Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 15 September 2018

Barat Bekerja Agresif Selama Ratusan Tahun Untuk Menghancurkan Khilafah, Sekaligus Menyadari… Khilafah Kekuatan Kunci Bagi Umat Islam


Umar Syarifudin (pengamat politik internasional)

 “… Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam.” (Musnad Ahmad, Juz IV, hlm, 273, nomor hadits 18.430. Hadits ini dinilai hasan oleh Nashiruddin Al Albani, Silsilah Al Ahadits Al Shahihah, 1/8; dinilai hasan pula oleh Syaikh Syu’aib Al Arna’uth, dalam Musnad Ahmad bi Hukm Al Arna’uth, Juz 4 no hadits 18.430; dan dinilai shahih oleh Al Hafizh Al ‘Iraqi dalam Mahajjah Al Qurab fi Mahabbah Al ‘Arab, 2/17). Hadiatangnya kembali Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah derajatnya berkisar antara shahih dan hasan.

Selanjutnya Imam al-Ghazali (w. 505 H) menyatakan, “Kita tidak mungkin bisa menetapkan suatu perkara ketika negara tidak lagi memiliki Imam (Khilafah) dan peradilan telah rusak.” (Al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn. Lihat juga syarahnya oleh az-Zabidi, II/233).
Beliau juga menyatakan:

“Karena inilah, dikatakan bahwa agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Dikatakan pula bahwa agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang yang tidak berpenjaga niscaya akan lenyap” (Al Iqtishod Fil I’tiqod halaman 128, Dâr al Kutub Al Ilmiyyah)
Handzalah bin ar-Rabi’ ra ( julukannya Al-Katib karena beliau juru tulis Rasulullah saw) menyebutkan dalam sya’irnya:

Aku heran dengan apa yang sedang digandrungi oleh manusia – mereka berharap agar khilafah lenyap.

Jika dia (khilafah) lenyap maka lenyap pula kebaikan yang ada pada mereka – dan segera mereka menjumpai kehinaan sehina-hinanya
Dan mereka akan menjadi seperti kaum Yahudi atau Nasrani – setiap mereka sama-sama berada di jalan yang sesat
Imam Ahmad ra dalam riwayat Muhammad bin ‘Auf bin Sufyan al-Hamshi berkata:
“(akan terjadi) fitnah apabila tidak ada seorang imam yang mengurusi urusan manusia.”

Umat telah merasakan, bahwa tanpa khilafah, hukum syari’ah benar-benar hilang penerapannya satu persatu, sebagai gantinya berkembanglah berbagai kemaksiyatan. Rasulullah sendiri menegaskan, bahwa ketika hukum/pemerintahan Islam runtuh, maka hukum-hukum lain akan tercerabut dari kehidupan, bahkan shalat sekalipun. Rasulullah saw menyatakan hal ini :
“Ikatan-ikatan Islam akan terburai satu demi satu, setiap kali satu ikatan terburai orang-orang bergantungan pada ikatan selanjutnya. Yang pertama kali terburai adalah masalah hukum (pemerintahan) dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad dari Abu Ya’la, dengan sanad shahih)

Khilafah Menurut Barat
Bicara tentang kembalinya khilafah penulis mengutip  pendapat Pat Buchanan, pendiri dari majalah The American Conservative dan penasihat untuk tiga mantan presiden Amerika, Nixon, Ford dan Reagan. Buchanan berkata, "Jika pemerintahan Islam adalah ide yang menguasai di antara umat Islam, bagaimana bahkan tentara terbaik di dunia menghentikannya?"
Putin, Presiden Rusia, berbicara dalam sebuah acara dialog di sebuah setasiun televisi yang disiarkan secara langsung pada bulan Desember tahun 2002 mengumumkan, “Terorisme internasional telah mengumumkan peperangannya atas Rusia dengan tujuan merampas sebagian wilayah Rusia dan mendirikan Khilafah Islamiyah”.

Henry Kissinger berpidato dalam Konfrensi Hindustan Times yang kedua di India pada 6 November 2004, di hadapan para pemimpin negara ia menyampaikan, “Ancaman-ancaman itu sesungguhnya tidak datang dari teroris, sebagaimana yang kita saksikan pada 11 September. Akan tetapi, ancaman itu sesungguhnya datang dari Islam fundamentalis ekstrim yang berusaha menghancurkan Islam moderat yang bertentangan dengan pandangan pandangan kelompok radikal dalam masalah Khilafah Islamiah”.

Kissinger juga mengatakan, “Musuh utama, sejatinya adalah kelompok ekstrim Fundamentalis yang aktif dalam Islam dimana dalam saat yang sama ingin mengubah masyarakat Islam moderat dan masyarakat lain yang dianggap sebagai penghalang penegakan Khilafah”. (Surat Kabar Newsweek edisi VIII November 2004)
Selanjutnya Lord Curzon, Menlu Inggris pada masa runtuhnya Khilafah mengatakan, “Kita telah menghancurkan Turki dan Turki tidak mungkin akan kembali bangkit. Sebab kita telah menghancurkan dua kekuatannya; yakni Islam dan Khilafah”. Saat ini, cita-cita itu kembali mengantui Barat setelah kaum Muslim kembali menyatukan tekad untuk mengembalikan Khialfah ke atas panggung negara.”

Para pemimpin Barat dan para pemikirnya memahami bahwa Khilafah Islamiyah ini lebih dari sekadar gagasan bagi kaum Muslim; Negara ini menjadi kekuatan kunci umat Islam. Gema seruan untuk kembalinya Negara Khilafah mengakar di seluruh dunia, dan ketika seruan itu menjadikan umat bangkit berdiri dan bergerak kembali pada saat system kapitalisme yang dipromosikan barat gagal dan kekuatan negara kolonialis barat mengalami pendarahan hebat.

Situasi bangkitnya umat menjadi horor bagi Negara-negara barat, merekalah yang selama ini bekerja aktif selama ratusan tahun untuk melemahkan negara Khilafah, sampai mereka berhasil menghancurkannya. Motif utama mereka adalah untuk memastikan kolonialisme dan penaklukan yang terus menerus dari umat, dan untuk mencegah Khilafahan Islam tegak kembali. Merekalah yang memecahbelah wilayah umat ke lebih dari 50 negara bangsa dan mengkoordinir urusan umat menurut aturan secular. Barat sebagai aktor utama yang menghapus Islam dari urusan pemerintahan, menggantikan Islam dengan hukum buatan manusia.
Barat ketakutan saat khilafah akan menyatukan umat sebagai satu tubuh, diperintah oleh seorang khalifah yang adil dan menerapkan Syariah Islam. Ini berarti dari Indonesia dan Malaysia di seluruh Bangladesh, India dan Afghanistan, lanjut ke republik Asia Tengah dan Kazakhstan, di seluruh Timur Tengah ke Turki, dan seterusnya ke puncak benua Afrika Maroko, Tunisia dan di seberang Aljazair dan Libya ke Mesir dan selatan ke Sudan dan Somalia, semua akan menjadi satu Negara yang bersatu dalam sebuah kekuatan. Khalifah akan menjamin keamanan, kemakmuran dan keselamatan yang besar bagi warga yang tinggal di seluruh wilayah dalam Negara.

George Bush, Donald Rumsfeld, dan Dick Cheney semuanya juga telah membicarakan tentang keinginan kaum Muslim untuk mendirikan Khilafah dan mereka semua berbicara tentang itu sebagai ancaman terhadap kepentingan nasional Amerika. Dengan terpilihnya Presiden Trump, sebelumnya Obama, tidak ada perubahan pada tujuan kebijakan luar negeri Amerika, dia melanjutkan War on Political Islam.
Pensiunan Kepala Angkatan Bersenjata Inggris dan penasehat Perdana Menteri Inggris, Jenderal Richard Dannatt mengaku dalam wawancara dengan BBC Radio 4 bahwa tujuan di balik perang di Afghanistan adalah "ada agenda Islamis yang jika kita tidak menentangnya dan menghadapinya di Afganistan Selatan, atau Afghanistan, atau di Asia Selatan, maka terus terang pengaruh itu akan tumbuh. Bisa juga tumbuh, dan ini adalah poin penting, kita bisa melihatnya bergerak dari Asia Selatan ke Timur Tengah ke Afrika Utara, dan ke tanda air yang tinggi dari kekhalifahan Islam di abad 14, 15. "

Situasi pada saat Khilafah Islamiyah berhasil dihancurkan disimpulkan oleh David Fromkin, profesor dan ahli Sejarah Ekonomi di Universitas Chicago, berbicara tentang sikap para penguasa barat terhadap kaum Muslim dengan pernyataan, "… dan kekuatan Pialang yang memutuskan nasib orang-orang yang kalah itu secara alami ditentukan bahwa negara-negara ini seharusnya tidak pernah dapat mengorganisir dan mengancam kepentingan Barat lagi. dengan pengalaman beradab yang berabad-abad lamanya, Inggris dan Perancis menciptakan negara-negara kecil yang tidak stabil yang penguasanya membutuhkan dukungan mereka untuk tetap berkuasa. Perkembangan dan perdagangan negara-negara ini dikendalikan dan mereka tidak lagi dimaksudkan untuk menjadi ancaman bagi Barat, kekuatan eksternal ini kemudian membuat kontrak dengan boneka mereka untuk membeli sumber daya Arab dengan harga murah, membuat elit feodal sangat kaya sambil meninggalkan sebagian besar warga miskin. "

Watak politik peradaban sekuler telah memperlihatkan sinisme dari politik sekuler yang menjadi akar Islamophobia dan stigmatisasi masyarakat muslim lalu dipaksakan melalui mekanisme politik sekuler agar menjadi menjadi norma yang diterima publik. Ini representasi sistem sekuler, baik yang dilaksanakan oleh pemerintah sosialis atau kapitalis mengidap genetik rasisme religius yang menindas minoritas muslim dan melucuti hak-hak dasar mereka. Gembar-gembor Barat tentang HAM dan demokrasi menjadi slogan kosong, lelucon, kemunafikan, dan dekadensi kebebasan sekuler yang membiarkan jutaan kaum muslim dibantai di berbagai negeri.

Keniscayaan Zaman?
Khilafah berpotensi besar berdiri kembali di saat negara-negara kapitalis barat yang tampak berkembang pesat, namun kapitalisme hadir sebagai sistem yang cacat selalu rentan terhadap masalah; dan IMF telah menghitung lebih dari seratus jumlah krisis keuangan di dunia kapitalis dalam empat puluh tahun terakhir. Namun sebagian muslim mempercayai bahwa ide-ide kapitalisme yang cacat ini sebagai jalan hidup dan solusi utama atas masalah-masalah ekonomi mereka, dan krisis ekonomi global telah mulai merugikan mempengaruhi warga di negara-negara terkaya, yang menyebabkan kerusuhan sipil . Kenyataannya masalah-masalah yang dirasakan di seluruh pelosok peradaban barat sekarang sedang ditelusuri kembali ke kapitalisme, dan orang barat mempertanyakan kapitalisme itu sendiri.

Kekuatan Khilafah dengan sistem ekonomi Islam selama lebih dari 1300 tahun menerapkan sistem ekonomi Islam tanpa resesi, krisis ekonomi dan tanpa satu krisis ekonomi tunggal dalam seluruh sejarahnya. Hukum Islam mendorong aktivitas ekonomi menuju pertumbuhan; ini memastikan ada keseimbangan dalam masyarakat, dengan kekayaan yang didistribusikan bukannya terkonsentrasi di tangan segelintir orang seperti yang kita lihat dalam kapitalisme. Khilafah memiliki kekuatan ekonomi dan industri seperti kemandirian dalam produksi pangan. Neger-negeri muslim hari ini memiliki ketersediaan bahan baku melimpah ruah terutama energi, kemajuan teknologi, industrialisasi, ketersediaan tenaga kerja, pasar domestik yang besar, ketika khilafah tegak berpotensi besar mengarah pada kemakmuran ekonomi dan memiliki pertumbuhan berkelanjutan. Ini factor penopang sehingga Khilafah di masa depan – sebagaimana yang diprediksi barat-  mampu menjadi negara nomor satu di dunia menggantikan posisi Amerika Serikat.

Negara-negara kolonialis barat seperti AS, Rusia, Inggris dan Uni Eropa Frustasi untuk mencegah pembentukan Khilafah disbabkan kekhawatiran mereka secara kalkulatif, bahwa Negara Khilafah Islam akan mengendalikan takdir ekonomi, strategis, dan politik Eropa, Asia, Rusia, dan AS dengan muncul sebagai negara terdepan di ranah politik internasional.

Barat telah memprediksi dengan cermat, ketika dunia Islam melebur menjadi satu kekuatan, akan mengaborsi seluruh agenda kolonialis barat. Gabungan Dunia Islam dalam satu kekuatan akan memiliki militer aktif 5,7 juta, dibandingkan dengan Amerika Serikat yang hanya memiliki 1,5 juta. Sedangkan seluruh dunia Islam memiliki sekitar 0,4 juta lebih anggota militer aktif dibandingkan dengan total lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Mengenai senjata, umat Islam gabungan memiliki teknologi senjata dan kemampuan manufaktur yang besar, serta lahan, pesawat udara dan angkatan laut serta senjata yang ada. dengan populasi muda besar yang mampu dinas militer dan dengan sumber daya energi yang luar biasa dan logistik yang tersedia, Negara Khilafah Islam dapat memenuhi kebutuhan militer dalam beberapa bulan dengan kebijakan industri militernya.

Realitas
Kembalinya Kekhalifahan Islam Negara telah dilihat barat dengan kaca pembesar. Mereka paham, negara ini ketika tegak nantinya benar-benar membangun tatanan dunia baru yang bermartabat, melepas lingkaran setan penindasan dan hegemoni kapitalisme, sekaligus memperkuat umat Islam juga akan membawa seluruh umat manusia keluar dari ruang kegelapan peradaban kapitalisme menuju cahaya.
Hari ini, ada banyak umat Islam dari Indonesia sampai Maroko hari ini telah memahami tentang Negara Khilafah dan realitasnya. Secara realitas, kekuatan akidah Islam telah memotivasi semua Muslim sepanjang sejarah dan selama hari ini tercermin dari keinginan mereka untuk menegakkan seluruh aturan Allah Swt. dalam konteks individual sampai konteks negara. Kondisi hari ini, umat berada pada situasi yang tidak sederhana dan mudah. Saat umat ​​bekerja keras untuk kembali bersatu dengan kekuatan Islam, Negara-negara barat bekerja keras untuk mencegah mereka.

Kaum Muslim hendaknya tetap tsiqoh pada keyakinan Islam mereka dan tetap teguh untuk menegakkan seluruh kewajiban Islam, termasuk dalam tuntunan dalam berakhlak sampai bernegara dan tidak ditenggelamkan oleh rasa takut kepada ancaman Negara-negara yang represif menindas mereka. Firman Allah, “Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (Surah ar-Rum [30]: 60).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox