Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 12 September 2018

HIJRAH DAN REVOLUSI SOSIAL



Oleh : Muhammad Alauddin Azzam (Pegiat Literasi)


Alhamdulillah, hari ini kita telah masuk dalam Tahun Baru Islam yakni Tahun Baru Hijriyyah pada tahun 1440 H.  Angka 1440 bukan sekedar angka yang kita ucapkan dan syiarkan. Namun, angka ini telah menunjukkan kalkulasi ke-kehijrah-an kita di dalam kehidupan di dunia ini. Sudah 1440 tahun yang lalu, Rasulullah SAW dan para shahabat melakukan hijrah dari Makkah menuju Madinah. Demi apa hijrah ini ? Demi harta ? Demi tahta ? Atau yang lebih tepatnya apa ? Tentu, demi Dakwah Islam. Demi tersebarnya dakwah Islam ke penjuru dunia.

Hijrah yang sudah sama-sama kita tahu punya definisi secara bahasa dan makna. Secara bahasa tentu hijrah diartikan sebagai berpindah tempat. Kita pindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Namun, secara makna, hijrah punya arti mendalam. Apa maksudnya hijrah secara makna ? Maksudnya adalah hijrah dari kejahiliyyahan menuju keta'ataan kepada Allah SWT. Kejahiliyyahan menuju menghamba ('ibaad) kepada pencipta manusia. Merdeka dari penyembahan manusia menuju penyembahan kepada Allah 'Azza wa Jalla. Inilah makna hijrah yang sempurna.

Sekarang, sudahkah kita hijrah secara sempurna ? Tanyalah pertanyaan ini kepada kita yang sering alpa dan lupa. Bolehlah kita merenung sejenak tentang kondisi kita hari-hari ini. Bolehlah kita merenungi tentang implementasi hijrah kita sampai pada 1440 H hari ini. Bolehlah kita merenungi tentang sejauh mana hijrah kita telah berlabuh. Sudahkah hijrah kita sempurna ?

Kita masih menyaksikan banyaknya tindakan immoralitas, ketidakmoralan di tengah-tengah kita. Korupsi merajalela, keluar masuk transaksi narkoba, kenakalan remaja, pergaulan bebas, tindakan kriminal lainnya seperti pembegalan, pencurian, pembunuhan, dan sebagainya. Kita bertanya-tanya dengan banyaknya apresiasi terhadap kemajuan peradaban hari ini. Peradaban yang kaya dengan ilmu. Peradaban dengan kemajuan teknologi dan industri. Mengapa sikap etika dan moral malah mati ?

Immoralitas juga merambah kepada sikap manusia modern kepada lingkungan. Bagaimana dengan sikap manusia kepada lingkungan hari ini ? Kemajuan teknologi justru membuat kerusakan lingkungan. Tanah dibakar untuk membangun korporasi. Pembuatan pulau-pulau reklamasi yang tidak tepat. Penggunaan teknologi yang justru destruction (pengrusakan) terhadap kehidupan kita inilah bentuk dari kejahiliyyahan. Sudah kah kita hijrah secara sempurna ?

Krisis sosial merambah juga mulai dari level individu hingga masyarakat. Individu yang tidak bahagia. Masyarakat yang cenderung konsumtif dan hedonis juga masih menghantui kita hari-hari ini. Anak-anak kita yang masih berkelut pada media sosial dengan sekedar canda tawa dan hura-hura juga masih viral. Sudah kah kita hijrah secara sempurna ?

Para pendukung revolusi industri mungkin tetap bersikukuh pada konsep developmentalism (pembangunan). Pembangunan infrastruktur besar-besaran demi kemajuan ekonomi, kesejahteraan, meningkatkan daya investasi, dan sebagainya. Akan tetapi, para pendukung itu lupa dengan masalah sosial yang kompleks. Masalah sosial yang terus menerus muncul. Hijrah kita masih belum menuju titik sempurna.

Di sinilah penting adanya Hijrah dan Revolusi Sosial dengan lahirnya perubahan sikap-sikap manusia yang menggunakan teknologi demi mendulang materi dengan akal materialisme. Revolusi Sosial ditujukan dengan perubahan keacuhan kita menjadi peduli terhadap kehidupan masyarakat. Dari revolusi sosial hasil berupa selesainya masalah sosial yang kompleks itu. Bukan hanya kita peduli terhadap manusia saja, tapi lahirlah kebahagiaan dan ketenangan abadi yakni dengan hidup demi meraih mardhaatillah, keridhoaan Allah SWT di dalam seluruh aktifitas berkehidupan kita. Inilah hijrah yang sempurnan yakni hijrah dan lahirnya revolusi sosial.

In Syaa Allahu.


11/09/2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox