Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 15 Februari 2018

Catatan Kecil Tentang 14 Februari



Oleh: Aziz Rohman (Pemerhati Remaja) 

 Beberapa hari lalu saya bertanya kepada beberapa siswa dari yang masih SD sampai SMA di Situbondo, Jawa Timur. Mereka di tanya secara acak tanpa pilih-pilih, baik laki-laki maupun perempuan. Ketika di tanya, "Tanggal 14 Februari itu hari apa?". Ternyata, jawabannya di luar dugaan. Hampir semua siswa yang saya tanya tahu tanggal 14 itu hari apa. Bukan hari rabu jawaban mereka, tapi hari valentine, hari kasih sayang. Begitulah jawaban jujur tanpa pikir panjang, yang keluar dari mereka. Ini menarik sungguh menarik, sebab jika saya mengingat lagi satu dua dekade ke belakang. Maka, hanya sedikit anak sekolahan yang tahu ada apa dengan tanggal 14 Februari.

Opini tentang hari itu tidak ujug-ujug hadir begitu saja. Tapi berproses, yah proses yang sangat lama. Hingga ada di pada satu titik dimana hampir semua remaja siswa dari SD-SMA tahu tentang hari itu, ini menyedihkan. Tentu, sebagai negeri dengan mayoritas penduduknya muslim kita harus merasa aneh jika melihat para muda-mudinya berbondong-bondong mengkeramatkan tanggal 14 Februari. Sudahlah tak ada dasarnya dalam Islam, di jadikan hari untuk bermaksiat lagi. Astaghfirullah...

Ini adalah sebuah pertarungan pemikiran. Kita harus memahami ini bahwasanya musuh-musuh Islam tak pernah lelah menggerus pemikiran dan keimanan umat Islam, terlebih generasi mudanya. Dengan berbagai tipu dayanya baik lewat film, sinetron, musik dan berbagai kesenangan lainnya. Sedikit demi sedikit remaja kita di jauhkan dari agamanya. Hingga sangat mudah kita jumpai bagaimana masjid dan pengajian sangat sepi akan kehadiran anak muda. Berbeda dengan konser musik, ratusan hingga ribuan anak muda selalu hadir. Meski itu desak-desakan, bahkan mengeluarkan uang tidak sedikit merekapun rela. Ini ironis, sungguh ironis!

Tolak Gaul Bebas

"Kamu kuper, nggak gaul masak gitu aja nggak tahu", Itu adalah salah satu kata yang menyakitkan. Saat remaja dikatakan nggak gaul, kurang pergaulan, dsb. Kadang jika kita mau berpikir jernih, gaul itu yang bagaimana sih. Semua bingung mendefinisikan, tapi hampir semua orang sepakat. Yang dikatakan anak gaul itu ya seperti yang ada di TV di film-film. Yah, media seperti televisi dengan berbagai acara film, sinetron, dll. telah menggeser posisi guru dan orang tua dalam hal mengajari bagaimana anak berpakaian, berperilaku dan bertingkah. Dan lewat berbagai tayangan di televisi itulah akhirnya remaja kita di ajari bagaimana cara gaul itu, hingga tanpa sadar merekapun di giring ke arah pergaulan bebas.

Bapak ibu dan para orang tua pasti masih ingat dari mana awal mula remaja kita mengenal aktivitas pacaran, memakai hot pants, hingga mengenal hari maksiat V-day. Yah dari sanalah semua itu bermula. Awalnya memang banyak orang yang acuh, cuek dan nggak begitu peduli. Seolah mengatakan, "ya sudah jamannya film itu begitu." (Dalam hati ingin mengatakan itu tidak baik, tapi tetap saja  d di tonton). Dan parahnya mereka tonton setiap acara itu bersama anak-anak yang belum mengerti ini boleh apa tidak. Tanpa sadar, akhirnya apa yang di lakukan para artis dan bintang film itu adalah benar, lantas menjadi tren dan di tiru para anak remaja. Di era sekarang tak ada perbedaan desa ataupun kota. Semua sama, tingkah laku anak desa kota saat ini sama saja. Jika kita lihat banyak remaja putri memakai hot pants di kota, di desa juga banyak. Jika di kota ada yang hamil di luar nikah, di desa juga ada.

Sehingga, pergaulan remaja yang begitu mengkhawatirkan ini harus segera di hentikan. Jika kita semua mau menyelamatkan generasi. STOP GAUL BEBAS! TOLAK GAUL BEBAS!. Caranya bagaimana? Ajak teman-teman remaja kita kembali pada Islam, semangati mereka mengkaji Islam. Sampaikan pada mereka gaul itu bukan bermaksiat. Buat apa gaul, tapi di murkai Allah. Eman kan, usia muda yang harusnya di habiskan untuk menambah ilmu malah di sia-siakan untuk hal tak berguna.

Gencarkan Dakwah

Dakwah, ya dakwah adalah solusi untuk penyadaran para generasi remaja. Tanpa sentuhan dakwah bisa jadi kondisi sekarang akan semakin memburuk di masa depan. Pergaulan bebas begitu menyeramkan bagi remaja kita. Lihatlah di tahun 2015 saja menurut penelitian yang dilakukan UI ada sekitar 62,7 persen remaja wanita sudah tidak perawan dan 21,2% remaja wanita telah melakukan aborsi dan 97% anak remaja sudah menonton filmnya porno (merdeka.com, 26/04/2015). Itu dua-tiga tahun yang lalu, dan seperti sebelum-sebelumnya trennya selalu saja naik. Jadi dakwah kepada kalangan remaja harus di gencarkan agar generasi kita bisa terselamatkan.

Dalam pertanyaan yang saya ajukan ke beberapa siswa tadi saya selipkan satu pertanyaaan, "Apakah kalian suka ngaji?". Dan jawabannya, subhanallah semuanya menjawab, "iya saya suka ngaji". Dan ketika pertanyaan saya lanjutkan, "Suka ngaji apa?". Hampir semua jawaban mengatakan suka mengaji Al-qur'an, beberapa diantaranya menjawab suka ngaji kitab-kitab fiqih. Jadi, ini menunjukkan bahwa sebenarnya ghirah dan semangat keislaman di dada para remaja itu masih ada. Hanya saja memang serangan masif tentang pergaulan bebas itu ada dimana-mana terlebih di era sosmed dan internet saat ini. Maka dari itu kitapun juga harus gencar melakukan dakwah dan edukasi dengan berbagai sarana yang ada demi menyelamatkan generasi, agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas.

Dakwah bukan hanya tugas para ustadz, ustadzah, kyai, bu nyai, para ulama dan mubaligh-mubalighah saja. Tapi dakwah adalah kewajiban setiap diri kaum muslimin. Ketika kita melihat kemaksiatan ada di depan mata, kita tak boleh membiarkannya. Dengan mengingatkan dan mengajak remaja kembali pada Islam adalah sebuah bukti bahwa kita peduli akan kelangsungan generasi umat Islam.

Terakhir, kita harus menyadari bersama bahwa pergaulan bebas bukan sekedar problem bagi remaja, tapi juga masyarakat. Masyarakat bukan sekedar kumpulan individu-individu, tapi di dalamnya ada perasaan, pemikiran, dan aturan. Maka dari itu, mari kita gencarkan dakwah di tengah-tengah remaja dan masyarakat untuk mengajak mereka berpikiran dan berperasaan yang islami. Kemudian, kita juga mendorong penguasa negeri ini untuk menerapkan aturan-aturan Islam dalam kehidupan masyarakat secara menyeluruh di segala aspek kehidupan dalam bingkai negara. Sehingga, generasi Islampun bisa terjaga dari ancaman budaya asing dan pergaulan bebas yang bertentangan dengan syariat Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox