Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Selasa, 06 Februari 2018

Masih Lebih Aman Kartu Kuning Daripada Bendera Hitam


Oleh: Nindira Aryudhani 
 Relawan Opini dan Media

Linimasa Jumat (02/02/2018) kemarin viral dengan aksi Ketua BEM UI yang secara spontan dan tepat sasaran mengacungkan “kartu kuning” kepada Presiden. Netizen pun menggeliat. Makin malam, makin banyak netizen yang menyatakan dukungan terhadap aksi tersebut. Tak ayal, dunia maya mendadak heboh. Aksi ini bagai secercah harapan kala mahasiswa sang agen perubahan dianggap tengah mati suri pasca acara makan bersama di Istana.
.
Aksi simbolik membunyikan peluit dan pemberian kartu kuning yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo tersebut, bermaksud untuk memberi peringatan kepada Presiden bahwa masih banyak isu yang membuat masyarakat resah atas kondisi Indonesia. Karenanya, aksi ini membawa 3 tuntutan:
.
1. Tuntaskan Persoalan Gizi Buruk di Asmat, Papua.
Isu gizi buruk di Asmat berdasarkan data Kemenkes menyebutkan, terdapat 646 anak terkena wabah campak dan 144 anak menderita gizi buruk di Asmat. Selain itu ditemukan pula 25 anak suspekcampak serta empat anak yang terkena campak dan gizi buruk. Kondisi gizi buruk tersebut tidak sebanding dengan dana otonomi khusus yang pemerintah alokasikan untuk Papua. Pada 2017, dana otsus untuk Papua mencapai Rp 11,67 triliun, yaitu Rp 8,2 triliun untuk Provinsi Papua dan Rp 3,47 triliun untuk Provinsi Papua Barat.
.
2. Menolak dengan tegas Rencana Pengangkatan Plt. Gubernur dari kalangan Polri Aktif.
Penunjukan Asisten Operasi Kapolri Irjen Mochamad Iriawan sebagai Plt Gubernur Jabar dan Kadiv Propam Polri Irjen Martuani Sormin sebagai Plt Gubernur Sumut yang kembali memunculkan dwifungsi Polri/TNI. Hal tersebut dikhawatirkan dapat mencederai netralitas Polri/TNI.
.
3. Menolak Draft Permendikti tentang Ormawa yang dianggap sangat membatasi pergerakan mahasiswa.
Draft peraturan baru organisasi mahasiswa yang dinilai mengancam kebebasan berorganisasi dan gerakan kritis mahasiswa.
.
Aksi memberikan #KartuKuningJokowi ini sebenarnya masih lebih aman jika dibandingkan aksi bendera hitam. Mengapa demikian?

Ceritanya begini, beberapa tahun lalu pernah terjadi aksi di depan Kedubes AS, Jakarta. Menolak kedatangan Hillary Clinton, Menlu AS saat itu. Merunut rekam jejak Hillary yang sebelumnya pernah menjadi Ibu Negara sang negara adidaya, berikut jabatannya yang di kemudian hari menjadi menteri luar negeri, tiada pernah lepas dari sejumlah kebijakan yang menyerang Islam dan menjajah dunia Islam. Jadi penyambutannya ke Indonesia sama saja dengan mempersilakan dengan senang hati kaum penjajah datang ke Indonesia.

Karena itulah dalam aksi umat Islam terhadap kedatangan Hillary, peserta dianjurkan untuk membawa bendera hitam. Bendera ini tak lain adalah bendera Rasulullah ﷺ yang bernama Ar-Royah. Bendera hitam bertuliskan kalimat لا إله إلّا اللّٰهُ. Di masa Rasul ﷺ, bendera ini dibawa di tengah-tengah peperangan. Sebagai penanda bahwa umat sedang menghadapi musuh Islam. Musuh nan durjana, yang tiada bahasa lain untuk bisa disampaikan kepada mereka selain perang.

Jadi, langkah telak pasca aksi kartu kuning ini, selayaknya bukan kartu merah. Terlebih warna merah bisa diidentikkan dengan warna parpol tertentu. Justru yang layak adalah bendera hitam, Ar-Royah.
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox