Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 11 Juni 2018

Indonesia Pasti Mampu Menjadi ‘Sentrum’ Bagi Percaturan Politik Dan Ekonomi Dunia


Oleh: Taufik S. Permana (Geopolitical Institute)

Indonesia sudah beberapakali menjadi anggota, dan peran ATT DK PBB. Namun, terpilihnya Indonesia menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB (ATT DK PBB) 2019-2020 disambut antusiasme oleh warganet. Pemberitaan ‘overdosis’, khususnya dengan memunculkan opini bahwa pemerintahan era Jokowi adalah keberhasilan sangat hebat, bisa dinilai sudah berlebihan.

Indonesia sebagai ATT DK PBB memiliki peran sangat terbatas. terhadap masalah prosedural, mereka bisa berperan. Namun untuk masalah substansial, hanya jika tidak ada veto dari salah satu dari lima anggota tetap DK PBB, baru mereka bisa berperan. Namun untuk isu dan konflik yang sangat strategis dan penting, seperti kemerdekaan Palestina, kata Dradjad, ATT DK PBB tidak berkutik menghadapi veto AS. Padahal penderitaan rakyat Palestina ini sangat mendalam dirasakan oleh umat Islam Indonesia.

Indonesia memang digadang-gadang mumat Islam agar mampu menjadi ‘sentrum’ bagi percaturan politik dan ekonomi kawasan regional maupun internasional. Maka syaratnya politik luar negeri (Polugri) Indonesia harus kuat dan berpengaruh. Indonesia sesungguhnya memiliki potensi mendatangkan era baru, yakni sebuah era yang mampu mewujudkan kemakmuran bagi bangsa-bangsa di Asia, bahkan dunia. Hal ini bisa diwujudkan tatkala Indonesia mempunyai daya tawar dan posisi yang kuat dalam politik luar negeri (Polugri)-nya.

Dengan Polugri yang kuat, Indonesia bisa memainkan perannya dalam ikut menata percaturan politik dan ekonomi kawasan, bukan menjadi ‘pengekor’ kebijakan Polugri negara lain atau atau kepentingan asing.
Jika tidak ada ‘mainstream khusus’ dalam Polugri Indonesia, Indonesia gagal menjadi negara berpengaruh. Apalagi jika dijalankan atas dasar pragmatisme. Padahal pragmatisme dalam Polugri inilah yang membuka peluang bagi intervensi asing.

Kuat-lemahnya Polugri suatu negara bisa dilihat dari pengaruh negara tersebut dalam percaturan politik dan ekonomi internasional. Negara berpengaruh umumnya adalah negara yang berbasis ideologi. Misal: Negara Amerika Serikat yang berbasis ideologi Kapitalisme, atau Uni Sovyet dulu yang berbasiskan ideologi Sosialisme, atau Kekhilafahan Islam pada masa lalu yang berbasiskan ideologi Islam.

Negara ideologis ini biasanya tidak akan mudah menerima kerjasama, bantuan ataupun yang lainnya selama tidak sesuai dengan orientasi ideologinya. Karena itu, negara ideologis biasanya merupakan negara yang mandiri, tidak bergantung pada negara lain dan bahkan bisa mempengaruhi negara-negara lain. Amerika Serikat saat ini jelas menunjukkan kenyataan ini.

Sebaliknya, negara-negara yang Polugrinya tidak berbasis ideologi akan mengikuti orientasi negara-negara ideologis. Contohnya adalah Indonesia saat ini, yang Polugrinya lebih cenderung mengekor pada orientasi Polugri Amerika Serikat. Ketundukkan Indonesia untuk mengikuti saja skenario Amerika Serikat dalam Perang Melawan Terorisme, misalnya, menunjukkan bahwa Indonesia memang tidak mandiri.

Pertanyaannya: Bagaimana agar Indonesia menjadi negara yang mandiri sekaligus berpengaruh? Jawabannya, tentu Indonesia harus menjadi negara ideologis. Lalu ideologi mana yang harus dipilih? Apakah Sosialisme yang sudah terbukti gagal, ataukah Kapitalisme yang sedang menuju jurang kehancuran, atau Islam yang pernah terbukti dalam sejarah berhasil menciptakan segala kebaikan dan kemaslahatan bagi umat manusia? Akal sehat tentu akan memilih yang terakhir.[]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox