Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 12 Februari 2018

Suksesi Kota Minyak 2018



Oleh: Sumariyanto 
(Analis Lingkar Opini Rakyat-LOR)

 Suksesi dilihat dari segi bahasa berarti proses pergantian kepemimpinan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sedangkan menurut istilah suksesi berarti suatu proses perubahan, berlangsung satu arah secara teratur yang terjadi pada suatu komunitas dalam jangka waktu tertentu hingga terbentuk komunitas baru yang berbeda dengan komunitas semula. Ada juga yang mendefinisikan suksesi adalah suatu proses peralihan dari suatu generasi ke generasi yang lain, selanjutnya untuk memimpin sekelompok orang dalam satu wilayah atau lokal tertentu dan untuk jangka waktu tertentu. Suksesi bukanlah perkara yang mudah dan sederhana. Itulah yang dirasakan para sahabat sepeninggal Rasulullah saw. Sejarah telah mencatat betapa mereka sangat hati-hati memilih pengganti Nabi.

 Cadangan minyak bumi yang ada di Lapangan Banyu Urip Kecamatan Gayam Kabupaten Bojonegoro yang lebih dikenal Blok Cepu sangat melimpah. Minyak dan gas bumi (migas) di lapangan yang dioperatori oleh Exxon Mobil Cepu Limited (EMCL) mencapai 720 juta barel. Sedangkan lama eksplorasinya sekitar 30 tahun. Saat ini jumlah produksi migas yang dioperatori pusahaan asal Amerika Serikat itu dari sebanyak 49 sumur yang ada itu bisa memproduksi 203 ribu barel perhari. Target didalam APBN jumlah produksi migas sebesar 815 ribu barel perhari. Itu berarti Bojonegoro menyumbang pendapatan negara 25% dari sektor migas. Maka layak Bojonegoro disebut sebagai kota minyak.

 Uraian diatas mendasari kesimpulan bahwa suksesi kota minyak 2018 adalah proses pergantian kepemimpinan di Kabupaten Bojonegoro untuk jangka waktu lima tahun guna memperbaiki kondisi melalui pemilihan kepala daerah 2018.

EUFORIA PEMILIHAN KEPALA DAERAH

 Pemilihan kepala daerah tahun 2017 menampilkan tontonan yang berbeda bagi masyarakat. Terutama peristiwa di Jakarta yang memenangkan pasangan Anis – Sandi dengan mendepak Ahok – Jarot dari kursi Kepala Daerah Propinsi DKI Jakarta. Ditahun ini Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak akan digelar pada 27 Juni 2018 di 171 daerah. Dari 171 daerah tersebut, ada 17 propinsi, 39 kota dan 115 kabupaten yang akan menyelenggarakan pilkada di 2018. Kabupaten Bojonegoro merupakan salah satu diantara 115 kabupaten yang menyelenggarakan pesta demokrasi itu.

 Tahapan Pemilihan Kepala Daerah Bojonegoro Tahun 2018, telah melewati tahapan pendaftaran bakal pasangan calon (paslon) bupati – wakil bupati Bojonegoro. Dalam pendaftaran yang digelar sejak tanggal 8, 9 hingga 10 Januari 2018 lalu, telah mendaftar 4 (empat) bakal paslon. Empat bakal paslon bupati-wakil bupati Bojonegoro, yakni, Pasangan Mafudhoh – Kuswiyanto (MK); Pasangan Anna Mu’awanah – Budi Irawanto (Mbak Anna – Mas Wawan); Pasangan Soehadi Moeljono – Mitro’atin (Mulyo – Atine) dan Pasangan Basuki – Pudji Dewanto (Basudewa).

 Pasangan bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro Mahfudoh-Kuswiyanto mendaftar ke kantor KPUD dengan berjanji akan meneruskan kinerja bupati sebelumnya. Pernyataan ini disampikan kedua calon sebelum mendaftar sebagai peserta Pilbup Bojonegoro 2018 di kantor KPUD di Jalan KH Rosyid Bojonegoro, Senin (8/1/2018). Mahfudoh, istri bupati Suyoto mengaku ingin melanjutkan program yang sudah baik. Diantaranya infrastruktur jalan, keterbukaan dan transparansi publik. Sedangkan untuk program yang belum tuntas dilakukan oleh sang suami saat menjabat dua periode ini juga akan diteruskan. Selain itu ia juga akan membuat terobosan program baru yang nantinya akan dilakukan bersama wakil bupati jika memenangi pilbup ini. Mahfudoh-Kuswiyanto menjadi pendaftar pertama sebagai pasangan calon Pilbup Bojonegoro 2018. Keduanya diantar ke KPUD oleh tiga pengurus partai pengusung yakni PAN, Hanura dan NasDem.

 Dengan menumpang becak, ratusan pendukung dan simpatisan paslon Anna Muawanah-Budi Irawanto mengantarkan calonnya mendaftar ke KPUD Bojonegoro. Pendaftaran paslon ini juga dimeriahkan oleh hiburan seni Reog, Hadrah serta Barongsai. Dengan mengunakan busana Putih dan Merah, kandidat yang diusung PKB dan PDIP menyerahkan berkas pendaftaran di lantai 2 gedung KPUD Bojonegoro. Setelah menyerahkan berkas pendaftaran, calon Bupati Anna Muawanah dalam pidato politiknya di depan pendukungnya mengatakan, jika keinginan maju dalam pilkada Bojonegoro ini tak lain karena masih banyaknya pembangunan yang belum merata di desa-desa. Selain itu, indeks pembangunan masyarakat yang masih rendah membuatnya ingin mengabdikan diri menjadi orang nomor 1 di Bojonegoro. Dengan bekal tiga periode menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan Bojonegoro Tuban, Anna Muawanah yakin bisa terpilih menjadi bupati bersama wakil bupatinya yang juga kader PDIP yang selama ini juga duduk di kursi Dewan Bojonegoro.

 Ratusan massa dari berbagai elemen masyarakat mengantar pasangan Moeljono-Mitroatin ke KPUD Bojonegoro. Kehadiran paslon dari Partai Demokrat-Golkar diiring lantunan sholawat badar. Dengan membawa atribut bergambar Soehadi Moeljono-Mitroatin, serta bendera partai maupun ormas, massa memenuhi halaman Kantor KPUD di jalan KH Rosyid, Rabu (10/1/2018). Sebelum masuk ruang pendaftaran, pasangan yang mempunyai jargon Moeljo Atine ini sempat berorasi politik di atas truk. Dalam pidato politiknya, Soehadi Moeljono-Mitroatin berjanji jika terpilih menjadi bupati dan wakil bupati Bojonegoro pada pilkada 2018, akan melakukan perubahan dan penataan birokrasi yang terbuka. Paslon Moeljo Atine ini juga akan mempermudah masyarakat yang membutuhkan jaminan kesehatan. Caranya mempermudah proses adminitrasinya dengan hanya menunjukkan KTP akan bisa langsung dilayani. Bahkan puskesmas yang selama ini hanya buka pada siang hari, akan dibuka 24 jam dengan penambahan fasilitasnya. Sedangkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, program UMKM dan wisata lokal akan terus digarap sehingga mampu menumbuhkan perekonomian di desa desa.

 Pendaftaran calon bupati dan wakil bupati Bojonegoro di hari terakhir ditutup oleh mendaftarnya Basuki-Pudji Dewanto, Rabu (10/1/2018). Sebelum menuju kantor KPUD, paslon ini melakukan doa bersama di pondok Ar Rahmat dan menyaksikan pagelaran tarian sufi. Paslon Basuki-Pudji Dewanto adalah kandidat keempat yang mendaftarkan diri ke kantor KPUD Bojonegoro. Bersama massa pendungkungnya, mereka melakukan pendaftaran, mereka juga dikawal pengurus dua partai yang mengusungnya Gerindra dan PPP. Dipilihnya pondok Ar Rahmat sebagai titik awal menuju kantor KPUD karena calon bupati Basuki merupakan pengurus pondok serta selama ini juga menjabat sebagai kepala Dinas Perdagangan Bojonegoro. Basuki mengatakan ingin menjadi pemimpin Bojonegoro karena selama ini masih banyak yang perlu di benahi diantaranya terkait kemiskinan yang masih tinggi, padahal di Bojonegoro ada proyek migas yang cukup besar. Kemiskinan di Bojonegoro itu peringkat ke-28 dari 38 Kabupaten di Jawa Timur sehingga ini perlu dikurangi. Sementara itu, cawabup Pudji Dewanto berharap tidak ada kampanye hitam yang membuat warga malah tidak simpatik dan akan cederai pesta demokrasi ini.

 Tahap selanjutnya tanggal 10 hingga 16 Januari 2018 adalah penelitian syarat calon. Selanjutnya, tanggal 17 hingga tanggal 18 Januari 2018 merupakan hasil penelitian syarat calon yang diumumkan di laman KPU. Sedangkan, tanggal 18 – 20 Januari 2018 penyerahan perbaikan syarat calon. Tanggal 20 – 26 Januari 2018 merupakan saatnya pengumuman perbaikan dokumen syarat pasangan calon di laman KPU. Setelah itu, di tanggal 19 – 27 Januari 2018 dilakukan penelitian syarat calon. Tanggal 12 Februari 2018 merupakan penetapan pasangan calon dan tanggal 13 Februari 2018 adalah pengundian dan pengumuman nomor urut pasangan calon.

UMAT HARUS CERDAS MEMILIH

 Janji yang ditawarkan keempat pasangan calon dengan inisial MK, Mbak Anna – Mas Wawan, Mulyo – Atine, Basudewa tampak indah dan mempesona. Namun muncul pertanyaan: akankah mereka memenuhi apa yang mereka janjikan itu kelak? Pengalaman demokrasi menyatakan hal yang sebaliknya. Begitu mereka terpilih sebagai kepala daerah, mereka asik dengan kepentingan diri dan partainya sendiri. Kepentingan finansial sangat kental yakni mengembalikan investasi yang telah dikeluarkan. Demokrasi memang sangat mahal. Bahkan gaji mereka selama menjabat sebagai kepala daerah tidak cukup untuk membiayai proses pencalonan. Wajar bila kemudian banyak kepala daerah yang akhirnya berompi oranye karena ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akibat riswah. Berita terkini setelah pemimpin Mojokerto, Bupati Jombang juga tertangkap basah dalam operasi tangkap tangan yang dilakukan KPK.

 Maka menggantungkan perubahan dengan sistem demokrasi yang ada, kendati berubah-ubah bentuk pemilihan kepala daerahnya, tak akan menguntungkan Islam dan kaum Muslim, termasuk negeri ini. Sudah cukup umat Islam menjadi penggembira dalam setiap Pilkada dan Pilpres. Saatnya Kaum Muslim menentukan jalannya negeri ini. Terlalu lama negeri ini jauh dari barakah Allah SWT karena menolak aturannya. Sudah bukan masanya lagi, umat Islam sekedar diambil suaranya. Kaum Muslim harus memiliki nilai jual yang tinggi. Siapapun yang akan meminta suara mereka, mereka harus mau mengikuti kemauan kaum Muslim. Kemauan itu hanya satu yakni: menerapkan syariat Islam secara kaffah. Ini bukan sekedar kemauan manusiawi, tapi ini adalah perintah ilahi rabbi. Bagaimana, setujukah anda wahai pemimpin Umat?

 Catatan Kaki :
1) https://news.detik.com/berita-jawa-timur/
2) http://rakyatindependen.com/penetapan-pasangan-calon-bupati-wakil-bupati-bojonegoro
3) http://beritajatim.com/berita_migas/
4) https://kbbi.web.id/suksesi
5) http://www.republika.co.id/berita/shortink
6) Mediaumat.news edisi 211

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox