Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 15 Agustus 2018

Bersatulah Merayakan Idul Adha!



Oleh : Achmad Fathoni
 (Direktur el-Harokah Research Center)
     Mahkamah Ulya Arab Saudi mengumumkan bahwa hari Ahad (12/8) telah masuk bulan Dzulhijjah 1439 H. Dengan penetapan ini, maka Hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah akan bertepatan dengan hari Senin (20/8) dan Hari raya Idul Adha pada Selasa (21/8). Penetapan masuknya bulan baru tersebut, merupakan hasil pengamatan Tim Ru’yatul Hilal di beberapa tempat, seperti di As-Sudair dan As-Saqra’. Mereka menyatakan berhasil melihat bulan (ru’yatul hilal) (http://www.saudinesia.com/2018/08/11/al-mahkamah-al-ulya-arab-saudi-wukuf-arafah-hari-senin-idul-adha-hari-selasa/).
     Umat Islam sudah selayaknya menyambut gembira tentang penetapan hari raya Idul Adha 1439 H tersebut, karena hari raya tersebut sangat terkait erat dengan pelaksanaan ibadah haji kaum muslimin di tanah suci Makkah Al-Mukarramah. Sementara itu, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan tanggal 1 Dzulhijjah 1439 H jatuh pada hari Senin, 13 Agustus 2018. Dengan demikian, Hari Raya Idul Adha 2018 dipastikan jatuh pada 22 Agustus 2018. Ketetapan tersebut berdasarkan hasil sidang isbat awal Dzulhijjah yang digelar di kantor Kementerian Agama (Kemenag), Jalan MH Tamrin, Jakarta Pusat. “Tanggal 1 Dzulhijjah ditetapkan pada hari Senin, 13 Agustus 2018, sehingga 10 Dzulhijjah ditetapkan Hari Raya Idul Adha pada hari Rabu, 22 Agustus 2018,” Kata Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama, Muhammadiyah Amin, pada Sabtu (11/8/2018) malam (http://www.liputan6.com/news/read/3616536/sidang-isbat-pemerintah-tetapkan-idul-adha-jatuh-22-agustus-2018).
     Untuk memahami tentang penetapan Hari Raya Idul Adha, maka sudah selayaknya kaum Muslimin merujuk dalil yang rajih dan sharih yang diterangkan oleh para Ulama’. Para ulama’ madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syai’i, dan Hanbali) telah sepakat mengamalkan rukyat yang sama untuk Idul Adha. Rukyat yang dimaksud adalah rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit) untuk menetapkan awal bulan Dzulhijjah yang dilakukan penduduk Makkah. Rukyat ini berlaku untuk seluruh dunia. Karena itu, kaum Muslimin dalam sejarahnya senantiasa ber-Idul Adha pada hari yang sama. Fakta ini diriwayatkan secara mutawatir (oleh banyak pihak yang mustahil sepakat berdusta atau berbohong). Bahkan sejak masa kenabian, dilanjutkan pada masa Khulafa’ ar-Rasyidin, Umawiyin, Utsmaniyin, hingga masa kita sekarang.
     Pendapat para ulama’ tersebut berdasar pada hadist Husain Ibn Al-Harists Al-Jadali, beliau berkata sesungguhnya Amir (Wali) Makkah pernah berkhutbah dan berkata, “Rasulullah Muhammad SAW mengamanatkan kepada kami untuk melaksanakan manasik haji berdasarkan rukyat. Jika kami tidak berhasil merukyat tetapi ada dua saksi yang adil yang berhasil merukyat, maka kami melaksanakan manasik haji berdasarkan kesaksian keduanya” (HR. Abu Dawud, hadist no. 2338 dan Ad-Daruquthni Juz II/167). Imam Ad-Daruquthni berkata, “Ini isnad-nya bersambung (muttashil) dan shahih”. Lihat Imam Syaukani, Nailul Authar, Beirut : Dar Ibn Hazm, 2000, hal. 841, hadist No. 1629). Hadist tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa penentuan hari Arafah dan hari-hari pelaksanaan manasik haji, telah dilaksanakan pada saat adanya Daulah Islamiyah oleh pihak Wali Makkah, untuk menetapkan hari dimulainya manasik haji berdasarkan rukyat.
     Di samping itu, Rasulullah Muhammad SAW juga telah menetapkan bahwa pelaksanaan manasik haji (seperti wuquf di Arafah, thawaf ifadhah, bermalam di Muzdalifah, dan melempar jumrah), harus ditetapkan berdasarkan rukyat penduduk Makkah sendiri, bukan berdasarkan rukyat penduduk Madinah, penduduk Najd, atau penduduk negeri Islam lainnya. Dalam kondisi tiadanya Daulah Islamiyah (Khilafah) seperti saat ini, penentuannasik waktu manasik haji tetap menjadi kewewenangan pihak yang memerintah Hijaz dari kalangan kaum Muslimin, meskipun itu bukan pemerintahan Khilafah Islamiyah. Dalam keadaan demikian, kaum Muslimin seluruh dunia wajib ber-Idul adha pada Yaumun Nahr (hari penyembelihan kurban), yaitu tatkala para jamaah haji di Makkah sedang menyembelih kurban mereka pada tanggal 10 Dzulhijjah. Dan bukan keesokan harinya (hari pertama dari hari tasyriq).
     Di hadist lain riwayat dari Abu Hurairah r.a, beliau berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah melarang puasa pada Hari Arafah, di Padang Arafah (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya). Lihat Imam Syaukani, Nailul Authar, Beirut : Dar Ibn Hazm, 2000, hal. 875, hadist No. 1709). Berdasarkan hadist itu, Imam Asy-Syafi’i berkata, “Disunnahkan berpuasa pada Hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) bagi mereka yang bukan jamah haji”. Hadist tersebut merupakan dalil yang jelas dan terang mengenai kewajiban penyatuan Idul Adha pada hari yang sama atas seluruh kaum Muslimin. Sebab, jika disyariatkan puasa bagi selain jamaah haji pada Hari Arafah (hari tatkala jamaah haji wukuf di Padang Arafah), maka artinya, Hari Arafah itu hanya terjadi satu kali, tidak terjadi lebih dari satu kali dan tidak boleh lebih dari satu kali.
     Ditambah lagi secara fakta, selisih waktu Makkah dan Indonesia sekitar empat jam saja, tidak lebih dari sehari semalam. Sehingga waktu antara Makkah dan Indonesia tidak berbeda hari. Jadi, jika penetapan Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1439 H tersebut selisih satu hari, tentu itu bertentangan dengan fakta empiris. Dengan demikian, penetapan Hari Raya Idul Adha yang berbeda dengan penetapan Hari Raya Idul Adha oleh otoritas Makkah adalah keputusan yang tidak sejalan dengan dalil naqli (al-Hadist) dan dalil aqli (fakta empiris). Wallahu a’lam.        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox