Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 10 September 2018

Ada Juga Suara Gus Nur, yang Menggema di Tengah Arus Perubahan Besar


Achmad Fathoni
(dir. El Harokah Research Center)

Adalah Ust. Abdul Somad, Ust. Felix Siauw, Gus Nur hadir di tengah-tengah publik di tengah situasi umat membuat arus perubahan menuju penegakan syariah. Ketiganya tak lekang dari potensi ancaman persekusi. Namun hari ini setiap komponen umat ini tak mau ketinggalan berada di garis depan sebagai benteng pelindung ulama dan agama yang sedang menjadi korban kriminalisasi oleh penguasa. Suatu sinyal kemunduran bagi negeri ini jika para ulamanya menjadi sasaran kriminalisasi, padahal seharusnya mereka ditempatkan diposisi yang mulia sebagai pewaris para nabi.

Setelah beredar kabar penolakan ceramah UAS dibeberapa daerah, kini Gus Nur dikabarkan dilaporkan oleh pihak-pihak tertentu dengan laporan melakukan tindak pidana pencemaran nama baik, menyebarkan informasi yang menimbulkan kebencian, sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3) dan Pasal 45-A ayat (2) UU No. 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU No. 11 tahun 2008 tentang I.T.E.

Setelah sebelumnya HRS menjadi sasaran kriminalisasi, selanjutnya rezim ini mengarahkan bidikannya pada ormas Islam HTI. Kasus HTI menjadi bukti sungguh begitu sensitifnya rezim ini terhadap segala hal yang berbau Islam sampai ajaran Islam ‘Khilafah Rosyidah’ pun mau mereka kriminalisasi. Rezim seperti alergi dan phobia dengan segala hal yang berbau Islam, padahal Islam adalah agama dan ajaran yang tinggi dan suci. Ulamanya adalah orang-orang yang hanif dan lurus yang senantiasa menyampaikan kebenaran meskipun nyawa taruhannya. Umatnya adalah umat yang luar biasa yang senantiasa satu barisan dalam membela agamanya, ulamanya dan kepentingan umat ini.

Penguasa seolah-olah kembali ke masa silam, era di mana ulama dan Islam selalu dicari-cari kesalahannya untuk dikriminalisasi. Tidak menjadi masalah jika tindakan yang sama dilakukan oleh kelompok selain Islam, tapi menjadi masalah ketika Islam dan para ulama yang melakukannya.

Membincang problem kriminalisasi, Islam dan ulamanya menjadi ancaman bagi eksistensi ideologi kapitalisme yang mereka emban, sehingga rezim ini mulai bertindak represif. Mereka berkeras hati mempertahankan sistem ekonomi kapitalisme yang bathil, sistem politik lewat demokrasi yang cacat, dan liberalisme yang merusak. Sementara sikap kritis ulama dan umat Islam tidak dipandang sebagai masukan/kritik menuju perbaikan tapi dianggap sebagai ancaman atas kekuasaannya yang makin lemah dukungan dan makin tampak kebobrokannya. Sejatinya bukan Islam dan para ulama yang menjadi ancaman bagi negeri ini.
Kapitalismelah yang menjadi malapetaka bagi bangsa ini. Rezim yang mengadopsi kebijakan kapitalisme yang membuat kolaps perekonomian rakyat. Jumlah rakyat miskin semakin meningkat akibat negara mencabut subsidi bagi rakyat. Sistem ekonomi yang berdasarkan riba dan privatisasi SDA milik publik telah membuat kenyang kaum kaya dan membuat kaum miskin kelaparan. Lewat pasar bebas, kapitalisme dengan harga murah telah membeli rasa hormat seorang perempuan untuk dieksploitasi tubuhnya sebagai iklan, hiburan dan industri seks.

Liberalisme telah mencetak generasi negeri ini sebagai pribadi yang individualistik, menolak budaya sopan santun dan mengagung-agungkan gaya hidup bebas gaya barat yang akan menghantarkan negeri ini pada lost generation akibat maraknya seks bebas, aborsi dan LGBT. Liberalisme pula yang berhasil mencetak pribadi yang tak bertanggung jawab yang telah mnyebabkan mewabahnya kerusakan keluarga, kekerasan dalam rumah tangga, penelantaran anak, dan tingginya tingkat perceraian yang mengancam rapuhnya ketahanan keluarga.

Ingat, Tindakan-tindakan repsresif terhadap upaya amar ma’ruf nahi mungkar tersebut muncul beberapa waktu lalu yaitu kasus pembubaran ormas Islam, pembubaran kajian-kajian para ulama, berita percakapan mesum seorang ulama, dan lelucon nyeleneh tentang Islam. Bahkan pengkroyokan “orang gila” kepada ulama dan penghancuran masjid, belum lagi maraknya pemerintah yang anti-kritik. Berkaca pada kasus-kasus tersebut, pemerintah seolah terkesan Islamophobia.

Bahkan terkesan seperti ada takut kepentingannya terusik. Entah akan bernasib seperti apa islam di Indonesia yang merupakan negeri bermayoritas muslim ini. Jika terus terjadi maka bisa jadi bibit-bibit islamophobia akan timbul di Indonesia. Bibit-bibit ketakutan berlebihan terhadap islam tanpa landasar berpikir yang kuat tentang islam, bahkan menjurus kepada pemikiran yang salah dan mengada-ngada.

Efek islamophobia secara global telah terjadi di belahan dunia lain seperti Amerika, Perancis, China, dan Belanda. Para muslim minoritas menjadi korbaan kekerasan fisik, pelarangan memakai jilbab, penghancuran rumah ibadah, bahkan hingga pelarangan nama yang berbau Islam. Ketakukan bahkan sampai kepanikan tersebut telah dicoba untuk disusupi di Indonesia. Dan Aksi-Aksi Bela Islam wajar akan terus terjadi, ini sebagai bentuk perlawanan umat terhadap oknum-oknum yang merugikan Islam dan umatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox