Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 08 September 2018

Panji Islam Semakin Dikenal, Bukan Simbol Radikal



Oleh : Firdaus Bayu (Pusat Kajian Multidimensi).

Sejak negara besar umat Islam atau yang lebih dikenal dengan Khilafah Islamiyah runtuh dan resmi berakhir pada 1924 atas konspirasi licik seorang Mustafa Kemal Pasha kala itu, umat Islam terpecah belah di lebih dari 50 negara. Mereka tidak lagi ada di satu kepemimpinan dan panji kebanggannya. Masing-masing negara kecil itu menyibukkan diri dengan berbagai persoalan ekonomi dan politik nasional hingga tak jarang satu sama lain bertemu dalam konflik sesama saudara karena perselisihan yang ada. Kondisi itu merupakan akibat dari manuver jahat negara-negara imperialis barat demi melancarkan keberlanjutan perpecahan di tubuh umat Islam.

Di masing-masing negara kecil itu kemudian terbit rasa bangga berbangsa mandiri dan benar-benar menjiwai semangat nasionalisme, hingga umat Islam lupa terhadap saudara asal mereka yang dahulu pernah hidup di bawah bendera yang sama, yaitu panji Islam. Kini negeri-negeri kaum muslimin hidup di bawah bendera nasionalismenya masing-masing dan perlahan lupa atas panji keimanannya sendiri. Bahkan di kalangan generasi baru mereka, para pemuda muslim yang terlahir puluhan tahun setelah kehancuran Khilafah Islamiyah, banyak yang tak pernah tahu bahwa mereka memiliki panji Islam.

Panji Islam itu ada dua. Yang satu berwarna putih, dan yang lain berwarna hitam. Di dalamnya tertulis kalimat tauhid Laa Ilaaha Illa Allah Muhammadarrasulullah (dalam lafal Arab), yang bermakna “Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah”. Kalimat tersebut merupakan kalimat syahadat yang wajib diucapkan oleh umat Islam dan siapa saja yang hendak berhijrah memeluk Islam. Panji yang berwarna putih disebut al-Liwa, sedangkan yang berwarna hitam ialah ar-Raya. Al liwa merupakan simbol kenegaraan dan dipasang di istana Khalifah (pemimpin dalam negara Islam), sementara ar-Raya biasa dikibarkan oleh para pasukan perang saat mereka berjihad memerangi musuh. Panji tersebut ternyata pernah memiliki hubungan dengan nusantara di masa lampau, meski dengan variasi fisik yang sedikit berbeda. Dalam sambutan acara pembukaan kongres umat Islam Indonesia VI di Yogyakarta 2015 lalu, Sri Sultan Hamengku Buwono menyampaikan bahwa pada tahun 1479, Sultan Turki mengukuhkan Raden Patah sebagai Khalifatullah ing tanah Jawa, perwakilan kekhalifahan Islam (Turki) untuk tanah Jawa, dengan menyerahkan bendera laa ilaaha illa Allah berwarna ungu kehitaman terbuat dari kain kiswah Ka’bah, dan bendera bertuliskan Muhammadarrasulullah berwarna hijau. Hingga kini, duplikatnya tersimpan di Kraton Yogyakarta sebagai pusaka. Penjelasan tersebut sekaligus menjadi penanda bahwa hubungan antara nusantara dan Khilafah Islamiyah dahulu bukanlah ahistoris.

Ternyata, kini kesadaran umat Islam telah bangkit untuk bersatu dan mereka tampak kompak memperjuangkan kembali kemerdekaannya seperti dahulu. Dan dalam dakwahnya, umat Islam seringkali membawa panji-panji mereka, baik yang hitam maupun yang putih. Tampak dalam setiap aksi umat Islam hari ini kibaran al-Liwa dan ar-Raya terbentang dimana-mana. Bahkan dalam aksi-aksi besar umat Islam seperti 411 dan 212, ar-Raya terbentang gagah dalam ukuran raksasa, dirasakan setiap orang, diliput dalam pemberitaan media, dan dikenal lebih luas oleh masyarakat. Hal itu menjadi sarana edukasi perkenalan panji Islam terhadap kaum muslimin dan bahkan kafirin. Jika sebelumnya ar-Raya dan al-Liwa seringkali diidentikkan dengan Hizbut Tahrir, maka kini hampir setiap umat Islam telah tahu dan turut bangga mengibarkannya. Meski sempat dikriminalisasi, namun ternyata al-Liwa dan ar-Raya semakin luas berkibar dan menempati hati-hati umat Islam di negeri ini. Semoga persatuan umat Islam senantiasa menggelora hingga mereka berhasil menggapai asa dalam mewujudkan kemenangan hakikinya. Kini, masihkah Anda berani menuduhnya sebagai bendera radikal yang berbahaya dan pantas dicegah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox