Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 27 September 2018

ERA BARU GERAKAN MAHAISWA


*_GANTI REZIM !!!_*
*_GANTI SISTEM !!!_*
*_Bukan Sekedar Martir tetapi Subyek Utama Perubahan_*

Oleh : Agung Wisnuwardana

Aksi mahasiswa yang digerakkan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Riau 10 September 2018 serasa menjadi oase pergerakan mahasiswa untuk melawan kedzaliman rezim Jokowi.

Aksi mahasiswa Riau disusul Aksi dari Aliansi BEM Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) se-Indonesia. Kemudian disusul Aksi BEM SI dengan ribuan peserta bergerak se Jabodetabek-Banten. Aksi serupa pun di gelar di kota-kota lain dengan elemen pergerakan yang berbeda-beda.

Point penting dari seluruh aksi di atas adalah mengkritik rezim Jokowi, bahwa rezim Jokowi telah gagal mengelola perekonomian yang menyebabkan rakyat sengsara dan rupiah anjlok sampai tembus Rp 15.000 per dolar AS. Aroma tuntutan “Turunkan Jokowi” pun terasa begitu menyengat.

Harga BBM yang melambung tinggi, harga tarif dasar listrik yang meningkat tajam, pajak-pajak yang semakin mencekik, harga sembako yang naik menjadi beban hidup yang langsung dirasakan masyarakat. Problem yang disuarakan mahasiswa saat ini sama dengan yang dirasakan rakyat secara umum.

Bertambah geram tentunya ketika mahasiswa melihat impor pangan yang gila-gilaan, hutang luar negeri tak terkendali, inflasi kian meningkat dan anjloknya nilai tukar rupiah.

Pergerakan mahasiswa kali ini tentu tak kan semulus gerakan mahasiswa 98. Rezim berkuasa saat ini memiliki klien dari kalangan gerakan mahasiswa maupun pemuda yang siap menjalankan tugas yang diminta rezim. Gerakan 98 relatif memiliki common enemy yaitu rezim Soeharto. Baik gerakan mahasiswa yang berbasis Islam maupun sosialis, musuhnya sama yaitu Soeharto.

Plus kekuatan 98 disokong oleh Forum Rektor yang mendorong laju pergerakan mahasiswa semakin kencang. Saat ini, sepertinya para rektor sunyi senyap mengamankan kedudukannya dan manut turut kepada titah rezim Jokowi.

Untuk menghadapi tantangan di atas maka setidaknya ada 4 hal yang musti dilakukan oleh gerakan mahasiswa dalam melawan rezim dzalim Jokowi :

1. Penyatuan isu dan visi antar komponen gerakan mahasiswa. 
Terkait perlawanan pada rezim dzalim Jokowi.

2. Konsolidasikan kekuatan mahasiswa sebagai basis kekuatan massa aksi.  Mimbar bebas di kampus-kampus harus digencarkan. Era digital dengan social media media nya dapat dioptimalkan untuk mengkonsolidasikan kekuatan.

3. Aksi turun ke jalan harus dimasivkan baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Jumlah massa yang besar sepertinya menjadi penting untuk menunjukkan eksistensi gerakan dan besarnya opini yang dibangun. Publisitas via social media harus dirancang matang sebagai ganti media mainstream yang cenderung diam.

4. Hindari pendekatan kekerasan. 
dalam pergerakan mahasiswa.  Rezim sangat mungkin akan memanfaatkan klien nya untuk berhadapan dengan gerakan mahasiswa. Risiko terjadinya benturan kekerasan cukup tinggi.
...
Penyatuan isu menjadi hal penting.  Isu terkait kedzaliman Rezim Jokowi terlalu sempit. Tetapi sebagai entry awal gerakan tentu sah-sah saja.  Isu perlu diluaskan dan harus berani masuk pada isu yang lebih fundamental.
...
Gerakan mahasiswa sejak zaman dulu hanya diposisikan sebagai martir. Bila isu yang yang menjadi basis gerakan mahasiswa terlalu sempit maka sangat besar gerakan kali ini pun akan terjebak hanya sebagai martir.  Gerakan mahasiswa diposisikan berdarah-darah di garda terdepan tetapi tak menyisakan apapun selepas rezim dzalim jatuh kecuali hanya kedudukan empuk untuk elit gerakan mahasiswa. Oleh karena itu memperluas dan memperdalam isu menjadi penting dilakukan.
...
Rezim di dunia ketiga seperti Indonesia tak bisa dilepaskan dari kekuatan sistem yang ditancapkan oleh negara penjajah (asing maupun aseng). Sudah menjadi rahasia umum bahwa ada sistem sekuler kapitalisme liberal yang terus dipelihara dan diperluas pengaruhnya di Indonesia.  Ada kekuatan kapitalisme timur (Cina) dan kapitalisme barat (Amerika Serikat) yang bertarung dan atau berbagi kekuasaan di Indonesia. Gerakan mahasiswa kali ini sudah sepantasnya memperluas isu yaitu *turunkan rezim dzalim : ganti rezim !!! ganti sistem !!!*
...
Sistem sekuler kapitalisme liberal telah terbukti merusak negeri ini, sepantasnya dan seharusnya sistem ini dibuang dan digantikan sistem baru yang lebih baik.  Di sinilah gerakan mahasiswa tidak perlu malu-malu lagi untuk mengambil Islam sebagai sistem pengganti sekuler kapitalisme liberal. Tak perlu takut disebut membawa isu SARA, karena yang dihadapi bukan agama lain atau suku atau ras tetapi sistem sekuler kapitalisme liberal.
...
Di sisi lain, ada gerakan yang telah berjalan lebih dulu dan kekuatannya semakin terkonsolidasi dan membesar. Gerakan yang dimaksud adalah pergerakan umat Islam yang dipimpin para ulama melalui aksi bela islam 212. Sejak awal gerakan ini membawa semangat perlawanan pada kedzaliman dengan landasan iman dan energi kebangkitan Islam.  Gerakan mahasiswa sepantasnya melakukan konsolidasi dengan kekuatan gerakan 212 sehingga pergerakannya akan semakin kuat.  Kalo kilas balik pada gerakan 98, maka para ulama dan gerakan 212 dapat diposisikan seperti layaknya Forum Rektor tahun 98.
...
Akhirnya penyatuan visi menjadi penting dilakukan tak sebatas isu yang luas dan mendalam. Visi bersama yang bersifat futuristik, menjadi energi tak habis walau berubah generasi. Di tengah benturan peradaban dan  pergolakan politik dunia, regional maupun nasional maka konsolidasi gerakan mahasiswa dan ulama harus mulai membuka diri dan memilih Islam sebagai mainstream visi gerakan. Dan saat memilih Islam sebagai mainstream gerakan maka syariah dan khilafah akan menjadi ruh gerakan ke depan
...
#MHSBangkitLawanKedzaliman
#BangkitBergerakMahasiswa
#MahasiswaBicaraRezimPanik
...

Bumi Salamodiin
22092018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox