Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 28 Maret 2018

Cerdas Memandang Perjuangan Kaum Perempuan


Oleh: Ummu Hafuza

Ratusan bahkan ribuan kaum perempuan di Amerika dan seluruh dunia turun ke jalan dalam rangka memperingati Women’s Day 2018 pada 8 Maret 2018. Bagaimana dengan Jakarta? Kaum perempuan juga tak kalah “panik”. Bahkan euforianya sudah bisa dirasakan sejak memasuki awal bulan Maret. Walhasil, aksi Women’s March pun dihelat lebih awal dari tanggal resminya, tepatnya 3 Maret 2018. Berlokasi di Jakarta, aksi Women’s March kali ini bertajuk #LawanBersama. (www.cnnindonesia.com)

Women’s Day dinanti karena dianggap momen menyuarakan tuntutan dan aspirasi yang berpihak pada kaum perempuan. Setidaknya 8 tuntutan yang mereka suarakan dalam aksi tersebut. Lah, berarti selama ini bagaimana dong posisi kaum perempuan sehingga perlu diperjuangkan tuntutan dan aspirasinya?

Ngomong tentang kasus kaum perempuan bakal tak ada habisnya. Menurut data yang dihimpun oleh https://news.idntimes.com, pada tahun 2017 terdapat hampir 260.000 kasus kekerasan terhadap perempuan dan dilaporkan. Menurut catatan tahunan dari Komnas Perempuan, terdapat 173 perempuan yang dibunuh di Indonesia pada tahun 2017, dengan 95 persen di antaranya dibunuh oleh laki-laki. Hiii, ngeri, Bung!

Bagaimana dengan tahun-tahun sebelumnya? Sama saja. Datanya bikin ngeri. Data yang dihimpun oleh Komnas Perempuan menyebutkan pada tahun 2016, sebanyak 259.150 kasus. Tahun 2015 ada 16.217 kasus. Artinya, ada kenaikan yang sangat signifikan. Kasus kekerasan bukannya malah turun, justru makin agresif naik berlipat-lipat. Begitulah data laporan berbicara sehingga penting bagi kaum perempuan untuk menyuarakan tuntutan dan aspirasinya.

Peringatan Women’s Day saat ini tak bisa dilepaskan dari akar sejarahnya. Dilansir oleh Grid.id dari laman thesun.co.uk, International Women's Day pertama kali diadakan di New York pada tanggal 28 Februari 1909. Peringatan ini diselenggarakan oleh Partai Sosialis Amerika. Satu tahun kemudian, pada saat International Women's Conference di Copenhagen, perwakilan Sosialis mengusulkan agar ada peringatan Hari Perempuan Internasional yang terinspirasi oleh para demonstran di New York. Para delegasi yang hadir dalam konferensi itupun sepakat bahwa hari perempuan internasional memang harus dibentuk sebagai upaya untuk mempromosikan hak-hak yang sama untuk perempuan.

Setelah konferensi itu, hari perempuan internasional dirayakan pada tanggal 19 Maret 1911 di Austria, Denmark, Jerman dan Swiss. Baru dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1913 diusulkan agar peringatan International Women's Day dipindah pada tanggal 8 Maret yang akhirnya diperingati sampai sekarang. Tujuan awal diperingatinya hari perempuan internasional ini adalah untuk mewujudkan kesetaraan gender bagi perempuan. Namun, sepertinya hal itu belum bisa terwujud sampai hari ini. Buktinya, perayaan tersebut masih ramai digelar. Tujuannya agar para perempuan tetap termotivasi dan tidak berhenti melakukan perjuangan untuk menegakkan kesetaraan gender.

Dari data kasus kekerasan pada perempuan dan perjuangan mereka menyuarakan tuntutan dan aspirasinya menandakan ada yang salah dalam memperlakukan perempuan. Salah kaprah tersebut tentu bersumber dari cara pandang yang keliru terhadap perempuan. Contoh saja kekerasan seksual yang dialami kaum perempuan mengindikasikan bahwa ada anggapan bahwa perempuan itu makhluk yang tak perlu dihormati, tak berharga, tak mulia. Sejarah telah menuturkan bagaimana kedudukan perempuan dari masa ke masa.

Dalam peradaban Yunani, perempuan sangat dilecehkan dan dihinakan. Perempuan dipandang sama rendahnya dengan barang dagangan yang bisa diperjualbelikan di pasar. Perempuan boleh dirampas haknya sehingga sama sekali tidak diakui hak-hak sipilnya, contohnya perempuan tidak perlu mendapat warisan dan tidak mempunyai hak untuk menggunakan hartanya sendiri.

Menurut peradaban Romawi, perempuan berada dalam kekuasaan ayahnya. Kalau sudah menikah maka kekuasaannya pun jatuh ke tangan suaminya-sebuah kekuasaan kepemilikan bukan kekuasaan pengayoman-dan kondisi ini berlangsung sampai abad keenam masehi. 

Ajaran agama Yahudi menganggap perempuan seperti barang warisan yang dapat diwariskan kepada keluarganya jika suaminya telah meninggal. Mereka menempatkan martabat perempuan sebagai pelayan (budak), sehingga ayahnya berhak untuk menjualnya. Mereka juga beranggapan bahwa perempuan tidak bisa mewarisi apa pun kecuali jika ayahnya tidak punya anak laki-laki.

Begitu pula dengan bangsa-bangsa lain seperti, India, Cina bahkan bangsa Arab pada masa jahiliyah, semuanya menempatkan posisi kaum perempuan dalam posisi teramat rendah dan hina. Pada zaman jahiliyah orang Arab merasa malu bila istrinya melahirkan seorang anak perempuan karena itu dianggap aib terbesar bagi keluarga. Sang bayi perempuan yang baru lahir langsung dikubur hidup-hidup. Sadis, bukan? Demikianlah nasib kaum perempuan masa lalu dalam sejarah bangsa-bangsa di dunia di awal abad ketujuh. Semua itu terjadi sebelum datangnya Islam. Mengapa standar Islam? Sebab Islam punya cara pandang berbeda terhadap perempuan.

Jika bangsa-bangsa masa pra-Islam merendahkan  perempuan, Islam justru memuliakan perempuan. Islam telah mampu mengangkat derajat kaum perempuan menjadi sejajar dengan kaum laki-laki. Diberikan derajat yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam hal pahala dan derajat di sisi Allah SWT sebagaimana diungkapkan Al-Qur’an dalam surat An-Nahl ayat 97. Islam pula yang mengangkat derajat kaum perempuan hingga memiliki surga di telapak kakinya. Sebuah kedudukan teramat mulia nan luhur. Bahkan, Rasulullah Muhammad SAW sampai tiga kali menyebut perempuan (ibu) sebagai sosok yang harus dihormati karena telah mengandung, melahirkan, dan menyusui yang tidak bisa dilakukan oleh kaum laki-laki.

Islam juga tak menghalangi kaum perempuan untuk melek pendidikan. Bahkan kedudukannya sama dengan laki-laki karena Islam mewajibkan tiap muslim menuntut ilmu. Alhasil, muncul sosok Fatimah al-Fihri, perempuan muslim pendiri universitas pertama di dunia, Universitas Al-Qarawiyyin, yang masih ada hingga sekarang di Maroko.

Lantas mengapa sekarang perempuan begitu merana dengan berbagai kasus penganiayaan, pelecehan, kekerasan? Jawabannya mudah. Semua akibat sistem selain Islam yang diterapkan untuk mengatur urusan manusia, termasuk urusan kaum perempuan. Adalah Kapitalisme yang berkuasa pasca runtuhnya kekuasaan Islam pada 1924 silam, tentu saja memililki pandangan yang khas pada kaum perempuan. Perempuan dianggap sebagai makhluk kelas kedua yang bebas dimanfaatkan (dieksploitasi) sedemikian rupa karena mampu menghasilkan manfaat bagi kaum kapitalis. Nilai perempuan pun jadi murah meriah. Tak heran muncul kasus pelecehan seksual, perdagangan perempuan, KDRT, dll.  Di Indonesia kasus perdagangan perempuan tak kunjung redam. Padahal, Kongres Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) sejak tahun 1932 telah membahas isu tersebut. Nah, di era modern, perempuan dijadikan sebagai lumbung komersial, target baru produk kapitalis yang sangat menjanjikan.

Wahai kaum perempuan peserta aksi Women’s March, yang memperingati Women’s Day, perlu kecerdasan dalam memandang isu perempuan saat ini tak semata karena emansipasi perempuan tak setara dengan kaum laki-laki. Akar masalah justru karena sistem Kapitalis yang menggurita ini yang jadi biang kerok kesengsaraan pada kaum perempuan. Akan sia-sia saja aksi Women’s March tiap tahun karena tak akan mengubah nasib kaum perempuan. Kalaupun perempuan merasa mendapatkan kedudukan dalam ajang Miss Indonesia, Miss World, itu hanya ilusi saja. Karena hakikatnya para kapitalis hanya menginginkan keuntungan dari kegiatan tersebut. Bukan untuk mengangkat derajat perempuan di dunia, apalagi di akhirat. Para perempuan kini harusnya meneriakkan sistem Islam.  So, ganti tajuk kalian dengan #TerapkanIslam.

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox