Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 05 September 2018

AGAMA NASIONALISME #1


©Vier A. Leventa
(GEMA Pembebasan Yogyakarta)

Rezim bersama lingkarannya sedang berupaya mendefinisikan secara arogan arti persatuan. Individu ataupun kelompok yang berlainan pendapat atas satu persoalan, dengan tanpa syarat dan dialog yang bijaksana dapat dikategorikan sebagai the other atau kelompok sektarian, sedangkan kehendak penguasa adalah kehendak yang mewakili mayoritas secara mutlak.

Individu dan kelompok yang mencoba keluar dari “agama” kebangsaan dicap sebagai unsur-unsur pemecah-belah bangsa dan negara. Dengan mengusung nasionalisme sebagai dasar berpikir, kelompok yang mengklaim dirinya sebagai “penjaga NKRI” memonopoli perjalanan hidup masyarakat yang ada. Tanah air telah diangkat sampai taraf tertinggi yang sakral melampaui apapun. Hingga yang kita temukan hanyalah chauvinisme yang brutal.

Demi menjaga persatuan wilayah -yang itupun belum bisa dipastikan-, maka wacana alternatif yang seberapa berguna pun, jika ia dianggap datang dari luar wilayah bangsa akan ditentang demi klaim menjaga persatuan bangsa dan wilayah tersebut, padahal apakah nasionalisme itu murni lahir dari jati diri masyarakat inipun masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab--. Sesungguhnya inilah masa ketika rasisme, sukuisme, fasisme, dan nasionalisme hampir tak dapat kita bedakan. Hingga kita menemukan sikap kekanakan yang tak semestinya terjadi antar negara maupun di dalam internalnya sendiri.

Melihat persoalan tersebut, saya meminjam pernyataan dari Abul A’la Maududi yang masih sangat relevan dengan kejadian yang menimpa negeri belakangan ini, bahwa persoalan dan masalah tercemarnya peradaban ini adalah terjadinya pertumbuhan rasa perbedaan sukubangsa (ras), kebangsaan, dan kecongkakan nasional serta prasangka-prasangka. [1]

Dalam kajian ilmuwan Barat, maka akan ditemui beberapa definisi terkait paham nasionalisme/kebangsaan yang kini menjadi landasan hampir setiap negara di dunia, termasuk Indonesia. Menurut Daniele Conversi,

 “Paham nasionalisme didasari oleh asumsi bahwa dunia secara alami terbagi-bagi menjadi berbagai entitas berbeda yang disebut bangsa. Maka dari itu, nasionalisme merupakan suatu proses kategorisasi sosial dalam menentukan mana pihak yang tergolong “diri-sendiri” (self) dan mana yang tergolong “pihak lain” (other).” [2]

Dengan lahirnya kategorisasi ini telah menimbulkan berbagai macam penyakit di dalam peradaban. Tiap-tiap negara-bangsa bersaing satu dan lainnya guna mencapai puncak semu kemajuan, tanpa memperhatikan lagi etika dan norma yang dapat dipertanggungjawabkan. Perang Dunia Pertama dan Kedua yang baru beberapa puluh tahun berlalu adalah bukti dan dampak yang nyata atas agama baru ini.

Kemudian menjadi pertanyaan pula bagi kita, “Bagaimanakah proses terbentuknya berbagai entitas berbeda yang disebut sebuah bangsa itu terjadi? Apakah yang menjadi batasannya? Faktor-faktor seperti apa yang mendorong hal tersebut terjadi?”. Tentu pertanyaan semacam ini perlu kita jawab segera.

Sedangkan Elie Kedourie menjelaskan nasionalisme sebagai doktrin yang didasarkan pada kepercayaan bahwa:

“umat manusia secara alami terbagi-bagi dalam berbagai bangsa, bahwa bangsa-bangsa tersebut dapat dikenali melalui beberapa sifat khas yang dapat diketahui dengan jelas, dan bahwa satu-satunya pemerintahan yang sah adalah pemerintahan yang diselenggarakan secara mandiri oleh suatu bangsa.” [3]

Dengan melihat pengertian di atas akan kita temukan bahwa secara kongruen, bangsa dan negara (sebagai sebuah institusi independen) saling berkait-kelindan. Hingga dapat kita simpulkan suatu bangsa yang kemudian mampu menentukan nasibnya sendiri (self determination) dalam sebuah negara independen bukan lahir dari sekadar proses alami, melainkan lahir dari proses-proses politik.

Lalu yang juga menjadi pertanyaan kita selanjutnya adalah, bagaimanakah bangsa dan negara Indonesia ini dapat terbentuk? Apakah melalui proses-proses alaminya, dengan hanya karena kesamaan sejarah dan nasib dalam penjajahan dahulu kala, atau sebab pertimbangan kesamaan agama, etnis, wilayah, budaya, dan bahasa? Ataukah terbentuk dari proses politik yang berkepentingan?Sebab sekarang jika kita melihat segala problema yang muncul, sangat patutlah kita bertanya, “Atas dasar apa kita diklasifikasikan sebagai sebuah bangsa dan negara yang disebut sebagai Indonesia?”, saat ini secara sadar maupun tidak kita sedang merasa terpaksa untuk mengakui hal yang tidak kita ketahui, bahkan lebih parahnya jika kita mencoba mengkritisi kebijakan-kebijakan politik tertentu pemerintah dalam wilayah dan bangsa ini, dapat dengan mudahnya melontarkan tuduhan, “Kalian gerakan makar, pemecah-belah bangsa dan negara! Anti-perbedaan!” Dan anti-anti lainnya.

Melihat kenyataan sejarah yang ada, maka akan kita temukan bahwa bangsa dan negara Indonesia, adalah bangsa yang memiliki kesamaan sejarah sebagai jajahan kolonialis Belanda. Wilayah teritorial yang saat ini kita pertahankan sebagai harga mati, merupakan warisan kolonial beberapa ratus tahun yang lalu dan hanya dilanjutkan dalam proses kemerdekaan. Begitu pun dengan negara-negara lain saat ini yang dulunya merupakan negeri jajahan Imperialis dan Kolonialis Barat.

Inilah asal-usul bangsa Indonesia. Ke-Indonesiaan kita ternyata bukan identitas yang given dari langit melainkan identitas artifisial (buatan), hasil rekayasa politik, warisan kolonial Belanda. Anthony D. Smith, sosiolog yang konsen dalam studi tentang kebangsaan dan nasionalisme, menyatakan bahwa indonesia merupakan salah satu bangsa yang karakter dan batas-batasnya ditentukan oleh negara kolonial. [4]

Benedict Anderson pun membuat pernyataan yang serupa atas hal ini, tentang asal-usul Bangsa Indonesia dalam karyanya, Imagined Comunities. Dia mengatakan:

“Kasus Indonesia memberikan gambaran kerumitan dari proses tersebut (pengaruh kolonialisme terhadap pembentukan negara-bangsa -pent) dengan cara yang mengesankan, bukan hanya karena ukurannya yang luas, populasinya yang besar (bahkan pada masa kolonial), fragmentasi geografis (sekitar 3.000 pulau), keragaman agama (Islam, Buda, Katolik, Protestan, Hindu dan animisme), dan juga perbedaan etno-linguistiknya (lebih dari 100 kelompok berbeda); lebih dari itu, sebagaimana ditunjukkan oleh namanya -yang merupakan campuran pseudo-hellenic- (maksudnya nama indo-nesia -pent), bentangannya sama-sekali tidak memiliki hubungan dengan faktor-faktor sebelum penjajahan; sebaliknya, tapal-tapal batasnya merupakan warisan dari penaklukan Belanda yang terakhir, paling tidak sebelum invasi brutal yang dilakukan oleh Jendral Soeharto ke bekas jajahan Portugis -Timor Timur“. [5]

Anderson juga mengungkapkan keganjilan yang menyeruak ketika mengamati hubungan antara penduduk Sumatera, Semenanjung Malaka dan Ambon. Dia mengatakan:

“Sebagian penduduk di pesisir pantai timur Sumatera yang berseberangan dengan Semenanjung Malaka bukan hanya secara fisik dekat dengan masyarakat Pesisir Barat Semenanjung Malaka, tapi mereka juga punya hubungan etnis, dapat memahami bahasa satu dengan lainnya, dan seterusnya. Orang-orang Sumatera tidak memiliki kesamaan bahasa-ibu, etnisitas maupun agama dengan penduduk Ambon yang tinggal di sebuah pulau ribuan mil jaraknya ke arah timur. Namun selama kurang dari satu abad ini, mereka mulai menganggap orang-orang Ambon sebagai saudara se-Indonesia sedangkan orang Malaysia mereka anggap sebagai orang asing“. [6]

Atas dasar itu, dia juga menyatakan penyangkalannya terhadap Soekarno yang sering menyatakan bahwa Indonesianya telah berumur ratusan tahun:

“Presiden Soekarno selalu bicara dengan penuh keyakinan mengenai 350 tahun masa penjajahan yang diderita oleh “Indonesia”nya. Meskipun sebenarnya konsep “Indonesia” merupakan penemuan Abad ke-20“. [7]

Menjadi terang bagi kita, bahwa apa yang diklaim sebagai volunte generale saat ini sangat sulit dipertanggungjawabkan secara rasional. Bangsa dan negara Indonesia yang dikenal saat ini tak lebih dari hasil kerja politik selama ratusan tahun oleh pemerintah kolonial Belanda, dan ajaibnya hal inilah yang diperjuangkan mati-matian oleh sekelompok dari masyarakat kita.

Begitu bangganya kelompok-kelompok ini mewarisi batas-batas serta sistem yang diturunkan oleh bangsa imperialis, hingga mereka rela berbenturan dengan kelompok manapun yang coba mempertanyakan kembali dan memberikan solusi tepat serta penting tentang hakikat bangsa dan negeri ini.

Padahal jika kita mau membuka sedikit saja mata akan sejarah yang sebenarnya, maka akan banyak sekali kita temukan jejak-jejak yang lebih berbekas pada masyarakat ini.
Jejak-jejak yang telah menorehkan tinta emas peradaban, bukan penjajahan dan penindasan, yakni jejak peradaban Islam yang menjadi landasan dalam bermasyarakat dan bernegara bagi manusia Nusantara.

Apa yang disebut dengan kebangsaan atau nasionalisme ini pada kenyataannya telah membuat kericuhan dalam kehidupan kita, telah hadir sebagai agama baru yang diikuti oleh pengikutnya dengan taklid buta. Menilik peristiwa sejarah, akan kita dapati bahwa penyakit ini telah merebak seperti wabah dalam dunia Islam yang pada akhirnya menghancurkan daulah Muslim di berbagai penjuru dunia.

Sebagaimana dinyatakan oleh Abul A’la Maududi,

“Penyakit ganas inilah yang telah menghancurkan dan meruntuhkan kekuasaan Umayah, memberi udara busuk kepada bangsa-bangsa Arab, menghancurkan pengikut-pengikut Umayah di Spanyol dan akhirnya mengakibatkan dimusnahkannya sama sekali kaum Muslimin di negeri itu. Juga penyakit itu telah merobohkan Daulat Mogul serta negara-negara Islam di wilayah Deccan. Allah dan Nabi-Nya memerintahkan kaum Muslimin agar supaya bersatu melalui keyakinan yang sama dalam Islam, serta agar supaya menjadi saudara satu dengan yang lainnya. Sayang sekali kaum Muslimin umumnya terlupa dan mengabaikan hal itu, sehingga jatuh ke dalam purbasangka-purbasangka rasial, suku-bangsa, dan kedaerahan.” [8]

Sifat ananiyah atau mementingkan diri sendiri (selfishnessI) ini telah menyebabkan runtuhnya segala kekuatan Islam. Islam yang sejak semula menghapuskan loyalitas yang didasarkan pada ras, bahasa atau kebangsaan ini, malah ditinggalkan.

Maka janganlah kita heran jika saat ini ditemukan perpecahan-perpecahan hanya sebab persoalan sepele di tengah-tengah kaum Muslimin itu sendiri. Itu karena kacamata kuda nasionalisme masih bertengger pada mata nyalang mereka yang buta.

Keterangan:
[1] Abul A’la Maududi, Dunia Islam Dewasa Ini, Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1980, hlm. 31
[2] Daniele Conversi, Reassessing Curren Theories of Nationalism: Nationalism as Boundary Maintenance and Creation, Jurnal Nationalism and Ethnic politics, Vol.I, No.I (1995), hal. 81
[3] Elie Kedourie, Nationalism (Oxford: Blackwell Publisher, 1996), hal. 1
[4] Anthony D. Smith, National Identity (London: Pinguin Books, 1991), hlmn. 106
[5] Benedict Anderson, Imagined Comunities Reflection on The Origin and Spread of Nationalism (London, New York: Verso, 1991),  hal. 120. Buku Anderson ini dicetak pertama kali tahun 1983, sebelum Timor Timur lepas dari Indonesia, menjadi Timor Leste. Maka, dengan lepasnya Timor Timur, wilayah Indonesia benar-benar ditentukan oleh tapal batas penjajahan Belanda yang terakhir.
[6] Ibid, hal. 120-121
[7] Ibid, hal. 11
[8] Abul A’la Maududi, Op.cit., hlm. 32

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox