Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 07 Maret 2018

Gema Pembebasan Malang: Menolak Lupa, 94 Tahun Runtuhnya Institusi Politik Islam



Malang, 3 Maret 2018. Acara yang diselenggarakan Gema Pembebasan Malang dengan mangangkat tema Menolak Lupa 94 Tahun Runtuhnya Khilafah yang berlangsung di Halte Koffe berlangsung menarik. Acara yang dihadiri 56 peserta tersebut membuktikan bahwa banyak pemuda yang antusias terkait tema yang sekarang ini banyak dibicarakan masyarakat yaitu mengenai Khilafah.

Rujian Khairi dari Rumah Thafidz Qur’an sebagai pemateri pertama mengungkapkan bahwa Khilafah merupakan instititusi hukum yang pernah diterapkan Rasulullah dan para sahabatnya. Ada empat fase perjalanan umat Islam dan Khilafah itu sendiri.

Fase pertama adalah fase kenabian saat itu umat islam dipimpin oleh seoarang nabi yaitu Rasulullah yang membawa risalah Islam. Dijaman ini pertama kali tegak hukum islam dalam naungan Khilafah.  Fase kedua adalah fase khulafaur rasyidin yang masih dalam koridor minhajin nubuwah dimana umat Islam dipimpin  oleh Abu Bakar RA, Umar bin Khatab, Usman bin Affan RA, dan Ali bin Abi Thalib RA.

Fase ketiga adalah fase mulkan ‘adhan atau kerajaan yang menggiggit, fase ini dikatakan kerajaan yang menggiggit karena pada fase ini mulai ada penyimpangan-penyimpangan seperti sistem pergantian pemimpin yang hanya ada pada garis keturunan khalifah padahal dalam islam hal tersebut.

Namun pada fase ini masih dikatakan sebagai khilafah dikarenakan asas berdirinya institusi tersebut masih berlandasan Islam Fase keempat adalah fase mulkan jabbariya, fase ini adalah fase kondisi umat Muslim yang paling buruk. Umat Muslim tidak ada lagi konstitusi yang menerapkan syariat Islam dan sistem kenegaraan Khilafah, lebih tepanya runtuh pada 3 Maret 1924. Fase ini umat Muslim tidak lagi menjadi umat yang agung malinkan menjadi daging yang siap disantap oleh ribuan singa.
Kondisi pada fase keempat ini sama persis seperti jaman sekarang ini, dimana umat Muslim menjadi bulan-bulanan orang-orang kafir.  Fase Kelima adalah fase kembali berdirinya Khilafah ‘ala Minhaaj al Nubuwwah. Pada fase ini Khilafah akan tegak kembali seperti peneggakkan khilafah dengan metode yang pernah diterapkan oleh Rasulullah. Dunia akan diperintah menggunakan syariat Islam dan dipipin oleh seorang Khalifah yang adil pilihan Umat.

Selanjutnya Taufik S. Permana dari Geopolitical Institute sebagai pemateri ke dua mengungkapkan bahwa runtuhnya khilafah tidak terlepas dari proses politik barat. Melalui agen Inggris yaitu Mustafa Kemal mampu meruntuhkan Khilafah yang berdiri selam 1400 tahun.

Sebelum itu sentiment perang antara Khilafah dan Barat sering memanas, hal tersebut wajar karena ada pertarungan antara yang haq yaitu Islam dan yang batil yaitu Kekafiran diemban oleh Barat. Barat menyadari bahwa militer umat Islam sangat kuat sehingga paska revolusi Industri barat yang didukung oleh para pemikir filsafat menyerang umat Islam dengan pemikiran filsafat.

Pada saat itu peradaban Islam sedang dalam kondisi menurun disebabkan tidak adanya peran pemikiran yaitu kesadaran mengenai mabda Islam yang lemah, sehingga mereka takjub dengan peradaban barat disisi pemikiran dan teknologinya. Sehingga kiblat umat Muslim banyak yang berkhidmat pada Barat.

Para pemuda-pemuda bangga dengan mengemban ilmu di Barat setelah kembali mereka menjadi perusak pemikiran. Selain itu sistem Khilafah yang mulai dirong-rong oleh agen agen barat yang ada pada sistem pemerintahan. Hingga titik puncaknya dinal yang Namanya Mustafa Kemal Artatruk yang meruntuhkan Khialfah pada 3 Maret 1924 dan mampu mengusir Khalifah umat Islam yaitu Abdul Majid II.


Paska runtuhnya Khilafah barat melanjutkan penjajahannya. Penjajahan dengan fisik diberhantikan setelah perang dunia ke II dan melahirkan yang Namanya perdamaian internasional. Namun sebenarnya ini adalah langkah untuk menuju politic and cultural invasi.

Barat tidak lagi menggunakan fisik namun lebih tepatnya menggunakan pengaruh pemikiran dan kebijakan negara. Sehingga focus invasi Barat sebenarnya terletak pada imperealisme ideologi, imperealisme politik, imperealisme budaya, imperealisme pendidikan, dan imperealisme ekonomi.

Setelah itu Pemateri ke tiga yaitu Ahmad. A. S dari Gema Pembebasan Jawa Timur mengungkapkan bahwa pergerakan mahasiswa sekarang ini mengalami prakmatisme. Hal tersebut terbukti meraka terjebak dengan pemikiran-pemikiran kapitalis.

Sebagai mahasiswa yang beragama Islam sudah semestinya mereka pola fikirnya adalah Islam. Islam adalah agama yang mengatur segalanya, dari aspek pemikiran hingga aspek kebijakan diatur oleh Islam. Ahmad A. Syam menjelaskan bahwa Khilafah akan tegak pada saatnya. Apapun yang terjadi pasti Islam akan tegak. Mau kita berjuang atau tidak berjuang Khilafah akan tegak, tinggal kita berada di posisi mana, posisi diam atau mengikuti memperjuangkan yang haq. Dalam memperjuangkan Khilafah tidak mengharuskan para mahasiswa masuk ke dalam Gema Pembebasan seperti halnya masuk dalam  parlemen Demokrasi.

Dalam sistem Demokrasi sangat jelas kekufurannya yang mengkerdilkan umat Islam itu nampak, sepanjang berjalannya Demokrasi keadilan tidak akan nampak. Oleh sebab itu memperjuangkan peneggakkan Islam yaitu Khilafah adalah keharusan. Jika kalian ingin membuat bakso tapi tanya ke tukang nasi goreng yang ada adalah kerancuan, jika kalian ingin berjuang meneggakkan khilafah maka tanyalah kepada orang-orang yang fokusi dalam memperjuangkan dan mengkaji peneggakkan Khilafah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox