Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 20 Juli 2018

Layakkah ACFTA Dipertahankan?



Oleh: Yuli Sarwanto (analis FAKTA)
Cina masih mitra dagang terbesar ASEAN dalam sembilan tahun belakangan. Bahkan pada tahun lalu, nilai perdagangan Cina-ASEAN mencapai 514,82 miliar dolar AS atau 6,6 kali lebih banyak daripada 2003 saat kedua pihak pertama kali membangun kemitraan strategis. Wakil Menteri Perdagangan Cina Gao Yan menyebutkan bahwa nilai perdagangan Cina-ASEAN dalam lima bulan belakangan naik 18,9 persen, menjadi 232,64 miliar dolar AS, kata "People's Daily" pada Rabu (18/7), sebagaimana dikutip dari republika.co.id.
Sejak diaplikasikan tahun 2010, ACFTA (ASEAN-China Free Trade Agreement) telah berefek peningkatan volume perdagangan yang signifikan antara kedua pihak. Meski dinilai sukses mengurangi tarif perdagangan, namun negara-negara ASEAN kurang berhasil memaksimalkan surplus dari neraca perdagangannya. Indonesia misalnya mengalami defisit perdagangan yang jumlahnya semakin besar dengan Tiongkok.
Program kerjasama ini merupakan salah satu bentuk kerja sama liberalisasi ekonomi yang banyak dilakukan indonesia dan Negara-negara ASEAN dalam 10 tahun terakhir ini. Ini merupakan perang mutu, harga, kuantitas akan suatu pelayanan barang dan jasa serta industri pasar global china. Mengapa Cina? Seperti yang kita ketahui, harga barang produksi china relatif murah dan diminati konsumen indonesia. Hal ini tidak terlepas dari kualitas barang yang dihasilkan oleh china. Dampak yang langsung terasa serbuan produk asing terutama dari Cina dapat mengakibatkan kehancuran sektor-sektor ekonomi yang diserbu. Padahal sebelum tahun 2009 saja Indonesia telah mengalami proses industrialisasi (penurunan industri). Pasar dalam negeri yang diserbu produk asing dengan kualitas dan hargayangsangat bersaing akan mendorong pengusaha dalam negeri berpindah usah dari produsen di berbagai sektor ekonomi menjadi importir atau pedagang saja. Sebagai contoh, harga tekstil dan produk tekstik (TPT) Cina lebih murah antara 15% hingga 25%. Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade sudrajat Usman pada 2016, selisih 5% saja sudah membuat industri lokal kelabakan.
Serbuan produk Cina berimbas pada karakter perekomian dalam negeri akan semakin tidak mandiri dan lemah. Segalanya bergantung pada asing. Bahkan produk seperti jarum saja harus diimpor. Jika banyak sektor ekonomi bergantung pada impor, sedangkan sektor-sektor vital ekonomi dalam negeri juga sudah dirambah dan dikuasai asing, maka apalagi yang bisa diharapkan dari kekuatan ekonomi Indonesia.
ACFTA maupun MEA hakikatnya adalah liberalisasi ekonomi. Liberalisasi akan makin meminggirkan peran dan tanggung jawab pemerintah dalam sektor ekonomi dan pengurusan rakyat. Semuanya diserahkan kepada individu dan mekanisme pasar. Konsekuensinya, siapa yang kuat dialah yang akan memenangkan persaingan. Padahal liberalisasi ekonomi yang berlangsung di negara ini telah terbukti gagal menciptakan ekonomi yang maju, mandiri, stabil dan menyejahterahkan. Kesenjangan makin lebar. Aset-aset penting dikuasai oleh investor asing. Barang-barang impor menggusur produk lokal. Sektor finansial rentan terdampak krisis. Nilai tukar rupiah pun naik-turun.
Salah satu bahaya ACFTA untuk Indonesia adalah mengancam sektor pertanian. Karena daya saing sektor pertanian negeri ini masih rendah. Dukungan pemerintah kian minimal dengan mencabut dan mengurangi berbagai subsidi pertanian. Produk impor di pasar dalam negeri akan makin membanjir. Ketergantungan pada impor pun akan terus besar. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox