Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Minggu, 09 September 2018

Krisis Turki: Permainan Politik Dollar Amerika!


Umar Syarifudin
 (pengamat politik Internasional)

Krisis mata uang Turki ditandai jatuhnya mata uang lira Turki dalam beberapa minggu terakhir telah menggoyang pasar keuangan global, dipastikan mempengaruhi permintaan minyak. Kekhawatiran krisis mata uang Turki menyebar ke pasar negara berkembang lainnya telah dorong kekhawatiran sisi permintaan.

Kendati sebgai Negara penyumbang sekitar 1 persen pada perekonomian dunia dan eksposur global terhadap sektor perbankan Turki juga sangat kecil. Namun, perkembangan di Turki telah memicu ketegangan lebih besar pada saat yang sama ketika investor telah ketar-ketir karena meningkatnya ketegangan perdagangan, kenaikan suku bunga AS, dan outlook ekonomi China yang melambat.

Krisis mata uang Turki meningkatkan sentimen-kekhawatiran terhadap negara-negara berkembang yang lebih rentan dan memiliki defisit transaksi berjalan seperti Turki, contohnya Brazil, Afrika Selatan, dan Argentina. Turki terkena dampak kebijakan ekstrem AS akibat krisis besar di tahun 2008. Saat itu The Fed, bersama dengan bank-bank sentral lainnya, mengambil peran dominan dalam menstabilkan krisis keuangan global dengan membanjiri pasar keuangan dengan dolar AS dan pinjaman besar AS di seluruh dunia.

Selanjutnya negara-negara berkembang dapat dengan mudah meminjam dolar Amerika dengan tingkat bunga 0-0,25 persen. Hingga 2014, neraca keuangan meningkat empat kali lipat menjadi 4,5 triliun dolar. Pada 2017, perusahaan mulai melakukan normalisasi neraca keuangannya dengan menarik kembali dolar Amerika dari pasar keuangan dan menaikkan suku bunga. Ini memiliki efek langsung pada devaluasi mata uang lokal dan pada dolar AS yang dipinjam yang sekarang berlipat ganda dan menjadi hampir tidak mungkin untuk membayar kembali dalam mata uang lokal karena devaluasi di satu sisi dan kelangkaan dolar di sisi lain. Seperti halnya dalam kasus Turki dan mata uang lokal Turki, YTL.

Krisis ekonomi Turki hanyalah bom waktu, karena faktor manuver dalam jaringan keuangan kapitalis yang didominasi oleh AS. Jadi, pukulan ringan dari Trump untuk menaikkan tarif impor pada baja dan aluminium Turki sudah cukup untuk mendevaluasikan lira Turki dalam beberapa detik. Jauh-jauh hari Erdogan paham, badai krisis akan menyapu Turki, dan Erdogan kini dapat menyalahkan agenda "asing" dan membangkitkan sentimen-sentimen Islam semu dengan mengatakan; "Jika mereka memiliki dolar, kita memiliki Allah" dengan ini lebih dari melemparkan kebijakan ekonomi bencana dari dekade terakhir di mana ia memasukkan Turki ke dalam deposisi asing yang sangat besar dan menyebarkan model ekonomi kapitalis dalam skala besar. Erdogan tidak mengajukan solusi politik apa pun kepada mereka, tetapi malah bekerja untuk menjadi bagian dari rencana politik Amerika.

Sejak era Trump, Presiden AS lebih vulgar dalam menyampaikan pesan kepada dunia bahwa merekalah yang berkuasa dan semua negara bangsa dan lembaga internasional harus tunduk pada kehendaknya. Bahkan "sekutunya", seperti Inggris, Kanada, Australia, dan UE tidak dikecualikan dari kebijakan ini apalagi negara-negara seperti Iran dan Turki.

AS menjebak Turki agar berperan di Suriah berkurang dan setelah Amerika mencapai tujuannya dengan mengamankan hegemoni dan pengaruhnya, bagi AS, hubungannya dengan Turki adalah sarana untuk mencapai tujuan, mereka melihat Turki sebagai alat untuk melestarikan kepentingannya di Irak, Suriah, Timur Tengah dan Kaukus. Kemudian AS membuang Turki dengan membuka perang ekonomi melawan Turki. Ini membuktikan hubungan AS dengan negara lain didasarkan pada keuntungan dan manfaat dan ketika manfaat dipertanyakan atau tujuannya tercapai, mitranya dibuang. Turki harus belajar bahwa negara-negara Kuffar tidak akan pernah menjadi teman atau sekutu umat Islam. Mereka adalah musuh Islam dan Muslim.

Paradoks, sikap Erdogan masih menolak mengambil Islam sebagai solusi untuk masalah ini. Dia terus mengambil sistem sekuler kapitalis untuk memecahkan masalah ekonomi, dan pada saat yang sama meminta Rusia sebagai mitra ekonomi dan politik untuk membantu melepaskan diri dari jerat permainan AS. Sistem ekonomi Turki dan mentalitas pemimpin dirantai oleh sistem atau ide kapitalis tidak mampu memperbaiki kondisi.

Kesalahan besar ketika Erdogan menjadikan musuh seperti Rusia yang membunuh Muslim di Suriah sebagai mitra untuk menyeimbangkan kekuatan internasional, ini membuat Rusia semakin kuat di kawasan itu. Rusia hanya mengambil keuntungan dari Turki yang melemah, tidak akan pernah menjadi keuntungan bagi umat Islam. Mirip seperti bagaimana Eropa tidak mengakui Turki walaupun tergabung di UE. Eropa melakukan diskriminasi karena penduduk Turki yang mayoritas muslim, di saat yang sama politik industry Islamophobia berkembang di Eropa.

Yang perlu digarisbawahi Erdogan beredar di orbit Amerika, keberadaan kebijakan politik Erdogan dibutuhkan untuk memukul Euro. Setelah target ekonomi AS memberikan pengaruh signifikan pada rival potensial  AS –Uni Eropa-, sangat mungkin bila Pastur AS - Andrew Brunson dilepaskan, cukai dihapus atau diturunkan, dan lembaga-lembaga pemeringkat seperti Moody, Standard & Poors kembali menaikkan rating Turki setelah dilakukan penundaan utang dengan utang baru, dan berikutnya kurs Lira sedikit membaik.

Turki di bawah Erdogan hari ini telah dijatuhkan oleh AS melalui pemberlakuan sanksi dan tarif. Erdogan telah berkuasa selama 16 tahun dan meskipun memiliki kekayaan mineral dan mengalami perkembangan ekonomi, semuanya telah dirangsang oleh utang sehingga menahan kemungkinan itu menjadi kekuatan politik dan ekonomi yang independen. Turki sangat mungkin menjadi Negara yang mandiri dan kuat jika memperbaiki visi dan langkah yang benar, dengan Sistem Islam dipimpin penguasa yang amanah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox