Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 08 September 2018

Era Digital Jahiliyah, Bencana Intelektual Di Tengah Badai Fitnah Terhadap Dakwah


Nindira Aryudhani
Koordinator LENTERA

Belakangan ini publik memang tengah ramai dengan opini #2019gantipresiden. Gelombang dukungan terhadap gerakan ini pun meluas. Tak ayal, hal ini cukup membuat gerah para pendukung petahana. Mereka pun membuat berbagai opini tandingan. Oleh para pendukung kubu penguasa, gerakan #2019gantipresiden dianggap oposan berbahaya.

Perang opini di dunia maya dan nyata pun tak terelakkan, bahkan sudah menjurus pada kondisi yang tak terkendali. Kendati pihak KPU telah mencoba menjadi penengah dengan memberikan pernyataan bahwa gerakan #2019gantipresiden adalah sesuatu yang sah dalam iklim demokrasi. Bahkan ini opini yang wajar, karena memang saat ini sedang tahun politik.

Namun, arus opini mendadak liar. Pasalnya, oleh sejumlah oknum, gerakan #2019gantipresiden disebut telah ‘ditunggangi’ HTI, hanya karena ditemukan atribut bendera bertuliskan kalimat tauhid. Liarnya opini kian tak berdasar ketika pada puncaknya agenda dakwah da'i kondang, Ustadz Abdul Somad (UAS), dipersekusi di Jepara, Jawa Tengah. Dan lagi-lagi, HTI menjadi kambing hitam. Agenda UAS ini juga dilekatkan pada istilah ‘ditunggangi HTI’, hanya karena UAS adalah salah satu ulama yang berani menyerukan bahwa Khilafah ajaran Islam. Buntutnya, berbagai ancaman pembubaran agenda dakwah UAS bermunculan dari kota-kota lain. Hingga pihak UAS terpaksa membatalkan seluruh agenda ceramahnya di Pulau Jawa.

Tak hanya UAS, beberapa waktu yang lalu juga dilakukan pemeriksaan oleh aparat kepada Gus Nur (Sugi Nur Raharja). Gus Nur dipanggil pihak Polda Sulteng pada 24 Agustus 2018 sebagai saksi untuk dimintai keterangan dalam dugaan tindak pidana ujaran kebencian sebagaimana dimaksud dalam pasal 28 ayat (2) Undang-Undang nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan UU No.11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik Jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

Pemanggilan ini merupakan tindak lanjut atas laporan polisi nomor: LP/314/VII/2018/SPKT tanggal 5 Juli 2018, dengan pelapor Muhammad Kaharu, S.Ag. Laporan tersebut disampaikan kepada Polda Sulteng pada bulan Mei yang lalu. Gus Nur diduga menghina Nahdatul Ulama (NU), Ansor, dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) melalui postingan-postingannya di media sosial. Meski demikian, Gus Nur juga dikenal lantang menyampaikan bahwa Khilafah ajaran Islam.

Jauh sebelum kasus UAS dan Gus Nur, kita ketahui ada Profesor Suteki, dosen Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, yang juga menjadi korban persekusi serupa. Hanya karena beliau pernah menjadi saksi ahli dalam sidang judicial review Perppu Ormas di Mahkamah Konstitusi pada 2017 dan saksi ahli dalam sidang gugatan pencabutan status BHP (Badan Hukum Perkumpulan) HTI sekitar awal 2018. Di samping itu, beliau juga satu suara dengan UAS. Yaitu tak gentar menyuarakan bahwa Khilafah ajaran Islam.

Sejurus kemudian, bola opini kian panas, tatkala di beberapa akun sosial media yang diduga mendukung petahana, turut menyebar fitnah. Akun-akun tersebut menyatakan hal-hal imajiner yang masih dikait-kaitkan dengan HTI, hanya karena ditemukan atribut bendera tauhid atau penyebutan kata ‘Khilafah’. Padahal, hal-hal imajiner itu memang tidak ada bukti dan faktanya. Namun, akun-akun ini menyertakan caption ‘info valid’. Realitanya, pernyataan mereka bukan hanya tak valid tapi berisi pembohongan dan pembodohan publik.

Meski demikian, umat selayaknya tetap optimis. Kita sadari bersama bahwa saat ini kita tengah berada di era digitalisasi kejahiliyahan. Akun-akun penyebar fitnah itu merajalela bagai mulut-mulut para pembesar Quraisy di Makkah kala mereka memusuhi dakwah Rasulullah ﷺ. Mereka melakukan propaganda dan pembohongan publik sehingga menyepakati bahwa dakwah Rasulullah ﷺ tak ubahnya sihir ucapan. Mereka menyebarkan berita-berita negatif dan memperingatkan bangsa-bangsa Arab agar berhati-hati. Karena menurut mereka, ucapan Rasulullah ﷺ dapat memisahkan seseorang dari saudara, ibu, bapak, istri, dan keluarganya. Sungguh masa-masa Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin saat itu ibarat badai fitnah begitu gencar menghempas dakwah.

Namun ada hal tersembunyi yang tak disadari. Dengan semakin derasnya arus opini negatif, justru menjadi panggung bagi HTI untuk menjelaskan kepada umat tentang metode dakwahnya sekaligus menjadi ruang untuk menyuarakan definisi Khilafah yang selama ini menjadi jargon utama dakwah HTI. Ini juga dirasakan tak terkecuali oleh sejumlah elemen umat yang lurus, yang hendak 'amar ma'ruf nahyi mungkar. Para ulama hanif yang mengakui bahwa Khilafah adalah ajaran Islam, kian maju tak gentar mendukung ide Khilafah.

Sungguh, derasnya persekusi dan kriminalisasi orang-orang kritis, khususnya para pendakwah Islam, adalah bencana intelektual yang ironisnya seperti dibiarkan terjadi oleh pemerintah. Bahkan aparat berperan menjadi aktor di akar rumput untuk menghadang atau menangkap orang-orang kritis tersebut. Namun di balik semua ini, justru telah mulai melahirkan pintu-pintu pertolongan Allah, in syaa Allah. Opini-opini negatif semakin hari terbukti tak mampu menahan apalagi menghentikan arus dakwah. Menjelang bulan Muharram di tahun hijriyah yang segera menjelang, umat patut meyakini bahwa Allah SWT pasti memenangkan dakwah Islam meski dihadang oleh berbagai kesulitan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox