktober 2018

Bangkit!


Ainun Dawaun Nufus (pengamat sospol)

An-nahdhah (kebangkitan) secara bahasa: Penulis kamus al-Muhīth berkata: Nahadha nahdh[an] wa nuhūdh[an] artinya qāma (bangkit, berdiri); nahadha an-nabtu: tumbuhan itu tegak lurus; dan anhadhahu: aqāmahu (mendirikannya). Penulis kamus Lisānul Arab berkata: an-nuhūdhu: berpindah dan beranjak dari tempat, sedang an-nahdhatu: al-thōqoh (energi)  dan al-quwah (kekuatan).

Analisis pengertian secara bahasa kata an-nahdhah (kebangkitan): Kami mencatat bahwa kata nahadha artinya qāma (bangkit, berdiri), dan berdiri itu tidak akan terjadi kecuali sebelumnya duduk. Kami juga memperhatikan pengertian an-nahdhah dalam kamus Lisānul Arab bahwa an-nuhūdhu artinya berpindah dan beranjak dari tempat ke tempat lain; serta kami memperhatikan dalam kamus Lisānul Arab bahwa an-nahdhatu artinya al-thōqoh (energi)  dan al-quwah (kekuatan). Pengertian an-nahdhah secara istilah: Secara istilah an-nahdhah (kebankitan) didefinisikan sebagai naiknya (berubahnya) perilaku manusia dari tingkat perilaku hewan.

Manusia tidak akan bangkit kecuali dengan apa yang ada padanya, yaitu akidah yang bersifat pemikiran, yang dari akidah tersebut pemikirannya muncul, kemudian denganya manusia membangun hubungan dirinya dengan alam di mana ia tinggal, dengan lainnya dalam kehidupan di mana ia hidup bersama mereka, dan dengan Tuhannya yang menciptakan alam semesta, manusia dan kehidupan, serta yang mewarisinya.

Bangsa yang bangkit adalah bangsa yang berkuasa atas kehendaknya, lalu membebaskan diri dari belenggu perbudakan, dan menyembah Tuhan umat manusia saja, sebab perbudakan hanya akan menghancurkan kepribadian manusia, dan menghapus metamorfosis kemanusiaannya. Bangsa yang tidak berkuasa atas kehendaknya, dan tidak membebaskan kehendak generasi berikutnya, tidak dapat bangkit dan tidak akan mencapai kebangkitan, sebab keputusannya tetap tergadaikan dan kehendaknya tetap tersandera.

Sekuat apapun sebuah rezim yang otoriter, korup, menindas rakyat dan durhaka kepada Allah SWT, meski telah dijaga dengan kekuatan senjata dan didukung oleh negara adidaya, cepat atau lambat pasti akan tumbang dan tersungkur secara tidak terhormat. Ini semu berkat kebangkitan dalam diri masyarakat.

Jatuhya Ben Ali, Mubarak, Qaddafi dan mungkin segera menyusul penguasa Syria, dan penguasa Yaman, Ali Abdullah Saleh, serta penguasa lalim di negara lain, adalah bukti nyata. Kenyataan ini semestinya memberikan peringatan kepada penguasa dimanapun untuk menjalankan kekuasaannya dengan benar, penuh amanah demi tegaknya kebenaran, bukan demi memperturutkan nafsu serakah kekuasaan dan kesetiaan pada negara penjajah. Pembuatan peraturan perundang-undangan yang bakal membungkam aspirasi rakyat, mungkin sesaat akan berjalan efektif, tapi cepat atau lambat itu semua justru akan memukul balik penguasa itu sendiri.

Karena walau bagaimanapun, penduduk Indonesia ini masyoritas Muslim, sehingga wajar mereka ingin Islam yang berkuasa. Meraih kebangkitan bukanlah perkara mudah, tapi tidaklah mustahil untuk diwujudkan. Indonesia memang memerlukan bukti-bukti historis, empiris dan filosofis untuk mengambil metode kebangkitannya sendiri. Indonesia juga perlu mempertimbangkan kebangkitan model apa yang akan di capai, apakah kebangkitan model Eropa atau Islam.

Nampaknya, kita sebagai bangsa yang besar ini, diingatkan peristiwa sejarah, bahwa satu-satunya peradaban yang cocok untuk diambil model atau tipe kebangkitannya, adalah peradaban Islam. Mengapa harus peradaban Islam, jawabannya cukup mudah, karena semua model solusi bagi segala krisis sudah pernah digunakan, seperti solusi sosialime-komunisme, sekarang sekular-kapitalisme, akan tetapi fakta membuktikan semua solusi tersebut tidak pernah berhasil mengatasi krisis multi dimensi negeri Indonesia. Akhirnya, tinggal peradaban Islam-lah yang akan menjadi satu-satunya (harapan) model kebangkitan.

Umat Islam dulu memperoleh kejayaan selama berabad-abad, taraf berpikir mereka begitu tinggi. Ketinggian taraf berpikir kaum Muslim dulu bisa kita lihat dari infrastruktur yang mereka hasilkan, seperti gedung, observatorium, termasuk sains dan teknologi pada zaman itu (Fahmi Amhar, Bukti-bukti Historis Kemajuan Peradaban Islam, 2005).

Langkah praktis kebangkitan, adalah menggunakan kembali metode berpikir produktif yang telah diwariskan oleh Islam, yakni, menggunakan khazanah keilmuan Islam yang kita miliki untuk menghukumi fakta yang kita hadapi. Dengan melakukan proses tersebut secara berulang-ulang, maka metode berpikir produktif tersebut akan terbentuk di dalam diri kita. Jika ini dimiliki oleh umat maka umat pun pasti akan mampu menyelesaikan problem yang mereka hadapi. Jadi, kuncinya memang terletak pada metode berpikir produktif mereka. Bukan yang lain. (Hafidz Abdurrahman, Membangkitkan Taraf Berpikir Umat, 2004).
Umat hari ini tampak lebih optimis, Islam pasti mampu menjadi sarana kebangkitan bangsa ini, tentu dengan syarat, mempercayai Islam sebagai sebuah sistem hidup sembari menerapkannya dalam seluruh aspek kehidupan seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., dan para sahabat beliau.

“Tak akan tersisa di muka bumi satu rumah di kota dan kampung, kecuali Allah memasukkan ajaran Islam ke dalamnya dengan kemuliaan yang dimuliakan, atau kehinaan yang dihinakan; Allah memuliakan mereka, sehingga mereka menjadi ahlinya, atau mereka dihinakan, sehingga mereka tidak memeluknya.” (HR. Ahmad VI/6; al-Hakim IV/476; Ibn Hibban XV/93; al-Baihaqi IX/181)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox