Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 07 Juni 2018

Mahasiswa… Seberapa Greget Kalian?



oleh: Mahfud Abdullah (Indonesia Change)
Dulur, sejak kasus penistaan al-Quran oleh Ahok bergulir September 2016 lalu, Indonesia mengalami gonjang-ganjing politik sedemikian rupa hingga kini. Kasus Ahok telah benar-benar menguras energi bangsa ini. Puncaknya adalah Aksi Bela Islam 212 yang melibatkan jutaan massa yang menuntut Ahok sang penista agama dipenjara. Atas beberapa kasus yang muncul, publik menangkap kesan adanya upaya sengaja dari sejumlah pihak, termasuk aparat Kepolisian, untuk mengkriminalisasi ulama yang anti Ahok dan berseberangan dengan penguasa.
Saat negara ini menerapkan sistem kapitalisme-demokrasi yang meniscayakan uang dan kekuasaan sebagai panglima. Apapun, termasuk upaya adu domba umat Islam, akan dilakukan demi memenangkan pertarungan dalam perebutan kekuasaan. Yang rugi tentu saja umat Islam karena merekalah pihak yang sengaja dikorbankan.
Masalah lainnya adalah problem penguasaan Freeport atas tambang emas Indonesia menggambarkan potret penjajahan asing, arogansi dan kerakusan mereka atas negeri ini. Tentu hal itu di antaranya karena perusahaan itu di-back-up penuh oleh negaranya, yakni AS. Dengan begitu eksploitasi oleh Freeport sejatinya menggambarkan penjajahan oleh AS sendiri atas negeri ini.  Kelanjutan operasi tambang tersebut mestinya diberikan kepada BUMN, seperti yang dikemukakan oleh banyak pakar. Jangan sampai, setelah asing menguras banyak, baru BUMN—yang sejatinya mewakili negara—disuruh  mengelola dengan hanya mendapatkan ampasnya.
Penerapan sistem neoliberalisme di negeri ini. Dalam doktrin neoliberalisme, Pemerintah tidak diposisikan sebagai pelayan yang melayani segala kepentingan masyarakat secara murah atau bahkan gratis. Pemerintah justru diposisikan sebagai penyedia jasa, sementara masyarakat adalah pengguna jasa yang harus membayar kepada Pemerintah. Hubungan negara dengan rakyat akhirnya seperti hubungan pedagang dan pembeli, bukan hubungan pelayan dan yang dilayani. Rakyat harus membayar harga atau biaya pelayanan yang disediakan oleh negara. Berikutnya, harga atau biaya itu akan disesuaikan indikator ekonomi dan harga pasar. Alasan harus ada penyesuaian dengan inflasi, karena harga komponennya naik, atau alasan biaya naik agar pelayanan lebih baik, adalah cerminan dari cara pandang komersial.
Negeri ini butuh perubahan agar negeri ini berdaulat, namun bukan hanya perubahan parsial. Reformasi adalah tonggak bangkitnya gerakan mahasiswa. Dulu, tragedi Trisakti telah memicu gerakan mahasiswa yang besar pada Mei 1998. Gelombang mahasiswa menuntut berakhirnya rezim Orde Baru akhirnya tak terbendung ke Gedung DPR/MPR di Senayan, Jakarta Pusat. Mahasiswa dari berbagai penjuru negeri ini mendatangi Gedung DPR/MPR untuk menuntut Presiden Soeharto mundur.
Pendudukan Gedung MPR/DPR oleh ribuan mahasiswa dari berbagai kampus menjadi simbol utama dari rangkaian sejarah penting reformasi. Ratusan ribu mahasiswa mendesak Soeharto turun tahta karena dianggap telah menzolimi rakyat puluhan tahun. Gerakan mahasiswa kala itu dianggap sebagai cara efektif menumbangkan Soeharto ketika organisasi massa, baik agama maupun pemuda, berada di bawah kendali pemerintah.
Kita merindukan bangkitnya kembali gerakan mahasiswa. Agenda umat saat ini adalah bagaimana mewujudkan kepemimpinan syar’i yang meliputi: sosok pemimpin syar’i dan sistem kepemimpinan syar’i. Kita berharap, hal ini bisa menjadi kesadaran dan opini umum kaum Muslim. Dengan itu aspirasi dan kecenderungan kaum Muslim tidak hanya sekadar memilih sosok pemimpin yang berkarakter sebagaimana disebutkan syarat-syarat dan kriterianya di atas. Lebih dari itu, mereka juga mau memperjuangkan sistem kepemimpinan Islam sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. saat membangun Daulah Islam di Madinah, yang dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox