Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 13 Agustus 2018

Gempa NTB Teguran atau Ujian?



Oleh: Ika Mawarningtyas ,S. Pd.

Diketahui, gempa berkekuatan M = 7.0 mengguncang Lombok, Minggu malam (5/8). Pusat gempa diketahui berada di 18 kilometer barat laut Lombok Timur atau pada lereng utara timur laut Gunung Rinjani, di kedalaman 15 kilometer. Hingga Jumat (10/8/2018), jumlah korban tewas mencapai 321 orang. Gempa juga menyebabkan 270.168 orang mengungsi. ( sumber: bmkg.go.id )

Dalam jumpa pers 10 Agustus 2018, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengajak masyarakat NTB segera bangkit dari duka gempa. Ajakan tersebut disampaikan Dwikorita saat mengunjungi sejumlah titik pengungsian di Pringgabaya, Lombok Timur, Jumat (10/8).

Beberapa tokoh publik sempat mengomentari peristiwa gempa tersebut, salah satunya Rocky Gerung dalam akun twitternya @rockygerung "Gempa adalah fenomena alam. Dapat dipelajari, supaya tak menjadi bencana."

Komentar juga datang dari Prof. Fahmi Amhar dalam akun twitternya @pengelana1924 " Menghadapi Bencana itu harus pakai jurus bumi (iptek) dan jurus langit (imtaq).  Kalau hanya satu jurus, pasti pincang!"

Dari dua akun tokoh intelektual tersebut terkesan berbeda dalam menanggapi musibah gempa tersebut, sebagai seorang Muslim telah kita ketahui bersama ada dua kemungkinan jika Allah SWT menimpakan musibah kepada kita, apabila kita dalan kondisi lalai, musibah tersebut adalah teguran agar kita segera kembali padaNya. Apabila kita dalam kondisi istiqomah dijalan kebenaran, musibah tersebut adalah suatu bentuk ujian agar kita semakin mulia dihadapanNya.

Menilik kondisi negeri ini, kita ketahui bersama bahwa banyak sekali kekayaan alam negeri ini yang seharusnya dikelola berdasarkan syariat Islam, malah dikelola sesuai kepentingan para kapitalis asing. Contohnya saja adalah perusahaan tambang emas raksasa PT. Newmont Nusa Tenggara (NNT), kini telah berpindah ke tangan Medco (perusahaan swasta) milik Arifin Panigoro. Selain itu tambang emas di Papua juga telah dikuasai oleh Freeport milik AS. Yang terbaru ribuan pekerja juga melakukan demo menolak akuisisi pertagas oleh PGN karena mereka anggap berkedok korporasi didepan kantor BUMN. Tuntutan yang lain juga meminta Rini Soemarmo dicopot selaku Menteri BUMN.

Melihat pernyataan Rocky Gerund terkait musibah gempa memang sarat dengan aroma pemikiran sakuler, gempa hanyalah fenomena alam, tidak ada campur tangan Tuhan dalam musibah tersebut, berbeda dengan komentar dari Fahmi Amhar, bahwa memang untuk menanggulangi gempa perlu iptek dan imtaq.

Disini jelas bahwa kita sebagai hamba yang beriman dan bertaqwa senantiasa menjaga ketaatan kita pada Sang Penguasa Alam, bahwa kita harus terikat dengan syariatNya, termasuk juga dalam mengatur kekayaan alam. Bahwa kekayaan alam negeri ini wajib diatur oleh negara dan digunakan untuk mensejahterakan rakyatnya. Bukan malah menyerahkanya kepada perusahaan asing, dan rakyat hanya mendapat limbahnya saja.

Selain itu apabila kita ingin menjadi bangsa yang penuh berkah, dimana berkah turun dari langit dan keluar dari bumi kita harus menerapkan syariat Islam secara keseluruhan dalam segala aspek kehidupan. Sebelum teguran yang lebih keras lagi menimpa bangsa ini,seyogyanya kita semua segera taubat nasional kembali pada syariatNya.

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS Al A'raf [7]: 96).

"Allah berfirman, 'Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan tobat ataupun zakat). Lalu, dia mengingat nama Tuhannya, lalu ia sembahyang." (QS Al-A'laa [87]:14-15).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox