Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Selasa, 27 Maret 2018

Rakyat Yaman Mencari ‘Tanah Lapang’



Oleh: Ilham Efendi (Resist Invasion Center)

Republik Yaman adalah sebuah negara di Jazirah Arab di Asia Barat Daya, bagian dari Timur Tengah. Yaman berbatasan dengan Laut Arab di sebelah selatan, Teluk Aden dan Laut Merah di sebelah barat, Oman di sebelah timur dan Arab Saudi di sebelah utara. Orang-orang keturunan Arab di Indonesia sebagian besarnya berasal dari negara ini. Penduduk Yaman diperkirakan berjumlah sekitar 23 juta jiwa. Luas negara ini sekitar 530.000 km2 dan wilayahnya meliputi lebih dari 200 pulau. Pulau terbesarnya, Sokotra, terletak sekitar 415 kilometer dari selatan Yaman, di lepas pantai Somalia. Yaman adalah satu-satunya negara republik di Jazirah Arab. (https://id.wikipedia.org/wiki/Yaman)
Konflik di Yaman itu berlatar belakang kegagalan transisi politik dari Presiden Ali Abdullah Saleh ke penggantinya yang juga bekas wakilnya Hadi pada November 2011. Sejak Hadi berkuasa di Yaman, dia dihadapkan pada banyak masalah, antara lian, serangan al Qaeda, gerakan separatis di Selatan, pemberontakan kelompok militer loyalis Saleh, korupsi, pengangguran dan kekurangan makanan. Situasi karut-marut politik di Yaman ini dimanfaatkan oleh gerakan Houthi terdiri dari kaum minoritas Syiah Zaidi melawan Presiden Saleh yang dalam keadaan lemah di Provinsi Saada dan kawasan sekitarnya. Rakyat Yaman baik masyarakat umum maupun Sunni yang kecewa atas transisi pemerintahan memutuskan mendukung Houthi hingga menguasai ibu kota Sanaa pada September 2014. (https://dunia.tempo.co/read/895259/yaman-negeri-termiskin-di-dunia-arab)
Apa yang terjadi di Yaman bukan hanya konflik lokal atau regional, tetapi melibatkan kekuatan-kekuatan internasional. Saat Houthi mengendalikan sebagian besar negara di saat pemerintah sebelumnya di pengasingan, terlihat AS siap untuk merumuskan beberapa penyelesaian akhir yang akan membuat Houthi memainkan peran sentral.
Setelah kekalahan Ali Salem Al-Beidh dan Ali Nasser Mohammed pada tahun 1994 dan eksploitasi sumber daya Yaman selatan, termasuk marginalisasi orang-orang dari Selatan dan penganiayaan terhadap banyak tentara Selatan, semua ini telah menyebabkan munculnya berbagai gerakan oposisi sejak tanggal itu, terutama tiga gerakan:
- Gerakan Selatan, sayap Ali Salem Al-Beidh yang berubah-ubah: terkadang pro Amerika dan agen-agennya, dan kadang-kadang pro dengan Inggris dan agen-agennya.
- Gerakan Selatan, sayap Hassan Baoum yang didukung oleh Amerika dan para agennya, terutama Iran.
- Gerakan Selatan, sayap Al-Zubaidi yang didukung oleh Inggris dan Agennya, khususnya UEA.
Konflik di yaman Merupakan persaingan untuk berebut kekuasaan dan kekayaan antara Inggris dan AS. Menteri Luar Negeri Yaman Riyad Yasin pernah menjelaskan pada Al-Jazeera di Doha bahwa tidak ada tempat untuk Houthi dalam solusi politik berikutnya. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk memotong jalan di depan Kerry yang berusaha memasukkan kelompok Houthi dalam sandiwara berikutnya. Amerika masih kebingungan untuk memenangkan sekutunya dengan berbagi kekuasaan.
Amerika telah mendukung Houthi melalui Iran dengan berbagai macam senjata dan peralatan militer agar mereka mampu mengontrol Yaman menggunakan kekuatan. Sebabnya, Amerika paham bahwa lingkungan politik di Yaman pada lazimnya adalah buatan Inggris. Houthi beranggapan, bahwa mereka memiliki kekuatan yang bisa mengontrol Yaman.
Penulis telah menyoroti posisi kelompok penting pada isu Yaman saat ini, dan masalah ini diintervensi dan dikobarkan oleh kolonialis barat menggunakan kelompok-kelompok Yaman! Jadi, darah rakyat Yaman sedang ditumpahkan.[]






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox