Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 08 September 2018

Serangan Dolar Semakin Gencar, Bisakah Indonesia Selamat?



Oleh : Septa Yunis
 (Staf Khusus Muslimah Voice)

Rupiah kembali menunjukkan keterpurukannya atas dolar yang semakin menggila. Rupiah merosot melewati batas ambang psikologis. Dilansir dari Tribunnews.com (5/9/2018) Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) telah menembus angka Rp 15.029, pada Selasa (4/9/2018) malam.  Seperti dikutip TribunWow.com dari laman Kursdollar.net, hingga pukul 19.20 WIB, nilai tukar rupiah kini mencapai Rp 15.029 per dolar AS. Sebelumnya, pada penutupan perdagangan kemarin, Senin (3/9/2018), menurut Bloomberg, Rupiah melemah ke posisi Rp 14.815 per Dolar AS.

Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara menilai tekanan krisis Turki dan Argentina yang merembet ke negara berkembang menimbulkan kekhawatiran para pelaku pasar global. Hal itu terlihat dari melemahnya nilai tukar rupiah. Menurut Bhima, hal itu belum lagi diperparah dengan adanya rencana kenaikan suku bunga The Fed pada akhir September ini.
“Akibatnya investor menghindari risiko dengan membeli aset berdenominasi dolar. Indikatornya US dollar index naik 0,13 persen ke level 95,2. Dollar index merupakan perbandingan kurs dollar AS dengan 6 mata uang lainnya,” kata Bhima kepada Tribunnews.com, Selasa (4/9/2018).

Dengan tak berharganya rupiah terhadap dolar saat ini bukan tidak mungkin Indonesia akan mengulangi krisis moneter seperti tahun 1998. Jika ini terjadi rakyatlah yang akan terkena dampak dari krisis tersebut. Biaya hidup melambung tinggi, pabrik-pabrik terpaksa gulung tikar akibatnya PHK terpaksa dilakukan yang berujung meningkatnya angka pengangguran dan kriminal semakin meningkat.

Jebloknya rupiah saat ini akibat tingginya permintaan dolar AS untuk kebutuhan impor, yang paling tinggi dan menyebabkan defisit adalah impor migas. Menurut mantan Menteri Keuangan di pemerintahan Presiden SBY, Chatib Basri, saat ini yang menjadi perhatian utama adalah Current Account Deficit (CAD), selain itu salah satu sumber deficit yang besar adalah dari minyak bumi. Dengan demikian, pemerintah akan mengambil kebijakan dengan menaikkan harga BBM. Kenaikan BBM ini diharapkan akan membawa dampak ke CAD dalam 6 bulan ke depan. Jika kenaikan BBM ini benar terjadi, maka lagi-lagi rakyatlah yang akan merasakan dampaknya.

Selain faktor di atas, menurut anggota komisi IX DPR, Heri Gunawan tekanan dolar terhadap rupiah saat ini akibat penerapan kebijakan ekonomi yang salah. ekonomi Indonesia saat ini mengalami defisit ganda. Di mana defist Analytics berjalan mencapai US $ 8 miliar hingga bulan Juli 2018. Sementara hutang telah mencapai 34% dari PDB. Berdasarkan catatannya, Nilai tukar rupiah mengalami penurunan sebesar 8,7% sejak awal tahun 2018. sedangkan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga sebesar 125 basis poin sejak bulan Mei. Kemudian, intervensi BI juga berdampak pada cadangan devisa yang turun sebesar 10,5% menjadi US $ 111,9 miliar. BI sendiri telah membeli obligasi pemerintah sebesar Rp 80 triliun pada tahun lalu untuk menurunkan hasil 10 tahun yang telah mencapai 8,094%.

Dengan demikian, beban utang luar negeri semakin berat. Setiap naik Rp100 per dolar AS, total stok utang luar negeri meningkat Rp10,9 triliun. Nilai Tunai akan mempengaruhi pembayaran kewajiban, yaitu membayar pokok dan bunga Utang. Dalam perincian DJPPR, pada 2018 utang jatuh tempo mencapai Rp 394 triliun dan di tahun depan sekitar Rp 420 triliun. Dengan begitu, jumlah beban pokok dan bunga sebesar Rp814 triliun.

Untuk menutupi utang luar negeri tersebut bukan tidak mungkin pemerintah akan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang akan menyengsarakan rakyat, rakyat diperas habis-habisan melalui pajak. Selain itu aset negara tak luput dari incaran pemerintah untuk menutupi utang luar negeri. Sampai saat ini sudah banyak aset negara yang dikuasai oleh asing dan aseng. Dengan dikuasainya aset negara oleh asing maka tidak lama lagi Indonesia hanya tinggal nama dalam kenangan. Pemerintah yang seharusnya ngopeni rakyat malah memanfaatkan rakyat, dimana tanggung jawab pemerintah? Sudah saatnya kita melek dengan keadaan, jebloknya rupiah sangat berdampak bagi kelangsungan Indonesia, namun pemerintah seakan abai dengan kondisi saat ini. Inilah ciri pemerintahan yang abai dengan amanahnya. Masihkah dipertahankan pemerintahan dengan sistem yang diterapkan seperti saat ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox