Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 25 Agustus 2018

VONIS MEILIANA: Mengapa rame-rame diprotes?



by John Suteki

Meiliana, seorang wanita di Tanjung Balai, Sumatera Utara divonis 1,5 tahun penjara karena terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan penistaan agama setelah meminta pengurus masjid di dekat rumahnya untuk mengecilkan suara adzannya dua tahun lalu---tentu saja disertai beberapa peristiwa dan pernyataan lainnya. Pernyataan Meiliana itu kemudian menyulut kerusuhan bernuansa SARA.

Sidang pembacaan putusan dilakukan oleh Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan, yang diketuai Wahyu Prasetyo Wibowo pada hari Selasa (21/8/2018). Majelis hakim menyatakan Meiliana terbukti bersalah melakukan perbuatan penistaan agama yang diatur dalam Pasal 156A KUHPidana.

Diktum putusan hakim itu berbunyi:
"Menyatakan terdakwa Meliana terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia. Menjatuhkan kepada terdakwa pidana penjara selama 1 tahun 6 bulan dikurangi masa tahanan".

Saya mencoba memahami kronologi kasus ini. Sepintas memang janggal kalau memprotes volume suara adzan saja kok dianggap sbg penodaan agama Islam. Hingga banyak tokoh nasional bahkan menteri, mantan menteri, wapres angkat bicara yg intinya TIDAK SEPENDAPAT dengan PUTUSAN HAKIM. Benarkah protes mereka?

Saya harus tegaskan di sini bahwa hakim memutus perkara itu tidak harus berdasarkan aturan dan prosedur teknis saja melainkan wajib menggali NILAI-NILAI HUKUM dan RASA KEADILAN di dalam masyarakat. Hal ini diatur dlm Pasal 5 Ayat 1 UU No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman. Jadi rasa keadilan yg dialami oleh masyarakat setempat juga boleh dijadikan sebagai pertimbangan hukum (legal reasoning) hakim dalam proses memutus perkara. Menurut saya, hakim dlm kasus ini tdk hanya mempertimbangkan alat bukti apalagi barang bukti tetapi lebih pada alat bukti lain berupa KETERANGAN SAKSI.

Pada artikel tentang KRONOLOGI PERKARA, saya menemukan fakta sebagai berikut:

"Setelah berdialog dengan jemaah masjid, Harris Tua Marpaung selaku Imam Masjid dan beberapa pengurus Badan Kemakmuran Masjid mendatangi rumah Meiliana. Di sana sempat terjadi perdebatan antara jemaah masjid dengan Meiliana.

“Lu, Lu yaa (sambil menunjuk ke arah jemaah masjid). Itu masjid bikin telinga awak pekak. Kalau ada pula jemaah minta berdoa, minta kakilah bujang, bukannya angkat tangan,” ucap Meiliana seperti diceritakan Harris Tua saat dijumpai Tempo di Masjid Al Maksun pada Kamis, 4 Agustus 2016."

Saya sangat memahami perasaan masyarakat muslim ketika peristiwa ini terjadi sehingga melaporkan Meiliana ke polisi hingga berbuntut Meiliana ditetapkan sebagai tersangka. Saya pun memahami sikap polisi utk menetapkan Meiliana sebagai tersangka untuk meredam issue dan melokalisir kasus ini agar tidak meluas menjadi issue SARA. Bisa mengarah konflik ISLAM-KONGHUCU atau mungkin juga menjadi issue ANTI CINA. Keadaan ini tentu jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan menetapkan Meiliana sebagai tersangka.

Masih ada upaya hukum lain setelah putusan PN Tanjungbalai ini bila pihak Meiliana tidak puas atas putusan tersebut. Masih ada upaya Banding hingga Kasasi bahkan Peninjauan Kembali. Bila Anda dan para "pejabat negeri" yang berada dipihak Meiliana, Anda pun boleh membantu menempuh upaya hukum itu tanpa harus mendeskreditkan umat Islam sebagai pihak yg INTOLERAN dan ANTI KEBHINEKAAN. Sudah terlalu sering umat ini "merasa" disakiti. Padahal, umat Islam adalah umat yg paling toleran bukan? Dan tahukah Anda bagaimana rasanya disakiti? Ehemm..sakitnya tuh di sini!

Mari saya mengajak untuk saling menghargai, toleran terhadap perbedaan bahkan terhadap kesalahan orang lain hingga ambang batas tertentu. Jangan saling menyudutkan, mendholimi dan mempersekusi.
Semoga...!

1 komentar:

  1. Super sekali.prof,islam lgi..islam lgi yg salah...pling toleran di bilang intoleran..mumet sy

    BalasHapus

Adbox