Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 05 Februari 2018

Krisis Wibawa Guru dibawah Ketiak Sekularisme



Oleh : Firdaus Bayu
(Pusat Kajian Multidimensi)

Guru adalah seorang panutan. Tutur katanya mengandung nasihat, tingkah lakunya adalah teladan. Pendidik generasi bangsa, begitulah definisi sederhana seorang guru. Profesinya merupakan amanah kemanusiaan. Baik buruknya akhlak anak bangsa adalah taruhan reputasi dirinya dan dunia pendidikan. Ringkasnya, kehormatan untuk guru amatlah tinggi. Sayangnya, di era kebebasan hari ini, sungguh memprihatinkan apa yang telah terjadi. Wibawa seorang guru kian jatuh nyaris tanpa kendali. Di mata siswa dan orang tua, guru bisa dipandang sebagai penjahat. Fenomena siswa mempolisikan guru kian marak sebagaimana korban melaporkan penjahat di hadapan hukum, bahkan ada yang main hakim sendiri. Masih teringat jelas di benak kita, kisah tragis seorang guru di Madura beberapa waktu lalu yang akhirnya meninggal dunia lewat tangan siswanya sendiri. Tak perlu diceritakan ulang, kronologi kejadiannya telah berseliweran di jagat media, menjadi berita besar di negeri ini. Anda pun masih hafal betul wajah tersangka dan gurunya, bukan?

Buah Sekularisasi
Pelecehan terhadap guru oleh siswanya sendiri sebetulnya sudah lama terjadi. Kasus guru Budi hanyalah salah satu di antaranya. Miskinnya etika siswa terhadap gurunya hari ini, diakui atau tidak, sesungguhnya merupakan imbas langsung atas adanya gaya hidup kebebasan (liberalisme) pergaulan di tengah-tengah mereka. Faham kebebasan tersebut telah mengajari generasi untuk dapat berekspresi sesuai apa yang mereka ingini, diinspirasi oleh media kapitalis yang menampilkan perilaku jagoan dan hura-hura. Karena itu, tidaklah aneh jika sopan santun kian menjauh dari anak bangsa. Menghormati guru bisa menjadi suatu hal yang sulit untuk mereka lakukan, dan berani terhadap guru adalah sikap lumrah dalam pandangan mereka. Intinya, miskin adab.

Penting untuk dicatat, sistem kebebasan ini merupakan turunan dari sistem hidup sekularisme di negeri ini. Dalam pandangan sekularisme, agama dan kehidupan adalah dua hal yang mutlak dipisah. Sekularisme tak pernah menghitung halal haramnya perbuatan. Asal itu bermanfaat, ambil saja, meski mungkin jelas-jelas berseberangan dengan norma agama. Pola pikir dan tingkah laku generasi yang semakin jauh dari nilai agama merupakan bukti suksesnya sekularisasi di kalangan remaja. Jadi, hilangnya moral dan akhlak generasi hari ini bukan saja semata-mata karena faktor pribadi, melainkan lebih dari itu ialah buah langsung dari budaya kebebasan oleh sistem sekularisme. Jika agama tak lagi menjadi ukuran, maka tak perlu heran apabila banyak kejahatan moral yang terjadi dalam kehidupan.

Belajar dari Sejahteranya Guru di Masa Islam
Dalam catatan sejarah, guru dalam Islam begitu mulia di mata murid. Kehidupan mereka dipenuhi dengan hormat dan ketawadhuan dari anak didiknya. Sebagai contoh, suatu ketika Imam Yahya bin al-Qaththan, setelah melaksanakan shalat ashar, bersandar di bawah menara masjid beliau. Di sekitar beliau ada Ali bin al-Madini, asy-Syadzakuni, Amru bin Ali, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Main serta ulama lainnya yang ingin berguru kepada beliau. Mereka berdiri hingga menjelang shalat magrib. Saat itu Imam Yahya bin al-Qaththan tidak meminta mereka untuk duduk. Karena itu mereka pun enggan untuk duduk dalam rangka menghormati guru (Al-Jami’ al-Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’, hlm. 78). Begitulah cara para pencari ilmu menghormati gurunya. Mereka tetap memilih berdiri meski hal itu dilakukan dalam waktu yang cukup lama, sebelum sang guru mempersilakan mereka duduk. Di waktu yang lain, Imam al-Fara’ – seorang ulama Kufah yang paling pandai dalam ilmu nahwu dan sastra – diminta oleh Khalifah Makmun untuk mengajarkan ilmu nahwu untuk kedua putranya. Ketika beliau selesai mengajar dan beranjak untuk pergi, kedua anak Khalifah itu berebut untuk membawakan sandal Imam al-Fara’ sebagai bentuk penghormatan mereka kepada sang guru. Mengetahui hal itu, Imam al-Fara’ akhirnya meminta kepada kedua anak itu masing-masing membawa satu sandal hingga keduanya sama-sama menyerahkan sandal kepada beliau (Wafayat al-A’yan, 2/228). Hebat, adab murid terhadap gurunya di masa Islam begitu indah, dan itu terjadi sebab pola hidup yang ada saat itu bercorak Islami. Tentu berbeda jauh dengan kondisi anak didik kita pada hari ini.

Di zaman ini, memang masih tetap ada murid yang beradab kepada gurunya. Namun rasanya mereka yang tak beradab jauh lebih banyak jumlahnya. Ingat, liberalisasi terus mengancam dan semakin beringas memangsa. Kejahatan santri di pesantren sudah banyak, dan di sekolah umum nyatanya lebih gila lagi. Kita butuh kondisifitas berasas agama agar kelahiran generasi ke depan lebih membanggakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox