Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 10 September 2018

Salut Pada Gus Nur yang Tegas dan Ceplas-Ceplos Itu…


Mahfud Abdullah
(Indonesia Change)

Gus Nur, awalnya kita mengenal tampilannya dari medsos.  Kini tausiyahnya berpengaruh dan diperhitungkan, logatnya tidak lazim dari da’i biasa atau orang kebanyakan, ungkapannya ceplas-ceplos tegas kadang sarkas. Bisa jadi membuat yang disindir tersinggung dan ketar-ketir. Gus Nur satu dari banyak sosok da’i yang tak gentar karena membela yang benar. Ceramahnya yang tegas ditolak sebagian elemen masyarakat, rawan dilarang dan dicekal.

Gus Nur, tokoh Islam  yang hadir di acara Reuni Akbar 212 hingga hari ini masih aktif melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dengan gayanya. Dan ini tak sunyi dari penolakan. Ujian terbaru Gus Nur dilaporkan oleh pihak yang merasa dirugikan karena diduga melakukan tindak pidana pencemaran nama baik, menyebarkan informasi yang menimbulkan kebencian, sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3) dan Pasal 45-A ayat (2) UU No. 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU No. 11 tahun 2008 tentang I.T.E.

Gus Nur dipermasalahkan di tengah suasana panas tahun politik. Sebelumnya ada banyak penolakan, pelarangan, pencekalan atau pembubaran atas pengajian yang menyampaikan ajaran agama Islam kepada beberapa mubaligh kondang seperti UAS dan Ust Felix Siauw. Namun keduanya hingga sekarang terus berdakwah, karena dakwah itu menyampaikan kebenaran yang justru menyelamatkan masyarakat atau Negara dari berbagai kemungkaran.

Gus Nur memaknai perannya di dunia media sosial sebagai bagian dari jihad amar ma’ruf nahi munkar yang merupakan pokok diin dan kewajiban setiap individu (fardhu ‘ain), sebagaimana pendapat Ibnu ‘Arabi.
Amar Nahi munkar adalah salh satu pokok di antara pokok-pokok Ad Dien, salah satu tiang di antara tiang utama penyangga kaum muslimin dan khilafah Rabbil alamin serta tujuan terbesar dari diutusnya para Rasul. Hukumnya adalah fardhu ‘ain atas setiap manusia baik berdua, bertiga maupun sendirian sesuai kemampuan masing-masing. (Aridhotul Ahwadzy 9/31).

Apa yang dikerjakan oleh Gus nUr adalah contoh aktivitas muhasabah lil hukam. Dan umat Islam meyakini bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar termasuk bagian dari syiar Islam yang paling agung dan sarana paling ampuh untuk menjaga dien dan memelihara kehormatannya. Kewajiban ini sesuai dengan kemampuan dan tuntutan mashlahat yang lebih besar.

Allah Ta’ala berfirman,
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

Allah mewajibkan kepada sekelompok umat untuk menekuni ini, walaupun setiap pribadi dari umat ini wajib melaksanakannya sesuai kemampuan. Allah Ta’ala berfirman,
 “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110)

Ayat ini bersifat umum, mencakup semua umat pada setiap kurun sesuai dengan kemampuannya. Kurun terbaik adalah kurun di mana Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam diutus. Dan dasar kebaikan mereka karena melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar serta beriman kepada Allah. Merekalah umat terbaik. Mereka adalah manusia yang paling bermanfaat bagi menusia yang lain. Mereka mendatangi suatu kaum dengan merantai leher-leher mereka sehingga akhirnya masuk Islam.

Allah mengabarkan bahwa meninggalkan kewajiban ini menyebabkan turunnya laknat melalui lisan para Nabi. Allah Ta’ala berfirman,
 “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah: 78-79)

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam mengabarkan bahwa tugas kewajiban ini sesuai dengan kelapangan dan kemampuan. Beliau bersabda,
“Siapa diantara kalian melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya (mencegahnya) kengan tangannya (kekuasannya), jika dia tidak sanggup, maka dengan lisannya (menasihatinya), dan jika tidak sanggup juga, maka dengan hatinya(merasa tidak senang dan tidak setuju), dan demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam juga menjelaskan bahwa melakukan hisbah (pengingkaran) atas kedzaliman termasuk bentuk loyalitas dan memeranginya atas perintah Allah menjadi pertanda adanya iman. Sedangkan bentuk pengingkaran di bawah itu adalah dengan hati. Dan jika hati tidak mengingkari maka tidak ada keimanan sesudahnya walaupun sekecil biji sawi.

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
“Tidak seorangpun Nabi sebelumku yang Allah utus kepada suatu umat kecuali dia memiliki hawari (pembela) dan para sahabat yang senantiasa mengikikuti sunnahnya dan melaksanakan perintahnya. Kemudian datang generasi sesudah mereka yang mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan dan melaksanakan apa yang tidak diperintahkan. Maka barangsiapa yang memerangi mereka dengan tangannya maka dia seorang mukmin. Siapa yang memerangi mereka dengan lisannya, dia seorang mukmin. Dan barangsiapa yang memerangi mereka dengan hatinya, maka dia seorang mukmin. Dan sesudah itu tidak ada keimanan walau sekecil biji sawi.” (HR. Muslim)

Biasanya, melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar tidak lepas dari gangguan. Karenanya, Allah menasihatkan kesabaran kepada para hamba-Nya dalam mengemban tugas memerintah dan melarang tersebut. Allah Ta’ala mengabarkan tentang nasihat Luqman kepada anaknya,
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox