Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Minggu, 25 Februari 2018

Nasib Guru Honorer: Bukti Tidak Ada Penghargaan Pada Guru


Oleh : Indha Tri Permatasari, S.keb, Bd.

Ditangan seorang guru terbentuklah generasi penerus bangsa yang cerdas, unggul dan mampu mengatasi tantangan zaman. Oleh sebab itu profesi sebagai Guru sudah seharusnya dijamin kesejahteraannya bahkan layak diberikan fasilitas agar dapat fokus mendidik dan mencetak generasi unggul.

Wacana guru honorer akan diangkat menjadi CPNS bak angin seger bagi kejelasan nasib guru honorer saat ini.

Menurut Pelaksana Harian (Plh) Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah Kemendikbud Reni Yunus bahwa Kemendikbud sudah mencanangkan program pengangkatan guru honorer menjadi CPNS.

 Terutama di daerah-daerah 3T (terdepan, tertinggal, terluar). Namun, aturan di UU nomor 5 tahun 2014 tentang ASN memberikan batas usia rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) maksimal 35 tahun.

 “Tapi jumlahnya sedikit sekali, kebanyakan usianya sudah diatas 35 tahun, bahkan menjelang pensiun,” katanya. Selain itu, kendala yang dihadapi adalah para guru honorer tersebut tidak memiliki sertifikasi profesi yang diperoleh dari Pendidikan Profesi Guru (PPG). (https://www.jpnn.com/news/2-ganjalan-guru-honorer-diangkat-jadi-cpns?page=2 )

Nampaknya angin segar ini tidak akan dirasakan seluruh guru honorer di Indonesia, pasalnya guru honorer yang diangkat tidak semua memliliki kirteria sesuai UU no 5 tahun 2014. Peran guru honorer kian terpinggirkan, ini adalah bukti nyata bahwa Negara lalai dalam memberi penghargan pada Guru.

Padahal di dalam sistem pendidikan yang baik, salah satu hal yang harus dipenuhi adalah terwujudnya kesejahteraan pada guru oleh negara. Namun melihat fakta tersebut, tidaklah heran mengapa kesejahteraan para guru tidak mampu terwujud.

Hal ini disebabkan karena sistem kapitalisme yang diusung maka yang terjadinya liberalisme di berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan, yang mengakibatkan tidak maksimalnya peran dan tanggung jawab negara dalam mengurusi sistem pendidikan karena hanya bertindak sebagai regulator saja, terjadi lepasnya tanggung jawab pemerintah sebagai pelayan rakyat secara langsung tapi menjadi wasit.

Dari sini ideologi Kapitalisme hanya menghasilkan kesengsaraan dan kesempitan hidup bagi umat manusia, karena ideologi ini berpaling bahkan bertentangan dengan syariah-Nya.

Allah SWT berfirman:
“Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, baginya kehidupan yang sempit dan pada Hari Kiamat kelak Kami akan membangkitkannya dalam keadaan buta. (QS Thaha [20]: 124)
.
Wahai kaum muslim, pilihan pada ada pada diri kita. Mau tetap berkubang dalam kehidupan saat ini yang dikuasai oleh ideologi Kapitalisme, yang telah terbukti melahirkan kesengsaraan dan kesempitan hidup. Yang mau berfikir pasti akan memilih islam sebagai solusi masalah hidupnya. Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox