Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 07 Maret 2018

Serba Mendadak di Tahun Politik



Oleh  Nurul Hidayati (Forum Penulis Perempuan Peradaban-FP3)

Tahun 2018 dan 2019 disebut-sebut tahun politik. Panas. Siap-siap mendadak. Tak tanggung-tanggung. Seluruh daya upaya dikerahkan untuk meraup suara mayoritas umat dalam PILKADA tahun 2018 dan pilpres 2019. Manuver-manuver pun sudah tampak dengan menggandeng dan menendang lawan politik.

Rakyat mudah terlena. Dengan iming-iming janji muluk. Suguhan kampanye “full” artis dangdut, sampai obral janji. Hati-hati ada yang mendadak tampil alim dan khusyu’. Balutan sorban, peci, kerudung, dan baju koko. Wow. Super!

Sudah menjadi rahasia umum. Menjelang Pilkada serentak nanti, para kandidat seolah-olah berlomba tampil islami agar menarik suara umat yang notabene kebanyakan muslim. Lihat saja wajah mereka. Sudah ganteng, klimis, khusyu’ pula, layaknya seorang santri. Siapa yang tidak tertarik ? Maka dari itu, dari tahun ke tahun, penampilan islami ini menjadi “komoditas politik” bagi para kandidat/calon pemimpin kita untuk meraup suara mayoritas kaum muslimin di Indonesia.

Dengan penampilan yang khusyu’, mereka “blusukan” ke madrasah. Alasan menjalin ukhuwah Islamiyah,  mereka sambangi pondok-pondok pesantren. Mendatangi tokoh/ormas Islam untuk mendapatkan dukungan.

Padahal, kalau mau dibandingkan, kalau kita nonton berita-berita di  TV, para koruptor atau pengedar narkoba atau para pelaku kriminal lainnya, yang harus menghadapi sidang pengadilan, itu mayoritas penampilannya juga mendadak ‘santri’ dengan peci/baju koko/kerudung. Jadi apa bedanya ya? Ups!

Setelah mengamati fenomena yang menggejala seperti ini,  yang selalu terjadi dari tahun ke tahun menjelang Pilkada, maka ada opini yang mengatakan bahwa suara umat Islam memang menjadi penentu utama dalam setiap pemilihan pemimpin di Indonesia, itu tidak mungkin dibantah. Jumlah kaum muslimim di Indonesia yang hampir 90% dari seluruh populasi penduduk Indonesia, menjadi “aset besar” bagi  parpol yang hendak mengusung calon pemimpin.

Ditambah kondisi kaum muslim yang menjadi kaum mayoritas di Indonesia, tapi nasibnya masih sangat termarjinalkan, baik dari sisi ekonomi, pendidikan, sosial budaya dan kesehatan. Akibatnya, dengan segala ‘kebutaan politiknya’, umat Islam dari mulai pilkada, pileg, hingga pilpres, akan selalu mudah dieksploitasi. Tak heran jika kemudian banyak parpol yang menggunakan modus memperbaiki citra diri para kandidatnya untuk tampil bak seorang santri.

Citra seorang santri dihadirkan karena, tentu saja, santri mewakili sebuah pribadi yang bagus akhlaknya, jujur dan santun dalam pergaulannya. Maka tak heran jika para calon pemimpin kita berdandan layaknya seorang santri yang alim. Maasyaa Allah !

Sayangnya, masyarakat muslim di Indonesia ini terlanjur “lelap” dengan kondisi ini. Mereka masih saja belum tersadar bahwa nasib mereka tengah dipertaruhkan dengan tipu daya muslihat para pemain politik machiavellis kapitalistik, yang menggunakan pencitraan sebagai sarana untuk mencapai kemenangan.

Kaum muslimin bangga dengan simbol-simbol Islam, seperti halnya mereka juga bangga melihat tayangan di TV yang seolah-olah sarat dengan nilai Islam. Masyarakat “terjebak” dengan penampilan calon yang islami, dengan baju koko, peci/sorban/kerudung, dan mereka dengan bangganya mengatakan : inilah pemimpin pilihanku, pilihan umat Islam. Jeglek!

Padahal, kalau kita ingin membandingkan dengan Islam yang sejati, maka tidak akan ditemui politik pencitraan seperti yang kami paparkan sebelumnya. Para kandidat pemimpin di masa Khulafaur Rasyidin adalah para pribadi yang memiliki syakhsiyah Isslamiyah (kepribadian Islam) yang tinggi.

Luhur akhlaknya, lembut terhadap sesama, dan tegas serta berani terhadap orang kafir. Sudah terbukti didalam kitab-kitab terdahulu, bagaimana ketegasan seorang Nabiyullah dan para penerusnya, dalam hal menyelesaikan masalah urusan umat. Telah terbukti bahwa puteri Nabi sendiri akan menghadapi hukum potong tangan jika memang terbukti mencuri. Sudah mengakar pula dalam ingatan, betapa cerdasnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam menyejahterakan umat sehingga hampir tak ada lagi warga yang miskin dan berhak diberi zakat.

Subhanallah! Tanpa simbol pakaian jubah atau gamis, tanpa harus bersorban dan berkalung sajadah, para Khulafaur Rasyidin telah cukup mempesona kaum muslimin utuk kemudian memilihnya menjadi seorang pemimpin

1 komentar:

  1. Teruslah menulis dan menyuarakan keadilan dan kebenaran.....masyaAllah.....

    BalasHapus

Adbox