Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 06 September 2018

Segera Reformasi IMF


Daniel Mohammad Rosyid

Saat Rupiah makin melemah terhadap US Dollar hari-hari ini kita perlu sungguh-sungguh memeriksa praktek pengelolaan  keuangan kita. Bukan untuk kepentingan politik sesaat, tapi untuk kebaikan rakyat dan negeri ini di masa depan yang lebih panjang. Untuk mengihtiyarkan kepastian eksistensi Republik Indonesia 2045 saat kita merayakan 100 tahun kemerdekaannya.

Sun Tzu mengatakan bahwa bisnis adalah perang, dan perang untuk menjajah adalah bisnis yang paling menguntungkan. Namun perang tidak perlu dilakukan secara terbuka dengan membawa pasukan tempur dan tank. Cukup dilakukan secara _remotely controlled_ : melalui institusi-institusi dan perjanjian-perjanjian antara mantan tuan dan _inlander_.

Pemerintah kerdil mencari kambing hitam di antara rakyatnya sendiri.  Ia hanya berani membubarkan organisasi massa tertentu dengan tuduhan melawan Pancasila, tapi tidak berani melawan International Monetary Fund (IMF) yang membegal Pancasila sejak awal negeri ini diproklamasikan Bung Karno dan Bung Hatta.

Sistem keuangan global saat ini nekolimik karena melanggengkan perampokan besar-besaran kekayaan sumberdaya alam kita dan negara-negara berkembang lainnya di se antero planet ini.  Pemerintah dan para ekonom tahu tapi mereka tidak punya nyali -kalau bukan pengecut atau bahkan pengkhianat konstitusi- karena kenyang dengan sogokan fasilitas dan duit. Charles de Gaulle mundur sebagai Presiden Perancis, Bung Karno dijatuhkan dan John Kennedy dibunuh.

Adalah IMF yang melegalkan sistem keuangan global ribawi ini untuk keuntungan segelintir _elite super rich_ di negara-negara kaya terutama AS : sistem bank sentral, _fractional reserve banking_ dan uang kertas. Bunga pinjaman hanya bagian kecil dari sistem keuangan global ribawi ini. Ketimpangan sosial ekonomi makin serius di tingkat global, regional hingga lokal : yang kaya makin kaya, yang miskin tambah miskin.

Sejak 1971, Richard Nixon menyatakan melepas janjinya untuk mengaitkan pencetakan USDollar dengan emas. Artinya, Bank Sentral AS atau _the Fed_ bisa mencetak uang kapan saja _out of nothing_ hingga detik ini. Langkah ini dengan bodoh ditiru oleh negara-negara lain. Lalu terbentuklah pasar uang kertas ( _fiat money_) : uang boleh diperdagangkan seperti pisang goreng. Tidak ada kesesatan -jika bukan kejahatan- ekonomi yang lebih besar dari ini. Namun oleh para ekonom dibiarkan saja hingga saat ini.

Uang kertas USDollar kuat karena oleh Henry Kissinger di awal 1970an dikaitkan dengan transaksi minyak dan gas atas  kesepakatan dengan Raja Faisal dari Arab Saudi sehingga disebut PetroDollar. Upaya-upaya transaksi minyak dan gas bukan dengan USD selalu dipersulit; kalau perlu pemimpin yang berani melakukannya disingkirkan seperti Moammar Khaddafi ataupun Saddam Husein. Saat ini Vladimir Putin Russia dan Xi Jin Ping China sedang memperbesar transaksi-transaksi non-USD.

Banyak Pemerintah boneka pura-pura tidak tahu bahwa penjajahan dilakukan melalui mekanisme hutang internasional yang diorkestrasikan oleh IMF. Thomas Jefferson sudah lama  bahwa perbankan melalui pinjaman berbunga lebih berbahaya daripada pasukan yang siap tempur untuk merampas kemerdekaan kita. Hutang Pemerintah saat ini sudah mencapai Rp. 5000T lebih  (hampir separuh PDB kita) sementara hutang swasta sedikit lebih kecil. Kita harus berani untuk segera menegosiasikan hutang ini agar kita hanya membayar pokoknya saja lalu segera menghentikan kebiasaan berhutang.

Untuk sungguh-sungguh merdeka dan berdaulat dengan Pancasila, kita harus mendesak PBB untuk menghentikan praktek nekolim ini atau keluar dari PBB dan menyatakan tidak terikat lagi atas perjanjian-perjanjian perdagangan internasional nekolimik yang memiskinkan banyak negara berkembang dan rakyat di manapun mereka hidup di planet ini. Kita harus tinggalkan sistem uang kertas dan kembali ke sistem uang emas tunggal yang berlaku di seluruh dunia, dan membuka peluang barter secara lebih luas. Sistem uang tunggal yang memiliki nilai intrinsik akan lebih adil dan menyejahterakan bagi rakyat kecil seperti petani dan nelayan di manapun.

Gunung Anyar, 6/9/2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox