Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 06 Juni 2018

Pasti Kelompok Sekuler…



oleh: Ahmad Rizal (Direktur Indonesia Justice Monitor - IJM)
"Kelompok yang menyoalkan umrah kok membahas politik, pasti kelompok sekuler yang selalu ingin memisahkan antara agama dan politik," kata Hidayat Nur Wahid kepada para jurnalis, Sabtu (2/6/2018).
Catatan
Pernyataan Wakil Ketua Majelis Syura PKS, Hidayat Nur Wahid dimaksudkan menyindir pihak-pihak yang menyebut umrah Prabowo Subianto dan Amien Rais sebagai umrah politik hanya karena keduanya bertemu Habib Rizieq Shihab (HRS) di Makkah. Ia beranggapan kelompok sekuler yang mempersoalkan pertemuan Prabowo, HRS dan Amiens Rais saat umrah dengan menyebut 'umrah politik'.
Bicara sekularisme, ideology ini berusaha menjauhkan syariat dari berbagai aspek kehidupan umat Islam, dan menghilangkan nilai agama dari tubuh umat Islam. Memisahkan manusia dari aturan agama dan metafisika adalah cara berfikir yang keliru. Orang yang memahami akal dan iman sebagai hubungan yang terpisah berarti telah terjebak dengan budaya Barat yang rusak. akal dan nalar manusia salah satu bukti manusia sebagai mahluk mulia dan sempurna. Keduanya menjadi sarana untuk meningkatkan ketaqwaan dan keimanan kita kepada Allah Swt, bukan sebaliknya digunakan menggerus keyakinan dan fitrah manusia terhadap kebenaran agama Islam. Iman dan ilmu, politik dan agama saling berhubungan dalam kesatuan integrasi yang mengokohkan satu dengan yang lain.
Bagi yang sudah meyakini pemikiran sekularisme, mereka beranggapan bahwa agama hanya mengekang kecerdasan akal dan kebebasan berfikir manusia. Mereka menolak sistem agama dalam semua urusan dunia seperti politik, sosial, pendidikan dan sebagainya. Bagi mereka agama hanyalah penghalang terhadap kemajuan. Ironisnya, ide-ide agama dianggap kolot dan bertentangan dengan pemikiran akal sehat. Alhasil, mereka mengklaim peradaban mereka “maju” justru ketika telah meninggalkan Tuhan dan ajaran agama. “Inilah dampak paling berbahaya dari sekularisasi ilmu yang sedang menimpa kehidupan kita. Adanya upaya pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum lainnya
Sejak gaung slogan penolakan terhadap pemimpin kafir lantang disuarakan, kekuatan islam politik mulai dianggap sebagai ancaman bagi penganut politik sekuler. Ditambah dengan aksi 212 tahun 2016 dan reuninya di tahun 2017 makin membuat merinding pendukung status quo sistem ini. Lebih-lebih lagi tahun 2018 dan 2019 yang digadang-gadang sebagai tahun politik tiba, dan kekuatan Islam politik makin besar. Kekuatan politik Islam ini memang pantas diperhitungkan karena memiliki keistimewaan yang tidak terdapat pada kekuatan politik sekuler.
Faktor Kekuatan ide dan motivasi para pengemban Islam yang menjadi mesin pendorong umat islam untuk melakukan amal secara totalitas, termasuk menolak penguasa zalim. Karena memiliki landasan dalil yang jelas, maka motivasi terbesar umat dalam membawa Islam sebagai aturan kehidupan bermasyarakat adalah Ridho Allah berupa pahala dan balasan surga. Bagi umat, motivasi ini mampu membuatnya rela mengorbankan waktu, tenaga, harta benda, dan seluruh hidupnya untuk perjuangan islam politik. Berbanding terbalik dengan pejuang politik sekuler. Ada banyak bukti bahwa politisi dan massa politik sekuler melakukan pergerakan karena mengharap manfaat dari tindakannya. Bisa jadi berupa uang transport, uang makan, uang bulanan atau nafkah, tunjangan, jabatan dan kedudukan, hingga terakomodasinya kepentingan mereka dalam undang-undang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox