Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Selasa, 24 April 2018

Antara Optimisme dan Apatisme Terhadap Parpol



Fajar Kurniawan (Pusat Kajian Analisis Data - PKAD )

"Jika dilihat dari tujuan formal dan AD/ART nya semua parpol itu baik. Mana ada parpol yg bertjuan menderitakan rakyat? Tp kalau dilihat dari orang2nya, ya, bnyk koruptor di parpol2. Jd tak ada itu parpol Allah maupun parpol setan.," kata Mahfud melalui kicauan di Twitter, Senin (23/4/18).

Pernyataan Amien Rais soal partai Allah dan partai setan menuai polemik, dan hingga hari ini masih terus berlanjut. Selain mendapatkan respon dari Prof. Mahfud MD, pengamat Politik dari Universitas Paramadina, Toto Sugiarto, melihat, pernyataan Amien Rais yang membagi kategori partai politik sebagai partai setan dan partai Allah menargetkan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Dikotomi itu sengaja diciptakannya untuk membelah kekuatan dukungan atau suara pemilih.

Menurut penulis, hal yang urgen dicermati, ada sekian banyaknya partai politik peserta Pemilu 2019 dan hal ini membuat sebagian masyarakat menimbang-nimbang pilihan mereka.

Bisa jadi masyarakat tidak banyak tahu, partai-partai mana saja yang layak mendapat mandat untuk mewakili aspirasi mereka. Bahkan di sebagian masyarakat yang berpendapat memang tidak ada partai-partai peserta pemilu yang layak untuk menjadi tempat menggantungkan harapan bagi rakyat. Dari berbagai survey yang dilakukan oleh sejumlah lembaga survey nasional pada tahun-tahun sebelumnya, ada kecenderungan umat sudah begitu apatis dan apriori alias tidak peduli terhadap elit penguasa baik yang duduk di legislatif, eksekutif dan yudikatif.

Di tengah-tengah masyarakat ada yang bersikap apatis terhadap politik dan pemerintahan juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Ada beragam dalih yang membuat seseorang memutuskan untuk golput. Tidak kenal terhadap calon dan rasa kecewa terhadap politik menjadi dalih yang paling kuat mendorong tumbuhnya sikap apatis. Bagaimana mungkin rakyat mau memilih calon pemimpin yang tidak mereka kenal? Bagaimana mungkin rakyat akan memilih calon pemimpin yang pernah membuat mereka kecewa? Jika tidak ada pilihan lain, maka golput dianggap sebagai jalan terbaik.

Tingginya tingkat golput ini sejalan dengan kecenderungan semakin melemahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik berdasarkan hasil sejumlah survey selama ini, yang tercermin dari ketidakpercayaan mereka terhadap wakil-wakil partai politik di DPR.

Namun, di tengah sikap pesimis masyarakat terhadap Pemilu, Pilkada, partai-partai yang ada dan para anggotanya yang duduk di DPR, ternyata ada kecenderungan di kalangan umat bahwa masa depan politik Indonesia ada pada syariah Islam. Jika ini menjadi tren global, apa yang menjadi pemicunya? Tentu bisa dikembalikan pada sikap umat yang bisa jadi sudah muak dengan praktik Kapitalisme dan Sekularisme dengan berbagai dampak yang selama ini harus mereka alami.

Fenomena golput yang terus meningkat dalam Pilkada juga membuktikan hal yang sama. Rakyat sudah paham betul, bahwa proses-proses perubahan yang terjadi melalui pemilihan langsung, baik legislatif maupun eksekutif, nyatanya tidak mengubah sedikit pun nasib mereka. Umat sudah sadar, bahwa pergantian orang tidak akan mengubah apa-apa. Kini mereka menuntut, agar sistem sekular yang selama ini membuat sengsara hidup mereka juga harus diganti, dan mereka menuntut sistem syariah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox