Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Minggu, 09 September 2018

Siapa Bermain Api?


Ahmad Rizal (Dir. IJM)

Arus opini serta tudingan intoleran hari ini di jagad media sosial  mengarah kepada pemerintahan Jokowi. Aparat dianggap berpihak kepada pendukung Joko Widodo. Hal ini ia nyatakan ketika menyaksikan adanya perlakuan yang kurang pantas ke ibu-ibu atau wanita di Jawa Timur dan Riau beberapa waktu lalu. Adanya tudingan persekusi emak-emak di Pekanbaru, Riau dan Jawa Timur dianggap keberpihakan aparat pada pro pendukung Presiden Jokowi, ini jelas abuse of power yang semakin mendegradasi popularitas Presiden Jokowi. Sehingga jargon Indonesia Negara yang beradab taat hukum dipertanyakan.

Fakta kekecewaan masyarakat terhadap rezim adalah fenomena komplek yang lahir dari beragam faktor yang juga komplek. Ada faktor domestik seperti kesenjangan ekonomi (kemiskinan), ketidakadilan, marginalisasi, kondisi politik dan pemerintahan, sikap represif rezim yang berkuasa, kondisi sosial yang sakit, dan faktor lain yang melekat dalam karakter kelompok dan budaya. Ada faktor internasional seperti ketidak-adilan global, politik luar negeri yang arogan dari negera-negara kapitalis (AS), imperialisme fisik dan non fisik dari negara adidaya di dunia Islam, standar ganda dari negara superpower, dan sebuah potret tata hubungan dunia yang tidak berkembang sebagaimana mestinya (unipolar).

Selain itu adanya realitas kultural terkait substansi atau simbolik dengan teks-teks ajaran agama yang dalam interpretasinya cukup variatif. Ketiga faktor tersebut kemudian bertemu dengan faktor-faktor situasional yang sering tidak dapat dikontrol dan diprediksi, akhirnya menjadi titik stimulan lahirnya aksi kekerasan ataupun terorisme.

Dalam kondisi yang demikian, maka kita harus mempunyai kaca mata yang jernih dalam memandang berbagai peristiwa ketidakadilan khususnya kepada segmen umat Islam yang ingi bangkit dengan politik Islamnya. Apalagi tidak berimbangnya pemberitaan media. Sehingga peran aktif dan berkeadilan dari pemerintah sangat dibutuhkan. Ketimpangan penanganan akan menambah semakin berputar - putarnya lingkaran setan kezaliman.

Rasa ketidakadilan dari salah satu pihak, disertai aroma adu domba dapat melahirkan perlawanan politik dan hukum. Dan kita sudah sering mendengar dan melihat fakta saling tuduh, saling tuding tanpa penyelesaian yang tegas dan komprehensif dari pemerintah. Dibumbui stigma intoleransi oleh oknum pendukung pemerintah terhadap siapapun yang menjadi lawan politiknya, sehingga rasa saling curiga, kebencian dan fanatisme golongan telah tersemai antar anak bangsa. Kita bisa membayangkan, generasi kita ke depan adalah generasi yang penuh penyakit hati. Lalu akankah kita berharap mereka bisa hidup berdampingan dalam membangun negeri?

Sangat berbahaya memberikan stigma intoleransi dan anti NKRI kepada segmen besar umat Islam yang rindu keadilan, menolak rezim liberal.  Alih-alih meredamkam suasana, Jika tudingan jahat digencarkan terus menerus, yang terjadi bisa memunculkan persoalan baru.  Satu dua kali dicap dengan sebutan tertentu mungkin masih menahan diri. Tapi berkali-kali diberikan cap buruk, lama-lama umat Islam yang mayoritas tentu saja kan melakukan perlawanan. Hal ini saya kira juga berlaku bagi media apapun di tanah air.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox