Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 02 Februari 2018

Habis Beras, Terbitlah Garam dan Gula


( kran impor bocor – bukti kegagalan sistem )
oleh: Dwi anggraeni rahayu 

“ Bukan lautan, hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu. Tiada badai, tanpa topan. Ikan dan udang menghampirimu. Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. “ demikian potongan lirik lagu yang menggambarkan kondisi alam subur nan indah bumi pertiwi Indonesia, yang tak lain adalah anugrah Allah SWT. Masih teringat betul di ingatan saya, 18 tahun yang lalu, waktu usia SD dulu seorang guru mengatakan bahwa indonesia adalah negeri agraris yakni negeri yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani. Lahan pertanian pun hampir di sepanjang jalan di penuhi dengan tanaman padi yang terhampar luas. Panen raya silih bergantian di berbagai daerah seolah berlomba untuk segera panen. Wilayah perairan lautnya pun begitu luas tak terbatas, seolah tak akan habis kita ambil kekayaan yang ada di dalamnya. Bagaimana tidak, perbandingan luas daratan dan lautan di indonesia kurang lebih 2/3 atau 70% dari wilayah teritori indonesia adalah lautan.
Namun fakta terbaru seakan mengingkari itu semua, mengingkari bahwa negeri kita adalah negeri dengan SDA yang melimpah. seharusnya beras berlebih, semua orang bisa menikmatinya dengan mudah dan murah. Seharusnya garam bukan menjadi barang yang langka dengan harga yang menggunung tinggi. Seharusnya kebutuhan pangan kita bisa tercukupi melalui cocok tanam petani dan nelayan kita. Dan seharusnya negeri kita bisa mempunyai kemandirian pangan juga ekonomi. Tidak malah bergantung pada negeri lain serta menjadikan impor sebagai jalan solusi yang berkelanjutan, dimana bisa mengancam pertahanan dan kedaulatan bangsa. 
Iya, fakta menyakitkan itu adalah dibukanya keran impor beras di saat para petani kita mendekati masa panen raya. dan lagi – lagi disusul dengan impor garam serta gula. Sebagaimana diberitakan dalam beberapa media berikut,
“ Pemerintah memutuskan impor beras demi mengamankan pasokan, sebanyak 500 ribu ton beras akan segera didatangkan dari Thailand dan Vietnam pada akhir bulan ini “ ( liputan6.com)
Mereka berdalih dengan impor ini untuk menyelamatkan perekonomian dan untuk meredam kenaikan harga beras yang sedang melonjak tinggi,
“ pemerintah menegaskan bahwa impor beras tersebut merupakan solusi untuk meredam kenaikan harga beras yang sudah mencapai hampir 10 persen dalam beberapa hari terakhir “ ( liputan6.com )
Padahal dengan dibukanya keran impor saat ini diperkirakan akan berdampak pada anjloknya harga beras petani saat musim panen mendatang. Sebab, pada Februari – Maret mendatang akan ada panen raya di dalam negeri, di sisi lain negeri kita sudah kebanjiran beras impor. Bagaimana mau membangun kesejahteraan petani, bagaimana petani bisa untung kalau saat menanam  mereka disuguhi dengan harga benih dan pupuk yang mahal, tapi ketika panen harga beras murah bahkan anjlok.
Belum selesai pertanyaan besar impor beras ini, lagi – lagi kabar impor garam dan gula juga segera menyusul,
“ pemerintah membuka impor garam industri sebesar 3,7 juta ton. Pembukaan keran impor garam bertujuan untuk menjaga stabilitas dunia industri yang membutuhkan bahan baku garam “ ( liputan6.com )
“ pemerintah, melalui kementerian perdagangan mengeluarkan izin impor gula mentah sebanyak 1,8 juta ton untuk semester pertama 2018 “ (REPUBLIKA.CO.ID )
“ Kementerian perdagangan (kemendag) menerbitkan izin importasi gula mentah ( raw sugar ) sebanyak 1,8 juta ton. Impor itu disebut untuk memenuhi kebutuhan industri makanan minuman dalam negeri pada paruh pertama tahun ini “ (CNN)
“ di awal 2018 ini pemerintah telah membuka dan memberi izin untuk impor beras. Ini dilakukan karena stok bulog diklaim berkurang dan harga beras naik cukup tinggi. Tak hanya itu, pemerintah Jokowi – JK juga telah memberi izin impor gula mentah dan garam industri “ ( merdeka.com )
Jika dikaitkan dengan devinisi ketersediaan pangan menurut kapitalis adalah ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup aman dan bergizi untuk semua orang dalam suatu negara baik yang berasal dari produksi sendiri, impor, cadangan pangan, maupun bantuan pangan. Masalah distribusi dan bisa diakses oleh setiap individu atau tidak, itu tidak jadi perhatian( globalmuslim). Dan devinisi inilah yang dianut oleh pemerintahan kita. Padahal permasalahan pangan tidak cukup hanya dari ketersediaan pangan yang cukup, tapi juga pendistribusian pangan bagaimana bisa merata dan dirasakan oleh penghuni suatu negeri itulah yang terpenting. Banyak persediaan pangan tapi kalau hanya dimiliki oleh sekelompok orang saja, sedangkan banyak yang tidak bisa mendapatkan pangan tadi karena ketidakmampuan mereka untuk mendapatkannya karena mahalnya harga pangan tersebut. Maka alasan impor akan terus dipakai dengan dalih pemerataan.
Kenapa bisa terjadi impor yang berkelanjutan ? ini karena sistem ( kapitalisme ) memberikan ruang kebebasan bagi siapapun untuk memiliki kekayaan, termasuk kepemilikan yang seharusnya milik umum bisa menjadi kepemilikan pribadi / kelompok. Yang selanjutnya untuk memperkaya diri dan bukan untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Maka cara impor akan senantiasa berulang.
Jadi berharap menguatnya ekonomi melalui impor adalah sebuah kemustahilan. karena impor yang berkelanjutan merupakan bukti bahwa sebuah negeri belum mempunyai kemandirian ekonomi. Serta hanya mewakili kepentingan orang tertentu yakni para kapitalis.
Lalu bagaimana seharusnya yang perlu kita lakukan ??.. disinilah Islam punya jawaban,.. sebagaimana sabda Rosulallah SAW “ Manusia berserikat dalam 3 hal, dalam padang rumput, air dan api “ HR. Ahmad dan abu Dawud, hadist ini menjelaskan bahwa manusia berserikat ( kepemilikan umum ) dengan negara yang berkewajiban untuk mengelolanya serta harus dikembalikan kemanfaatanya untuk kepentinagn umum, tidak boleh dimonopoli kepemilikannya untuk diri sendiri dan keluarga. Sehingga kemanfaatannya akan bisa dirasakan oleh rakyat. Dengan memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh negara tadi, insyaallah ketersediaan dan pemerataan pangan dapat berjalan dengan baik, sekaligus membangun kemandirian ekonomi.
 Allhu ‘alam..


 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox