Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 06 Juni 2018

Intelijen Masuk kampus?



oleh : Agung Wisnuwardana (Indonesia Justice Monitor)
Universitas Brawijaya (UB) Malang menggandeng intelijen untuk berkoordinasi memantau pergerakan mahasiswa, termasuk mahasiswa dari luar kampus, untuk membendung masuknya paham radikalisme di kampus tersebut. Selain menggandeng pihak intelijen, Universitas Brawijaya juga melakukan langkah pencegahan secara internal. "Kami memang minta bantuan intelijen untuk melihat pergerakan mahasiswa, terutama yang dari luar kampus. Dan, biasanya ketika ada mahasiswa yang meresahkan atau menrugikan, intel yang menghubungi saya langsung," kata Rektor UB Prof Muhammad Bisri di Malang, Jawa Timur, Selasa (5/6). (http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/06/05/p9tujl354-cegah-radikalisme-universitas-brawijaya-gandeng-intelijen)
Catatan
Ada banyak pihak yang khawatir kemerdekaan untuk berpendapat dan hak untuk berpendapat berseberangan dengan penguasa terampas. Ada banyak pihak yang khawatir masyarakat dimata-matai, dan drama dibuat oleh pihak-pihak yang bermotif jahat untuk menggambarkan seolah-olah penegakkan syari’at islam mengancam kemajemukan dan NKRI.
Sikap terang-terangan Universitas Brawijaya (UB) Malang menggandeng intelijen untuk berkoordinasi memantau pergerakan mahasiswa, termasuk mahasiswa dari luar kampus, untuk membendung masuknya paham radikalisme di kampus tersebut jangan sampai membuat suasana tambah keruh. Kalau sudah begini akankah mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) khususnya mendukung atau menolak kebijakan kampus untuk memonitor terhadap gerakan mahasiswa?
Yang pasti, kita khawatir istilah Radikalisme saat ini sudah dijungkirbalikkan oleh rezim saat ini untuk menekan umat Islam yang aktif memperjuangkan tegaknya syariah Islam. Sudah banyak bukti yaitu ketika umat lslam melakukan aksi damai dikatakan Radikalisme padahal disana tidak pernah terjadi kerusuhan. Sebaliknya, ada demo yg melakukan perusakan umum dan melampaui jam demo aparat membiarkan hal tersebut. Adapun kelompok dakwah yang menyerukan lslam kaffah pun juga disebut Radikalisme. Dan umat yg menolak dan mengoreksi Rezim atas pemimpinannya juga di sebut radikal padahal jelas-jelas  rezim telah bebuat merugikan umat. Sedangkan perilaku mengobral SDA rakyat untuk dikelola asing tidak disebut pemerintah sebagai radikalis padahal hal itu merugikan rakyat dan negara.
Apabila kita cermati secara seksama ini adalah bagian dari Global War on Terrorism yang dicanangkan AS. Perspektif barat dalam memandang Islam pasca kejadian September bermuara pada kesimpulan yang sama yakni Islam sebagai agresi dan ancaman (aggression and hostility). Selang beberapa hari tepatnya tanggal 20 September 2001 presiden Amerika Serikat George Bush menyampaikan pidato di depan kongres Amerika Serikat. Inti pidato tersebut terangkum dalam kalimat, “Setiap bangsa, di belahan bumi manapun, kini harus membuat keputusan. Apakah  mereka bersama kita atau bersama teroris (either you are with us or you are with the terrorists).”
Dan tentu saja isi pidato Bush tersebut menimbulkan reaksi pro dan kontra berbagai negara. Sebuah pernyataan yang secara hitam putih menggambarkan sikap AS yang keras dan menggambarkan kondisi dunia yang terpilah dalam sebuah pertarungan antara kekuatan baik (good) dan kekuatan jahat (evil). AS sengaja menciptakan stigma untuk mendukung atau melawan AS terhadap negara-negara di berbagai dunia untuk terlibat aktif dalam kebijakan AS dalam bentuk kampanye War On Terorisme (WOT), perang melawan teroris internasional sebagai ancaman global.
Genderang perang melawan terorisme yang terus diopinikan secara masif  di berbagai belahan negara di bawah komando AS. Sesungguhnya adalah upaya menggiring kesatuan opini dunia (one world opinion) bahwa yang sedang diperangi adalah Islam entah dengan berbagai kamuflase istilah yang diluncurkan seperti Islam Radikalis, Islam Fundamentalis, Islam Revivalis, Islam Politis, Islam ektrimis dan lain sebagainya. Sehingga sikap curiga secara kolektif berbagai negara terhadap Islam mencapai puncaknya persis seperti yang diramalkan oleh Huntington di atas.
Salah satu entitas Islam yang menjadi sasaran empuk tuduhan akademisi barat terutama kaum orientalis adalah penggunaan doktrin Jihad sebagai alat legitimasi melakukan kekerasan teologis. Asumsi teroritis yang kebablasan yang lahir dari tafsiran subjektif tentang jihad yang mulia dalam Islam Tidak segan-segan kaum orientalis barat menunjuk hidung  tokoh-tokoh Islam semisal Sayyid Qutb, Abu A’la Al-Maududi, Abdullah Azzam, Abdus Salam Al-Faraj dan lain sebagainya sebagai biang pemikiran gerakan terorisme. Padahal sejatinya tokoh-tokoh tertuduh tersebut tidak pernah mengajarkan aktivitas terorisme.
Menyandarkan aktivitas terorisme dengan Islam sudah tidak relevan lagi, karena label terorisme bisa terjadi oleh beberapa faktor seperti kemiskinan, kekecewaan politik secara global, kesenjangan sosial dan lain sebagainya. Jargon crusader abad ke-13 “Islam diawali dengan pedang, dipertahankan dengan pedang dan dengan pedanglah diakhiri ” harus dikubur.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox