Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Selasa, 06 Februari 2018

Kritik yang Berasa Intrik



Oleh: Syafrizal Candra
(Pemerhati Sosial dan Politik)

Masih hangat video seorang mahasiswa yang juga ketua BEM UI Zaadit Taqwa sedang mengkritik secara langsung didepan Jokowi mengenai problem gizi buruk yang dialami suku Asmat di Papua. Dengan teatrikal layaknya seorang wasit mengeluarkan kartu kuning sebagai peringatan atas pelanggaran yang dilakukan pemain sepak bola dihadapan banyak penonton, menjadi viral di sosmed dan media mainstream.

Pro-kontra akhirnya datang dari masyarakat, hingga pernyataan langsung dari Jokowi terhadap aksi yang dilakukan mahasiswa tersebut.

Menanggapi sikap mahasiswa UI tersebut, Jokowi mengatakan tindakan tersebut sudah seyogianya dilakukan oleh mahasiswa, juga sebuah aktifitas yang memang perlu dilakukan oleh mahasiswa, yang mana moto Agent of Change sudah terpatri kuat kepada jati diri pemuda dan mahasiswa pada umumnya, sehingga setiap problematika regional yang ada selaiknya mahasiswa ikut andil dlm kebijakan pemerintah dengan selalu mengingatkan kebijakan yang dijalankan. Janjutnya, pemerintah berinisiatif  akan mengirim ketua BEM UI dan perwakilan UI untuk langsung melihat kondisi suku Asmat di Papua (radio el sinta red.).

Menarik untuk disimak pernyataan Jokowi, bahwa pemerintah berinisiatif mengirim ketua BEM UI serta delegasi UI untuk melihat langsung kondisi di Papua, terkhusus suku Asmat yang dilanda masalah gizi buruk akhir-akhir ini.

Mengenai pernyataan pemerintah yang akan mengirim mahasiswa tersebut ke papua, apakah tindakan itu perlu dilakukan? Padahal tugas pemerintah hanyalah menjalankan wewenang dan kekuasaan yang mengatur kehidupan sosial, ekonomi, dan politik suatu negara. Artinya, segala problematika yang terjadi di negara ini sepenuhnya tugas pemerintah untuk menyelesaikan problematika yang ada hingga problem tersebut benar-benar tuntas, bukan melempar batu sembunyi tangan.

Ada baiknya pemimpin negeri ini berkaca dengan figur Umar bin Khotob. Bagaimana beliau ketika menyampaikan khotbah diatas podium mengenai larangan mahar untuk wanita melebihi standar yang diberikan rosulullah terhadap istrinya. Seketika itu datang seorang wanita Quraisy menegur Kholifah Umar bin Khotob, bahwa yang disampaikan Umar bin Khotob bertentangan dengan Al Qur'an yang membolehkan memberi mahar banyak kepada para wanita (QS. An Nisa : 20). Tetapi apakah Kholifah Umar bin Khotob sinis dan marah ketika ada yang menegur beliau? Tidak! Kholifah Umar malah menarik kalimat yang disampaikan beliau kemudian membenarkan perkataan wanita Quraisy tersebut dihadapan banyak orang saat itu.

Andai pemimpin kita amanah dalam menjalankan roda pemerintahan atas dasar taat kepada Allah SWT, dan menerapkan syariatnya secara kaffah dalam bingkai khilafah, insya Allah negeri ini akan menjadi negeri aman, makmur atau filosofi orang Jawa menyebut "Gemah Ripah Loh Jinawi". Serta datangnya Rahmat Allah yang akan menaungi seluruh alam semesta ini. Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox