Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 11 Oktober 2018

Astaghfirullah… Komunitas ‘Maksiat’ Itu Go Public…



Lalang Darma Bakti
(Pengamat  Media)

Miris atas munculnya grup lelaki penyuka sesama jenis atau gay di media sosial Facebook. Apalagi, membernya pelajar SMP/SMA asal Kabupaten Garut. Sebelumnya fenomena ini ramai dibicarakan warga Garut, yakni kaum sesuka sesama jenis laki-laki yang sudah berani membuat grup di media sosial Facebook bernama "Gay Garut-Indonesia". Hal ini menunjukkan perilaku menyimpang gay Garut juga sudah 'go public', artinya mereka berani unjuk eksistensi. Apalagi, anggota dalam grup Facebook itu, dikabarkan jumlahnya sudah mencapai 2.600 orang.

Peristiwa tersebut menghebohkan setelah jagat kriminalitas di Indonesia dihebohkan dengan penggrebekan 51 gay di Spa Harmoni Jakarta Pusat pada Mei 2017 tahun lalu, ratusan pasangan gay di kelapa Gading Jakarta Utara juga ketangkap basah, tengah menggelar pesta maksiat. Seperti fenomena gunung es, kasus gay sesungguhnya lebih banyak lagi yang belum terungkap. Fenomena yang sesungguhnya menjijikkan di negeri Muslim terbesar di dunia ini.

Pengaruh eksternal yang begitu besar, tidak bisa disanggah. Meski kalangan pro-kemaksiatan mati-matian berpendapat faktor gen-lah yang lebih berperan. Ibarat kanker, semakin banyak sel-sel kanker yang tumbuh di beragam organ, akan mempercepat digerogotinya tubuh oleh penyakit ganas tersebut. Maraknya kasus, menunjukkan komunitas gay sudah eksis dimana-mana. Tidak hanya kalangan menengah atas, tapi juga menyasar kalangan bawah.

Ide kebebasan dan HAM yang digunakan sebagai pembenaran perilaku seks menyimpang, termasuk perilaku LGBT, adalah ide yang bertentangan dengan Islam. Dalam Islam, manusia harus senantiasa terikat dengan syariah Islam. Allah SWT menjelaskan bahwa tujuan penciptaan laki-laki dan perempuan adalah untuk kelangsungan jenis manusia dengan segala martabat kemanusiaannya (QS an-Nisa [4]: 1). Karena itu, hubungan seksualitas yang dibenarkan dalam Islam hanyalah yang ada dalam ikatan pernikahan yang sah secara syar’i. Semua hubungan seksualitas di luar ikatan pernikahan adalah ilegal dan menyimpang. Lesbian, homoseksual, anal seks, perzinahan, semuanya adalah perilaku seks yang menyimpang; tidak bisa dipandang sebagai sesuatu yang normal.

Gay dengan perilaku sodomi, sudah melakukan perbuatan nista yang terkategori dosa besar. Sanksinya tidak main-main. Dibunuh, oleh penguasa yang menjalankan syariah. “Siapa menjumpai orang yang melakukan perbuatan homo seperti kelakuan kaum Luth maka bunuhlah pelaku dan objeknya!” (HR. Ahmad 2784, Abu Daud 4462).

Siapa yang tidak jera dengan hukuman ini? Namun jika ia belum sampai melakukan sodomi, syariah akan mendorong pelakunya untuk menjauhi perilaku terlaknat ini dan segera bertaubat karena dorongan iman.

Ibnul Al-Qayyim rahimahullah berkata, “Jika pelaku homoseks bertaubat dengan sebenar-benarnya (taubat nasuha) dan beramal shaleh kemudian mengganti kejelekan-kejelekannya dengan kebaikan, membersihkan berbagai dosanya dengan berbagai kataatan dan taqarrub kepada Allah, menjaga pandangan dan kemaluannya dari hal-hal yang haram, dan tulus dalam amal ibadahnya, maka dosanya diampuni dan termasuk ahli surga. Karena Allah mengampuni semua dosa. Apabila taubat saja bisa menghapus dosa syirik, kufur, membunuh para nabi, sihir, maka taubat pelaku homosek juga bisa menghapuskan dosa-dosa mereka".

Karena itu ide LGBT tidak boleh tersebar di masyarakat. Siapa saja yang menyebarkan, mendukung dan membenarkan ide LGBT jelas berdosa dan layak dikenai sanksi sesuai ketentuan syariah. Negara dalam Islam harus membersihkan dan menjaga masyarakat dari ide LGBT. Islam menilai homoseksual sebagai dosa dan kejahatan besar. Islam menetapkan sanksi hukum yang berat terhadap pelakunya. Siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth dan terbukti dengan pembuktian yang syar’i maka pelaku dan pasangannya dijatuhi hukuman mati, tentu selama itu dilakukan suka rela, bukan karena dipaksa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox