Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 05 Oktober 2018

1 DOLLAR 15 RB, BU SRI MULYANI, DAN SEKULARISME ITALIA



Oleh : Muhammad Alauddin Azzam (Pegiat Literasi)


Sekitar abad 15/16 M, pergolakan pemikiran (shiraa'ul fikri) di tanah eropa sudah semakin memanas. Kalau kita coba refresh ingatan kita masa itu, terjadi pergolakan pemikiran yang digerakkan oleh Galileo, Copernicus, dan para generasi intelektual untuk memunculkan ide-ide masa Yunani dan Romawi Kuno. Singkat cerita, pergolakan yang begitu meletup-letup itu masuk dalam titik fokusnya, nuqthatul-irtikaz-nya yang berlabuh di Florence, Italia.

Bicara Italia, bicara awal mula Renaisans. Renaisans intinya mengembalikan pencerahan melalui pendalaman pemikiran-pemikiran Yunani dan Romawi Kuno. Salah satu pemikir dan politisi Renaisans di Florence, Italia adalah Niccollo Machiavelli dengan karya fenomenal-nya, The Prince.

Masih bicara Italia. Negeri ini memang layak menjadi influencer kepada negeri-negeri eropa lainnya sehingga memunculkan inspirasi bagi intelektual lain seperti Adam Smith, Thomas Jefferson, John Locke, Montesquie, dan sebagainya untuk muncul ke permukaan. Sekali lagi, Italia memang layak menjadi influencer, pemberi pengaruh. Karenanya, layak sekali bila Italia juga bisa disebut sebagai pusat dari ide sekularisme itu sendiri. Sekularisme yakni ide pemisahan agama dari kehidupan.

Karena itu, menggelikan, sangat menggelikan. Disalahkannya Italia dalam gonjang ganjing rupiah terhadap dollar yang kini tembus 15 ribu lebih agaknya menjadi argumen yang menggelikan. Sebab, Bu Sri Mulyani (SM) hanya berkutat pada kritik kepada Italia lalu menegasikan penggunaan teori dan kebijakan publik ekonomi liberal selama ini yang asal muasalnya berasal dari sintesis sekularisme.

Mustinya, Bu SM juga keluar dari lingkaran setan (evil cycle) ekonomi yang berlandaskam sekularisme itu. Kritiklah idealisme yang menyejarah di Italia itu. Bukan kah public policy, kebijakan publik ekonomi hari ini berlandaskan sekularisme yang dipelopori oleh Italia sedangkan Bu SM hanya menyalahkan negeri-negeri sono an sich ?

Sekali lagi, kritislah dalam setiap kritikan dalam kebijakan-kebijakan ekonomi khususnya pada ekonomi makro. Ekonomi mikro dan makro kita memang berantakan. Sebabnya adalah penggunaan sistem ekonomi liberal bahkan neoliberal hari ini.

Maka, marilah tingkatkan daya dan nalar kritis kita dalam setiap penerapan kebijakan-kebijakan ekonomi di negeri ini. Rupiah goyah, fundamental kita sejatinya terjarah.


04/10/18

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox