Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Minggu, 13 Mei 2018

Astaghfirullah, Teror Itu…


Oleh: Ahmad Rizal (Dir. Indonesia Justice Monitor)

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ( PBNU) mengutuk keras segala tindakan terorisme. Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj mengatakan, segala macan tindakan menggunakan kekerasan, apalagi yang mengatasnamakan agama dengan cara menebarkan teror, kebencian, dan kekerasan bukanlah ciri ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Agama manapun, kata dia, tak ada yang menghalalkan cara-cara kekerasan dalam kehidupan. "Segala hal yang mengandung kekerasan sesungguhnya bertentangan dengan ajaran Islam dan bahkan bertentangan dengan ajaran agama apapun," ujar Said dalam keterangan tertulis, Minggu (13/5/2018). (Kompas.com - 13/05/2018, 17:32 WIB)

Benar Pak Kyai, setuju… menebarkan teror, kebencian, dan kekerasan bukanlah ciri ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Kita turut berduka atas korban teror dan kekerasan yang terjadi secara beruntun sekaligus mengutuk pelaku kekerasan berbagai penyimpangan mengatasnamakan Islam.

Kita juga menolak imperialisme atau penjajahan telah melekat dan menjadi watak peradaban Barat kapitalis. Semua itu adalah dalam rangka mengejar glory, Sold, dan gospel yang saat ini dibahasakan dengan dominasi, penguasaan, dan eksploitasi sumber-sumber alam negara lain untuk kepentingan dan kemaslahatan sang imperialis serta demi mempropagandakan ideologi kapitalisme, sekularime, westernisasi, liberalisme, demokrasi, dan sejenisnya.

Hal itu dilakukan dengan mengorbankan ribuan atau bahkan jutaan penduduk sipil musuh- musuhnya. Semua itu dijalankan oleh mereka meskipun harus memiskinkan dan membangkrutkan negara-negara yang dijajahnya. Sang imperialis tidak lagi mengindahkan slogan-slogan demokrasi, HAM, dan kedaulatan negeri-negeri lain yang selama ini mereka gembar-gemborkan di seluruh dunia. Bagi mereka, selama suatu perkara menguntungkan musuh dan merugikan dirinya, perkara itu tidak demokratis dan melanggar HAM.

Jika AS saat ini berupaya menggalang dukungan dari negara-negara lain untuk menyerang Irak bukan untuk memantapkan dominasi dan pengaruhnya-serta menjaga kepentingan dan eksistensinya-di kawasan Timur Tengah; bukan untuk menguasai sumur- sumur minyak dan deposit minyak terbesar kedua di dunia; dan bukan untuk menyebarluaskan propaganda ideologi kapitalisme, lalu untuk apa?
Salah satu ciri imperialisme atau penjajahan adalah adanya perlawanan dari pihak terjajah; baik berbentuk perlawanan yang bersifat fisik, ekonomi, sosial, maupun ideologis yang terus- menerus; tidak mungkin pihak terjajah melakukan kompromi, apalagi menerima kehadiran sang imperialis.

Peradaban Barat dalam kurun waktu abad ke-15 hingga awal abad ke-20 telah gagal menaklukkan negeri-negeri jajahannya. Puluhan negara berhasil membebaskan diri dari penjajahan secara fisik/ militer.

Bersamaan dengan itu, mereka menanggalkan atribut- atribut ekonomi, sosial, dan politik si penjajah; termasuk bahasa dan budaya mereka. Hal itu tidak pernah dijumpai pada futuhat Islam. Negara-negara imperialis menggunakan bentuk dan cara baru penjajahan, yakni dengan melakukan neo-imperialisme dan neo- kolonialisme. Namun demikian, hakikatnya sama, yaitu penjajahan.

Globalisasi, privatisasi, dan bantuan utang luar negeri; jerat-jerat melalui lembaga-lembaga internasional seperti IMF, World Bank, Dewan Keamanan, PBB, Badan Energi dan Tenaga Atom Internasional (IAEA), dan lain-lain; semua itu merupakan alat-alat penjajahan gaya baru yang jauh lebih efektif dilakukan oleh AS dan para pendukungnya.

Meskipun demikian, jika cara-cara tersebut dianggap tidak efektif, atau sangat lambat keberhasilannya, peradaban Barat tidak segan- segan melakukan kembali cara lamanya, yaitu penjajahan secara militer. Walaupun dikemas dengan nama pre amptive attack ataupun perang melawan terorisme, tetapi hakikatnya sama saja, yaitu penjajahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox