Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 17 Agustus 2018

MERAJUT POLITIK BERMARTABAT



Aminudin Syuhadak
DIrektur LANSKAP

Menyaksikan hiruk-pikuk seputar penentuan capres-cawapres yang baru lalu, yang bak roller coaster, seharusnya mampu menghadirkan sebuah perspektif baru terhadap sistem politik yang ada bagi publik. Tentu yang penulis maksud adalah perspektif yang lebih mencerahkan.

Kencangnya rumor terkait mahar politik di satu pihak ataupun manuver beraroma 'PHP' di pihak lain sudah seharusnya tidak dinilai sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja, meminjam pernyataan pengamat Rocky Gerung hal tersebut merupakan sebuah penghinaan terhadap moralitas publik. Penulis sepakat, bahkan bisa diteropong lebih mendalam lagi.

Coba kita perhatikan ulang tudingan vulgar Andi Arief soal jenderal kardus, lalu drama di-PHP-nya tokoh senior sekaliber Mahfud MD oleh kubu petahana, saling klaim pembela rakyat dan pecinta ulama dari masing-masing kubu yang terus dikobarkan daring-luring...Hmm, jelas merefleksikan situasi politik yang sedang sakit, atau menurut penulis lebih tepat disebut politik tidak mulia. Politik yang kosong dari unsur martabat.

Kenapa? Tampak telanjang sekali bahwa para politisi telah dengan sengaja menafikan aspek moral sekaligus akal sehat publik yang menyaksikan segala kekonyolan mereka yang sama sekali tidak lucu, jika tidak bisa dibilang memuakkan. Ini jelas sekali kontras dengan harapan publik akan hadirnya sistem politik yang cerdas dan solutif, alih-alih politik acak adut seperti saat ini.

Sejatinya sistem politik bertujuan untuk menata kehidupan negara agar mampu menghadirkan tata  kehidupan yang layak bagi rakyatnya. Ujungnya adalah terpenuhinya kebutuhan dasar (sandang, pangan dan papan) serta hak dasar (pendidikan, kesehatan dan keamanan) rakyat. Sedemikian mulianya tugas tersebut maka seharusnya sistem politik terbaiklah yang harus digunakan.

Sistem politik terbaik tentunya akan menghasilkan politik yang bermartabat. Politik yang nihil dari atribut hipokrit, culas, transaksional hingga menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan. Politik yang bersumber dari akal sehat dan nurani yang tulus mengabdi untuk kepentingan rakyat, bukannya tunduk kepada kepentingan-kepentingan material sesaat dari pemodal.

Inilah yang ditawarkan Islam. Sebagai ideologi paripurna, Islam menghendaki sistem politik bermartabat yang berasas pada aqidah Islamiyah dan dipraktikkan menurut standar halal-haram dengan ridla Alloh sebagai hakikat tujuannya. Islam menolak keras sistem politik yang menepikan aturan agama dan dipraktikkan secara liberal dengan kerakusan atas harta dan kekuasaan sebagai tujuan tertingginya.

Tinggal tugas Anda untuk menilai sistem politik demokrasi hari ini dengan segala realitanya termasuk yang bermartabat atau bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox