Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 05 April 2018

Titik Panas Perang Dagang AS vs China





Fajar Kurniawan (Dir. Pusat Kajian dan Analisis Data)

Dilansir Reuters, Kamis (5/4) Duta Besar Cina untuk Amerika Serikat (AS) Cui Tiankai mengatakan, Pemerintah Cina membuka ruang negosiasi untuk menyelesaikan perang dagang yang dimulai oleh AS. Hal itu disampaikannya setelah dia melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri AS John Sullivan selama kurang lebih satu jam. "Negosiasi masih akan menjadi preferensi kami. Kami akan melihat apa yang akan dilakukan oleh AS," ujar Cui .
Trump bersikukuh bahwa 'perang dagang itu bagus,', dan merupakan hal yang 'gampang' bagi AS untuk menang perang dagang. Di laman twitternya pada 2 Maret 2018 ia menyatakan: When a country (USA) is losing many billions of dollars on trade with virtually every country it does business with, trade wars are good, and easy to win. Example, when we are down $100 billion with a certain country and they get cute, don’t trade anymore-we win big. It’s easy!
Keputusan Trump ditindaklanjuti pengenaan bea masuk yang menyasar puluhan miliar dolar impor Cina, langkah itu merupakan tanggapan atas praktik perdagangan Cina yang tidak adil dan berdampak buruk pada perusahaan-perusahaan AS. Produk yang terpengaruh seperti produk aluminium AS dan daging babi beku akan dikenakan tarif tambahan 25% — selain cukai sekarang. Beberapa produk pangan AS lainnya termasuk kacang, buah segar dan kering, ginseng dan anggur akan terkena kenaikan 15%. Produk batang baja gulungan juga akan menderita kenaikan pajak masuk 15%.
Sampai hari ini berdasarkan  CNN Indonesia (4/4/18) Amerika Serikat berencana memberlakukan tarif atas produk-produk China senilai US$50 miliar, sebagai hukuman atas apa yang disebut pencurian rahasia perdagangan, termasuk piranti lunak (software), hak paten dan teknologi lainnya. Menurut Kantor Dagang AS (USTR) di Gedung Putih, tarif sebesar 25 persen bakal diberlakukan kepada seluruh produk. Sebagian besar tarif akan membidik industri teknologi, permesinan dan kedirgantaraan China. Yang lain akan membidik peralatan medis, obat-obatan dan material pendidikan seperti peralatan penjilidan buku. Dalam sebuah pernyataan, Kedutaan China di Amerika Serikat mengatakan bahwa China mengecam dan menentang keras daftar produk yang bakal dikenakan tarif tersebut.
Cina mengatakan, langkah AS akan melanggar hak dan kepentingan Cina di bawah aturan Organisasi Perdagangan Dunia, serta mengancam kepentingan ekonomi dan keamanan Cina. Beijing telah menunjukkan pihaknya bersedia untuk melawan. Namun, Cina membalas memberlakukan tarif bea masuk hingga 25% terhadap 128 produk impor dari AS, antara lain daging babi dan minuman anggur, sebagai pembalasan atas langkah Presiden AS Donald Trump yang menaikkan bea atas impor baja dan aluminium awal Maret. Cukai impor itu berdampak pada berbagai barang senilai $3miliar (Rp41 triliun) yang berlaku mulai hari Senin (2/4) ini. Beijing mengatakan langkah itu ditempuh untuk "menjaga keseimbangan kepentingan dan neraca Cina" yang dirugikan oleh cukai baru AS.
Sebanyak 106 produk akan terkena dampak dari penaikan tarif ini, termasuk pesawat, mobil, kedelai, dan bahan kimia. Pengumuman Cina tersebut adalah tanggapan langsung terhadap pengumuman pemerintah AS pada Selasa (3/4) yang juga akan menaikkan tarif 25 persen bagi sekitar 1.300 barang ekspor Cina, yang juga bernilai sekitar 50 miliar dolar AS per tahun.
Pertukaran ancaman tarif tersebut meningkatkan ketakutan akan munculnya perang dagang besar-besaran antara dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu. Pasar dunia merosot tajam seiring dengan munculnya berita terkait rencana kenaikan tarif Cina.
Apakah perang dagang ini berdampak pada Indonesia? Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Darmin Nasution mengungkapkan jika AS menerapkan kebijakan itu, maka China akan meningkatkan penjulan bajanya ke beberapa negara, termasuk Indonesia. "Mereka itu kapasitas produksi bajanya luar biasa besar, jadi bajanya pasti kemana-mana, termasuk ke Indonesia," terang dia di kantornya, Rabu (7/3/2018). Dengan makin banyaknya baja asal China di Indonesia, otomatis akan meresahkan para pengusaha baja Indonesia yang selama ini cukup dominan di pasar lokal. Untuk itu, pengusaha dituntut untuk meningkatkan daya saing bajanya demi bersaing dengan produk China. (http://www.liputan6.com/bisnis/read/3351375/perang-dagang-as-dan-china-siapa-yang-untung)
Amerika khawatir China mampu menjadi kekuatan baru yang menggeser posisinya. Sehingga AS berupaya keras untuk membonsai China agar menjadi Negara yang tidak mampu melangkah cepat. Pada konteks ekonomi tampak bagi seluruh dunia bahwa perekonomian China telah melewati badai finansial dengan lebih baik dari Amerika dan Eropa. Oleh karena itu, para pemimpin politik dan ekonomi Amerika menyerang kebijakan Beijing secara agresiv terkait masalah penjagaan nilai kurs Renminbi (Yuan) yang rendah. Mereka percaya hal itu akan menyakiti prospek ekonomi Amerika untuk bangkit dari sakit dan membahayakan kemampuan Amerika untuk bersaing di pasar global.
Secara faktual, Amerika -partner perdagangan terbesar China- sudah dan terus memiliki peran besar dalam pertumbuhan ekonomi China. Amerika mentolerir ketidakseimbangan dalam neraca perdagangan itu karena menguntungkan bagi dua tujuan penting. Yang pertama, supaya China terus menerus disibukkan mengatur dan menjamin sumber-sumber di seluruh dunia untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya. Hal itu memaksa China untuk mendapatkan resources lebih banyak dan lebih banyak lagi. Sehingga China kurang memperhatikan pengembangan kemampuan militernya. Penting diisyaratkan bahwa Amrika mengalahkan Uni Soviet melalui politik perlombaan senjata seentara para pembuat kebijakan di Washington meyakini bisa mengalahkan China melalui perlombaan dalam aspek ekonomi.
Kedua, untuk menciptakan kelas orang-orang China yang mencintai kapitalisme dan nilai-nilai Amerika. Dengan begitu, China akan terancam untuk memberikan perubahan demokratis. Dengan ungkapan lain, Amerika sudah dan terus mengintai untuk memicu revolusi di China menentang Partai Komunis melalui kelas menengah yang terpesona dengan kapitalisme. Disamping itu, Amerika Serikat menurunkan kemampuan China dalam memainkan peran lebih besar di dalam urusan-urusan kawasan dan global. Amerika bekerja agar pemerintahan China terus disibukkan oleh berbagai persoalan dalam negeri dan luar negeri yang terjadi di sekitar China. Dan berikutnya bisa diekploitasi masalah HAM berkaitan dengan perlakuan China terhadap Tibet dan Xinjiang untuk menentang Beijing. Amerika juga memanfaatkan masalah Taiwan, Korea Utara dan keamanan di kawasan Asia Pasifik untuk menjamin penyerapan tenaga para politisi China dan menyibukkan mereka dengan berbagai persoalan yang tiada putusnya.
Secara militer, Amerika memantau perkembangan cepat kekuatan militer China dan ambisi Beijing dalam memanfaatkan kekuatan angkatan lautnya untuk menghalangi sampainya kapal Amerika ke beberapa wilayah perairan dan pelabuhan. Karenanya Amerika memperbarui komitmen keamanannya dengan sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik yang meliputi Jepang, Australia, Indonesia, Filiphina, Thailand dan Korea Selatan untuk menghadapi Negara besar seperti China. Namun China memanfaatkan kemunduran Amerika. China jauh lebih berani dan konfrontatif seputar permasalahan internasional. Dimana Beijing belakangan bersikap melawan Amerika Serikat dan Barat di PBB. Akan tetapi sebelum China bisa menjadi ancaman bagi Amerika Serikat, China harus mengatasi sejumlah tantangan dalam negeri yang kompleks seperti masalah fokus berlebihan terhadap ekspor, dan ancaman perekonomiannya mengalami pelambatan, masalah demografi, masalah disintegrasi, dsb.
Hubungan-hubungan China-Amerika yang dinamis tidak membuat pasif bagi Indonesia untuk melakukan perubahan system dan kepemimpinan agar di masa depan mampu mewujudkan perubahan di sejumlah medan. Ini akan banyak bergantung pada kita sendiri.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox