Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Selasa, 18 September 2018

Islam Menolak Paham Komunisme, Sosialisme, dan Marxisme!


Achmad Fathoni
(Dir. El Harokah Research Center)

Komunisme adalah ideologi yang berkenaan dengan filosofi, politik, sosial, dan ekonomi yang tujuan utamanya terciptanya masyarakat komunis dengan aturan sosial ekonomi berdasarkan kepemilikan bersama alat produksi dan tidak adanya kelas sosial, uang, dan negara.

Sosialisme merupakan ideologi yang berpandangan adanya persamaan dan kesamaan dalam menjalani hidup. Dalam sosialisme persamaan merupakan konsekuensi logis dari keprihatinan terhadap suatu kemiskinan. Negara yang memiliki paham ini contohnya adalah Republik rakyat china ( RRC ). Asas dari sosialisme, termasuk komunisme, adalah materialisme, yaitu pandangan bahwa alam semesta, manusia, dan kehidupan merupakan materi belaka, dan bahwasanya materi menjadi asal dari segala sesuatu. Dari perkembangan dan evolusi materi inilah benda-benda lainnya menjadi ada. Tidak ada satu zat pun yang terwujud sebelum alam materi ini.

Marxisme adalah sebuah paham yang berdasar pada pandangan-pandangan Karl Marx. Marx menyusun sebuah teori besar yang berkaitan dengan sistem ekonomi, sistem sosial, dan sistem politik. Pengikut teori ini disebut sebagai Marxis.Marxisme mencakup materialisme dialektis dan materialisme historis serta penerapannya pada kehidupan sosial. Marxisme merupakan dasar teori komunisme modern. Teori ini tertuang dalam buku Manisfesto Komunis yang dibuat oleh Marx dan Friedrich Engels. Marxisme merupakan bentuk protes Marx terhadap paham kapitalisme. Ia menganggap bahwa kaum kapital mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum proletar. Kondisi kaum proletar sangat menyedihkan karena dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum, sementara hasil pekerjaan mereka hanya dinikmati oleh kaum kapitalis. Banyak kaum proletar yang harus hidup di daerah pinggiran dan kumuh. Marx berpendapat bahwa masalah ini timbul karena adanya "kepemilikan pribadi" dan penguasaan kekayaan yang didominasi orang-orang kaya. Untuk menyejahterakan kaum proletar, Marx berpendapat bahwa paham kapitalisme diganti dengan paham komunisme. Bila kondisi ini terus dibiarkan, menurut Marx, kaum proletar akan memberontak dan menuntut keadilan. Inilah dasar dari marxisme.

Ketiga ideologi di atas adalah setali tiga uang. Sosialisme, Marxisme termasuk komunisme memang telah ‘mati’ dan hilang dominasinya dalam kehidupan, namun sebagai pemikiran ideologi, selama masih ada orang-orang yang mengemban dan memperjuangkannya, dia masih memiliki potensi untuk ‘hidup’ kembali. Oleh karena itu, kajian terhadap sosialisme termasuk komunisme tetaplah penting untuk mematikan sisa-sisa ‘nyawa’ yang masih menggeliat mencari celah-celah dan kesempatan untuk bangkit kembali.
Ideologi di atas cacat dan rusak. Secara ekonomi sosialisme menjadikan kepemilikan-kepemilikan ini sebagai satu bentuk kepemilikan yang dikuasai oleh negara, atau kelompok tertentu, sudah pasti akan menyebabkan krisis, bahkan kegagalan. Begitulah, akhirnya teori Sosialisme gagal dalam bidang ekonomi, karena telah menjadikan semua kepemilikan dikuasai oleh negara. Sosialisme memang berhasil dalam perkara yang memang dikuasai oleh negara, seperti industri berat, minyak dan sejenisnya. Namun, gagal dalam perkara yang memang seharusnya dikuasai oleh individu, seperti umumnya pertanian, perdagangan dan industri menengah. Kondisi inilah yang mengantarkan pada kehancuran.

Kapitalisme juga gagal, dan setelah sekian waktu, kini sampai pada kehancuran. Itu karena Kapitalisme telah menjadikan individu, perusahaan dan institusi berhak memiliki apa yang menjadi milik umum, seperti minyak, gas, semua bentuk energi dan industri senjata berat sampai radar. Sementara negara tetap berada di luar pasar dari semua kepemilikan tersebut. Itu merupakan konsekuensi dari ekonomi pasar bebas, privatisasi dan globalisasi.. Hasilnya adalah goncangan secara beruntun dan kehancuran dengan cepat, dimulai dari pasar modal menjalar ke sektor lain, dan dari institusi keuangan menjalar ke yang lain. Begitulah, Sosialisme-Komunisme telah runtuh, dan kini Kapitalisme sedang atau nyaris runtuh.

Konsep Rusak

Diantara konsep sosialisme yang sering ‘menipu’ umat Islam, apalagi jika ditambah dengan pemelintiran dalil syara’, adalah pemikiran sosialisme terkait dengan ekonomi. Tidak heran jika tanpa memperhatikan asas ideologi ini lagi, sebagian orang Islam dulu mendukung komunisme karena hanya melihat semangat perlawanan mereka kepada kedzaliman kapitalisme, lalu mendukung konsep Nasakom (nasionalisme, agama dan komunisme).
Sosialisme memiliki tiga prinsip dalam ekonomi, yakni:

Pertama, mewujudkan kesamaan (equality) secara riil.

Kedua, menghapus pemilikan individu (private property) secara keseluruhan atau sebagian.

Ketiga, mengatur produksi dan distribusi secara kolektif.

Meskipun dalam ketiga hal ini ekonom sosialis sepakat, namun ada perbedaan yang tajam antara satu dengan yang lain dalam beberapa hal, diantaranya:
Pertama, mereka berbeda pendapat terkait bentuk kesamaan secara riil yang ingin mereka realisasikan. Ada satu kelompok yang menyebut dengan “Kesamaan Hisabiyah”, yakni kesamaan dalam segala hal yang boleh dimanfaatkan. Di mana, setiap orang akan diberi sesuatu yang sama seperti yang diberikan kepada orang lain. Sedangkan kelompok lain menyebut dengan “Kesamaan Syuyu’iyah (komunisme)”, yakni pembagian kerja harus dilakukan menurut kemampuan tiap orang, sementara pembagian hasilnya harus dilakukan menurut keperluan masing-masing. Sebagian yang lain menyatakan kesamaan dalam masalah faktor-faktor produksi, tiap orang dibekali dengan faktor-faktor produksi yang sama dengan orang lain.

Kedua, mereka beda pendapat tentang standar penghapusan pemilikan individu (private property). Ada yang menyatakan bahwa pemilikan individu harus dihapus sama sekali aliran ini disebut dengan aliran Komunis.
Sedangkan kelompok lain berpendapat bahwa pemilikan individu yang berhubungan dengan barang-barang produksi atau yang disebut dengan sebutan capital itulah yang harus dihapus seperti tanah, industri, rel, jalan, pertambangan dan sebagainya, yakni dilarang memiliki setiap barang yang bisa menghasilkan sesuatu yang lain (faktor-faktor produksi) sehingga tidak boleh mempunyai rumah untuk disewakan termasuk tidak boleh mempunyai pabrik, tanah dan sebagainya, ini yang disebut aliran Sosialis Kapitalis. Sementara aliran lain tidak mengatakan tentang penghapusan pemilikan khusus, kecuali yang berhubungan dengan tanah pertanian bukan yang lain aliran tersebut dinamakan Sosialis Pertanian ada juga yang mengatakan: Harus dikaji setiap keadaan yang di dalamnya terdapat kemaslahatan umum yang menganjurkan perubahan status milik pribadi menjadi milik umum, termasuk membatasi aktivitas para pemilik pribadi dalam banyak hal, caranya: penguasa membuat batasan yang tertinggi untuk sewa dan keuntungan dan batas terendah untuk upah, lalu para pekerja dibiarkan memperoleh modal dan sebagainya.” Inilah yang kemudian disebut dengan aliran Sosialisme Negara (State Socialism).
Ketiga, aliran-aliran Sosialis berbeda-beda dalam menentukan sarana yang dikatakan sebagai alat untuk mewujudkan tujuan-tujuan mereka.

Aliran Naqabiyah Tsauriyah (sindikasi revolusioner?) bertolak pada pemberian kebebasan para pekerja dan usaha yang bersifat dengan kerja langsung yaitu tenaga para pekerja itu sendiri, seperti mogok kerja, merusak alat-alat, serta persiapan untuk merealisasikannya sampai pada suatu saat yang memungkinkan mereka untuk mewujudkan tuntutan-tuntutan mereka. Pada akhirnya gerakan ekonomi berhenti sehingga sistem ekonomi (Kapitalisme) runtuh.

Sedangkan aliran Marxisme, meyakini hukum evolusi sosial, termasuk meyakini bahwa hukum evolusi sosial itu saja sudah cukup untuk menghancurkan sistem (kapitalis) yang ada, serta mengganti sistem tersebut dengan sistem lain yang dibangun dengan asas Sosialisme.

Adapun penganut aliran Sosialis Negara (State Sosialism) dalam menerapkan pemikiran-pemikiran mereka adalah lewat pembuatan undang-undang, karena dengan adanya undang-undang tersebut, akan ada sesuatu yang menjaga terpeliharanya kemaslahatan umum serta perbaikan keadaan para pekerja, sebagaimana kewajiban pajak, khususnya yang dikenakan pada pendapatan, modal dan harta waris itu dapat menekan tingkat kesenjangan kekayaan.

Keempat, aliran-aliran Sosialis juga berbeda-beda dalam memandang lembaga yang akan mengendalikan projek-projek dalam sistem Sosialis, sebagai contoh para penganut Sosialisme Kapitalis menghendaki agar pengaturan produk dan distribusi diserahkan kepada negara. Sementara pada saat yang sama penganut Naqabiyah menghendaki agar pengaturan tersebut diserahkan kepada sekelompok pekerja yang terorganisasi di bawah komando pimpinan-pimpinan mereka.

Bertentangan dengan Islam
Disamping asasnya, dari sisi tauhid sudah bertentangan dengan Islam, dari sisi sistem ekonominya, disamping tidak selaras dengan fitrah manusia, juga bertentangan dengan Islam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: "Dien Islam dibangun di atas dua landasan dasar. Yaitu merealisasikan syahadat Laa Ilaaha Illallaah dan syahadat Muhammad Rasuulullaah. Kita tidak mengangkat tuhan yang lain bersama Allah, dan kita menolak atheisme. Kita tidak mencintai makhluk seperti mencintai Allah.

Kita menyembah Allah dengan menggunakan syariat-Nya melalui lisan para rasul-Nya. Kita tidak beribadah kecuali dengan sesuatu yang wajib atau yang sunnah, sedangkan amal mubah jika diniatkan ketaatan masuk dalam kategori ini. Dan doa masuk bagian ibadah. Sementara akidah sosialisme, marxisme dan komunisme bertentangan dengan Islam.
Secara ekonomi, sosialisme bertentangan secara frontal dengan sistem Islam.

Pertama, kesamaan ekonomi antar manusia itu tidak sesuai dengan fithrah, andai dipaksakan diberikan harta yang sama sekalipun, tetap mereka tidak sama dalam mempergunakan harta tersebut, tidakkah kita lihat dua orang yang gaji dan penghasilannya sama namun tingkat ekonominya berbeda? Yang satu gajinya selalu habis, bahkan kurang, yang satu cukup bahkan bisa menabung? Bahkan menyamaratakan antar manusia, padahal Allah ciptakan mereka dengan potensi berbeda berarti telah melanggar prinsip keadilan.

Kedua, penghapusan kepemilikan individu secara total, maupun secara parsial dengan membatasi jumlah hartanya, yang terdapat dalam konsep sosialisme jelas bertentangan dengan fitrah manusia, yang Islam menjaga kepemilikan individu ini.

Ketiga, mengatur produksi dan distribusi secara kolektif tidak bisa dilakukan dengan cara menciptakan gejolak dan goncangan di tengah-tengah manusia serta menciptakan dendam dan permusuhan di antara mereka antara sebagian orang dengan sebagian yang lain, karena, cara semacam itu sebenarnya merupakan cara mewujudkan gejolak (goncangan) bukan cara untuk mengatur. Untuk mengaturnya (produksi dan konsumsi) harus dilakukan dengan undang-undang dan pemecahan-pemecahan (solving) yang benar, yang asasnya benar, serta sesuai dengan realitas masalahnya. Sementara Sosialis dalam mengatur produksi dan distribusi ada kalanya bersandar kepada gejolak dan goncangan-goncangan yang diciptakan di kalangan pekerja dan adakalanya bersandar kepada dialektika masyarakat dan kadang kala dengan membuat peraturan-peraturan dan undang-undang yang tidak didasari dengan pijakan yang kukuh karena itu, cara pengaturannya adalah salah sejak dari asasnya.
------------------------------------------------------------
1.  https://id.wikipedia.org/wiki/Komunisme

2. https://id.wikipedia.org/wiki/Marxisme

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox