Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 28 Maret 2018

Paradox Aturan Berpakaian di Indonesia



Oleh Erwina Mei Astuti
(Anggota Komunitas Revowriter Jombang)

Polemik cadar akhirnya berakhir. Rektor UIN Sunan Kalijaga (Suka) Yogyakarta, Yudian Wahyudi, mencabut larangan cadar berdasarkan surat bernomor B-1679/Un.02/R/AK.00.3/03/2018 dengan perihal Pencabutan Surat tentang Pembinaan Mahasiswi Bercadar. Keputusan ini diambil sabtu, 10 maret 2018. Sebelumnya UIN Suka mengeluarkan aturan perihal larangan cadar di kalangan kampus, 28 februari 2018. Pembinaan bagi mahasiswi yang bercadar akan diberlakukan. Larangan ini dengan dalih yang bercadar diduga menganut Islam "yang berlawanan dengan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan Islam moderat di Indonesia". Tentu saja pelarangan ini menuai sorotan di masyarakat.

Di sisi lain, masyarakat yang katanya membela perempuan, memiliki pendapat sendiri tentang pakaian. Dalam aksi Women's march, didapatkan poster bertuliskan "kontrol otakmu bukan pakaianku", "berjilbab oke, tak berjilbab juga kece", "bukan rok kami yang salah tapi otak kalian yang mini". Poster tersebut menunjukkan keinginan adanya kebebasan dalam berpakaian, tanpa aturan baku.

Pakaian merupakan salah satu kebutuhan pokok selain tempat tinggal dan makanan. Manusia melindungi dan menutup tubuhnya dengan berpakaian. Demi keamanan dan kebersihan, terkadang dibutuhkan pakaian tertentu. Seiring dinamika masyarakat, pakaian menjadi simbol status, kedudukan ataupun jabatan atas diri seseorang. Bermunculan pula pakaian menurut adat istiadat, kebiasaan dan budaya.

Lantas berpakaian seperti apa yang bisa diterima semua kalangan? Dalam berbagai acara, sering disebutkan dresscode "bebas rapi". Tidak ada standar dan aturan baku tentang bentuk bebas dan rapi itu, bahkan bisa berubah-ubah berdasarkan tempat dan waktu. Semuanya diserahkan pada pandangan manusia.

Adapun Islam memiliki aturan yang jelas tentang pakaian. Karena dalam Islam, fungsi pakaian terutama untuk menutup aurat. Batasan aurat pun jelas dan tegas. Bagi laki-laki, batasan auratnya dari pusat sampai lutut. Sedangkan bagi perempuan, batas auratnya adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Terdapat aturan tambahan atas pakaian yang dipakai. Yaitu longgar dan tidak menampakkan warna kulit.

Landasan argumentasi tentang pakaian ini adalah berdasarkan perintah Allah swt. Bagi perempuan terdapat kewajiban untuk berjilbab dan mengenakan khimar. Sebagaimana firman Allah swt dalam QS annur : 31 yang artinya "Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung". 

Juga dalam QS al ahzab : 59 yang artinya "Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". Demikianlah Islam mengatur masalah pakaian, jelas dan tegas. Tak akan ada paradoks atau kerancuan dalam berpakaian karena sudah ada standar yang baku.[]



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox