Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 17 Agustus 2018

Hipokrit Negara Demokrasi, Islam dan Umatnya Hanya Dijadikan Komoditas Mendulang Suara



Oleh: Ika Mawarningtyas S. Pd

Umat dikagetkan dengan terpilihnya KH. Ma'ruf Amin sebagai cawapres Jokowi. Walaupun sebelumnya Mahfud MD sempat menjadi trending topic sebagai pendamping Jokowi. Ternyata Mahfud MD dibatalkan.

Dikubu oposisi, ijtima ulama memilih Prabowo sebagai capres dengan rekomendasi cawapresnya Ustadz Abdul Shomad atau Ustadz Salim Assegaf. Prabowo memilih UAS, UAS menolak. Disaat kubu petahana mengumumkan cawapresnya KH. Ma'ruf Amin, melalui diskusi yang panjang Prabowo memilih Sandiaga S Uno.

Cawapres Joko Widodo (Jokowi) Ma'ruf Amin menyoroti keputusan Prabowo Subianto yang mengambil Sandiaga S Uno sebagai pendamping di Pilpres 2019. Pasalnya, itu berarti Ketua Umum Partai Gerindra itu tidak menjalankan rekomendasi Ijtima Ulama yang menyarankannya agar berpasangan dengan ulama. ( sumber: jawapos.com )

Menanggapi hal itu, Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera mengatakan, alasan dipilihnya Sandiaga Uno sebagai cawapres Prabowo Subianto sudah melalui perhitungan panjang. Salah satu alasannya, yakni Prabowo Subianto tidak ingin membenturkan antaraulama.

Padahal ulama sudah terbentur sejak pilgub DKI lalu. Ulama dan umat Islam terpecah menjadi dua, yaitu anti penista agama dan pro penista agama.

PBB belum mengambil sikap. Dalam akun twitternya @Yusrilihza_Mhd mengatakan " 2. Kami sedang menunggu apa yang akan diputuskan oleh Ijtima’ Ulama II dan Munaslub atau Pleno Nahdlatul Ulama. PBB adalah partai Islam. Karena itu PBB tidak ingin mendahului keputusan para ulama”.

Habib Rizieq Shihab mengatakan dalam sebuah meme yang disebarkan dalam akun twitternya, bahwa alumni 212 akan menyelenggarakan ijtima ulama jilid dua.

Dari paparan diatas, terlihat bahwa ulama dan umat Islam hanya dijadikan sebagai pendulang suara. Prabowo yang sudah didaulat sebagai pilihan ulama telah memilih seorang pengusaha daripada ulama. Jokowi yang tidak menjadi pilihan ulama, malah memilih seorang ulama.

Sebagai calon pilihan ulama, dan calon yang telah menggandeng ulama, apakah mereka mau menerapkan syariat Islam sebagai pengatur kebijakan? Apakah mereka benar-benar akan pro kepada umat Islam? Apakah tudingan radikal intoleran pada umat Islam yang ingin menerapkan syariat Islam akan sirna?

Jangan sampai umat berulangkali jatuh kelubang yang sama. Ketika aturan masih demokrasi yang menuhankan suara terbanyak bukan kebenaran, umat Islam hanya digunakan untuk mendulang suara. Kepentingan umat Islam untuk bisa beribadah secara total akan dikebiri ketika mereka terpilih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox