Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 07 September 2018

Bukti Lemahnya Fiat Money, Untuk Apa Masih Dipertahankan?


Oleh: Mamik Laila, S.Pd
Praktisi Pendidikan

Kurs rupiah kembali menembus level terlemahnya terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah hari ini, Selasa (4/9) ditutup menembus level Rp 14.935 per dollar AS. Dan diperkirakan rupiah masih bisa anjlok lagi (www.kontan.co.id).

Fenomena melemahnya rupiah yang demikian dahsyat ini semenjak krisis di tahun 1998, 20 tahun yang lalu merupakan pelemahan rupiah di titik yang mengenaskan. Kenapa tidak? Kebijakan yang diambil oleh pemerintah saat ini masih tergolong kebijakan jangka menengah atau jangka panjang, tutur Judiman Ekonom Maybank Indonesia. Semisal, kebijakan penggunaan B20, kebijakan menambah ekspor, dan kebijakan menaikkan tarif pph impor untuk barang konsumsi yang akan diumumkan daftarnya besok, Rabu (5/9) (www.kontan.co.id).

Melemahnya rupiah yang sedemikian tajam ini akan berimbas pada nilai utang Indonesia. berdasarkan data SULNI BI, kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo di 2018 mencapai USD 9,1 miliar yang terbagi menjadi USD 5,2 miliar pokok dan USD 3,8 miliar bunga. Jika menggunakan kurs 13.400 sesuai APBN maka pemerintah wajib membayar Rp 121,9 triliun. Sementara dengan kurs 14.700 beban pembayaran menjadi Rp 133,7 triliun. Apalagi nilai tukar rupiah diatas 14.700?( www.liputan6.com).
Bisa dibayangkan, bagaimana posisi Indonesia di hadapan Amerika?

Akar masalah yang muncul di permukaan karena penggunaan uang kertas atau fiat money. Fiat money ini muncul akibat kehancuran ekonomi setelah perang dunia dua. Pada Bretton Woods, persidangan Internasional setelah perang dunia dua, dihasilkan keputusan yaitu munculnya bank dunia dan IMF. Disinilah cikal bakal pengenalan mata uang kertas atau fiat money yang bernilai tukar tetap (fixed exchange rate). Ketika itu nilai mata uang Dollar Amerika diikat dengan 1/35 troy ounce (888.71 milligram emas). Sedangkan mata uang negara lain diikat dengan nilai US Dollar (www.medium.com).

Pengikatan nilai mata uang lain ke US $ adalah salah satu bukti hegemoni AS ke negara-negara lain termasuk Indonesia. Artinya pelemahan mata uang rupiah saat ini, adalah hasil manifestasi dari ketundukan mata uang kita ke US $. Hingga bisa diperkirakan Jika Indonesia tetap menggunakan fiat money maka akan dipastikan suatu saat nanti, nilai uang rupiah tidak ada harganya. Maukah kita seperti itu? Tentunya kita tidak mau.

Fiat money adalah salah satu bentuk Hegemoni ekonomi kapitalis. Yang menjebak mangsanya menggunakan utang hingga mangsanya tak mampu berkutik sedikit demi sedikit.

 AS sendiri menisbatkan nilai US $ nya menggunakan emas. Kenapa? Karena emas nilainya stabil, dia tidak akan berubah-ubah mengikuti perubahan zaman.

Islam sudah sejak 1400an tahun yang lalu menggunakan mata uang emas berupa dinar dan dirham. Dan sudah terbukti nilai tersebut aman.

Hanya saja, pergantian fiat money ke emas dan perak tidak serta merta bisa diterapkan saat ini. Karena keterikatan dengan konsensus-konsensus. Penggantian fiat money ke emas dan perak bukan hanya dengan penggantian sistem. Dengan sistem baru menuju peradaban dunia baru akan memudahkan fiat money ditumbangkan. Sistem itu adalah sistem Khilafah. Khilafah mampu berdiri sendiri tanpa campur tangan negara lain. Khilafah mampu membangun perekonomian secara mandiri. Khilafah mampu menopang perekonomian tanpa embel-embel fiat money.

Terbukti perekonomian sistem khilafah mampu menopang kesejahteraan masyarakat. Abu Ubaid menuturkan, pada masa Umar ibn al-Khaththab (13-23 H/634-644 M), di provinsi Yaman, tiap tahun Mu’adz ibn Jabal mengirimkan separuh bahkan seluruh hasil zakat kepada khalifah. Sebab, ia tidak menjumpai seorang (miskin) pun yang berhak menerima bagian zakat. Tidakkah kita rindu dengan sistem Khilafah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox