Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Selasa, 04 September 2018

Kerukunan di tengah Kerumunan


M. Arifin (Tabayyun Center)

Sungguh orang-orang Mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah kedua saudara kalian, dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian dirahmati (TQS al-Hujurat [49]: 10).
Ayat ini menghendaki ukhuwah kaum Mukmin harus benar-benar kuat, bahkan lebih kuat daripada persaudaraan karena nasab (Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, VIII/212).

Karena bersaudara, normal dan alaminya kehidupan mereka diliputi kecintaan, perdamaian dan persatuan. Jika terjadi sengketa dan peperangan di antara mereka, itu adalah penyimpangan yang harus dikembalikan lagi ke keadaan normal dengan meng-ishlâh-kan mereka yang bersengketa, yakni mengajak mereka untuk mencari solusinya pada hukum Allah SWT dan Rasul-Nya (Al-Qasimi, Mahâsin at-Ta’wîl, VIII/529).

Selanjutnya berdasarkan ayat di atas, takwa harus dijadikan panduan dalam melakukan ishlâh dalam semua perkara. Dalam melakukan ishlâh itu, kaum Mukmin harus terikat dengan kebenaran dan keadilan; tidak berbuat zalim dan tidak condong pada salah satu pihak (Wahbah az-Zuhayli, Tafsîr al-Munîr, XXV/239).

Artinya, sengketa itu harus diselesaikan sesuai dengan ketentuan hukum-hukum Allah SWT, yakni ber-tahkîm pada syariah. Dengan begitu mereka akan mendapat rahmat-Nya.
Dalam ayat lain, Allah SWT juga berfirman:
Berpeganglah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai (TQS Ali Imran [3]: 103).

Dan dari Abu Darda', Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Apabila seorang muslim mendoakan (kebaikan) untuk saudara yang tidak hadir di hadapannya (tanpa diketahui olehnya), maka ada seorang malaikat yang mengatakan: "Amiin (ya Allah kabulkanlah!), dan bagimu juga (semoga mendapatkan) yang semisalnya." (HR. Muslim no. 2732 dari Abu Darda')

Dan dari Nu'man bin Basyir, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Perumpamaan kaum Muslimin dalam cinta, kekompakan, dan kasih sayang bagaikan satu tubuh, jika salah satu anggota tubuhnya mengeluh sakit, maka seluruh anggota tubuh juga ikut menjaga dan berjaga." (HR. Bukhari no. 2442) dan dalam Shahih Muslim disebutkan, "Seorang mukmin atas mukmin lainnya ibarat satu bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Lalu beliau shallallahu 'alaihi wasallam menggabungkan jari-jemari tangannya." (HR. Imam Bukhari, Muslim, dan An Nasa’i dari Abu Musa Al Asy’ari) selesai haidts-hadits yang disebutkan oleh Ibnu Katsir.
Imam Ibnu Katsir (Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, I/477) menyatakan bahwa tali Allah (habl Allâh) adalah al-Quran. Siapapun yang berpegang teguh pada al-Quran berarti berjalan di atas jalan lurus. Ayat tersebut merupakan perintah Allah SWT kepada mereka untuk berpegang pada al-jamâ‘ah dan melarang mereka dari tafarruq (bercerai-berai). Dari sini terang sekali bahwa keterceraiberaian tersebut disebabkan karena al-Quran tidak dijadikan sebagai pegangan dalam mengatur kehidupan.

Dalil as-Sunnah. Rasulullah saw. antara lain bersabda:
Mukmin dengan Mukmin lainnya bagaikan satu bangunan; sebagian menguatkan sebagian lainnya (HR Bukhari, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ahmad).
Kalian tidak masuk surga hingga kalian beriman dan belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai… (HR Muslim).

Selain itu banyak hadis yang menyebut bentuk-bentuk praktis ukhuwah islamiyah di antara sesama Muslim secara individual. Di antaranya adalah: larangan meng-ghîbah, memfitnah, memata-matai (tajassus), membuka aib dan menipu; larangan menghina, mencela, melanggar kehormatan dan membunuh; dll. Sebaliknya, banyak hadis yang justru mendorong seorang Muslim bersikap lemah-lembut terhadap sesama Muslim, bersahabat, berkasih sayang, saling mengucapkan salam dan berjabatan tangan, saling mendoakan, saling mengunjungi, bersama dalam suka dan duka, dll.
Sesungguhnya meyakini bahwa ukhuwah hanya terjalin oleh sesama kaum mukminin, bukan antar orang beriman dengan orang kafir, termasuk pokok keimanan. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala:
"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara." (QS. Al Hujuraat: 10)

Imam al Qurthubi dalam tafsirnya berkata, "Sesungguhnya kaum mukminin bersaudara dalam agama dan kehormatan, bukan karena nasab. Karenanya dikatakan, "Ukhuwah karena dien lebih kuat daripada ukhuwah karena nasab. Karena ukhuwah berdasar nasab terputus karena beda agama. Sedangkan ukhuwah karena dien tidak akan terputus karena beda nasab".

Imam Ibnu Katsir memaknakan ayat di atas bahwa mereka (kaum mukminin) bersaudara karena dien. Kemudian beliau menyebutkan beberapa hadits yang mendukung bahwa persaudaraan hanya berlaku bagi sesama kaum mukminin yang diikat dengan iman dan Islam. Di antara haidts-hadits tersebut:
"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, ia tidak akan mendzaliminya dan tidak menyerahkannya (kepada musuh)." (HR. Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580 dari hadits Abdullah bin Umar bin Ktathab)

Dan dalam Shahih Muslim, "Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama dia hamba itu senantiasa menolong saudaranya." (HR. Muslim dari Abu Hurairah, no. 2699)

Dan dari Abu Darda', Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Apabila seorang muslim mendoakan (kebaikan) untuk saudara yang tidak hadir di hadapannya (tanpa diketahui olehnya), maka ada seorang malaikat yang mengatakan: "Amiin (ya Allah kabulkanlah!), dan bagimu juga (semoga mendapatkan) yang semisalnya." (HR. Muslim no. 2732 dari Abu Darda')

Dan dari Nu'man bin Basyir, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Perumpamaan kaum Muslimin dalam cinta, kekompakan, dan kasih sayang bagaikan satu tubuh, jika salah satu anggota tubuhnya mengeluh sakit, maka seluruh anggota tubuh juga ikut menjaga dan berjaga." (HR. Bukhari no. 2442) dan dalam Shahih Muslim disebutkan, "Seorang mukmin atas mukmin lainnya ibarat satu bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Lalu beliau shallallahu 'alaihi wasallam menggabungkan jari-jemari tangannya." (HR. Imam Bukhari, Muslim, dan An Nasa’i dari Abu Musa Al Asy’ari) selesai haidts-hadits yang disebutkan oleh Ibnu Katsir.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox