Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Selasa, 27 Februari 2018

BBM Murah, Mungkinkah?



Oleh : Adi S
(Pemerhati Kebijakan Publik)

Tepat pada hari Sabtu 24 Pebruari 2018, Pertamina kembali menaikkan harga BBM non subsidi  yang ketiga kalinya di tahun 2018. Tercatat di bulan Januari 2018, Pertamina telah mengumumkan kenaikan pada tanggal 13 Januari 2018 dan 20 Januari 2018. Alasannya juga sama, mengikuti harga di pasar yaitu rata-rata harga minyak mentah dan rata-rata nilai kurs.

Anggota Komisi VII DPR RI Rofi Munawar mengatakan, kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi terjadi karena mitigasi pemerintah terhadap kenaikan International Crude Price (ICP) tidak maksimal. Tren produksi lifting minyak nasional terus mengalami penurunan dalam satu dekade terakhir dan bersamaan dengan itu konsumsi publik semakin tinggi. (http://ekbis.rmol.co/read/2018/02/25/328168/Pemerintah-Tak-Cermat,-APBN-2018-Terancam-Memburuk-Gara-gara-Kenaikan-BBM-)

 Kenaikan harga BBM non subsidi merupakan konsekuensi logis dari naiknya harga minyak secara global dan nilai tukar Rupiah terhadap dolar. Jika ini dibiarkan terus menerus dipastikan akan berpengaruh kepada besaran Anggaran Penerimaan Belanja Negara (APBN). Pemerintah selama ini terlena dengan rendahnya harga minyak dunia. Atas dasar itu pula subsidi energi ironisnya lebih banyak dialokasikan kepada sektor non energi seperti infrastruktur. Akibatnya saat harga minyak kembali tinggi seperti saat ini, APBN kita terancam mengalami defisit semakin dalam. Ini bisa diartikan bahwa hutang akan semakin bertambah.

Inilah akibat penerapan sistem kapitalisme dengan liberalisasi ekonomi khususnya di sektor migas. Kalau hal ini diteruskan maka yang terjadi beban masyarakat akan semakin bertambah. Meskipun harga BBM subsidi tetap, kenaikan harga BBM non subsidi tetap akan berpengaruh pada inflasi, khususnya inflasi transportasi.

Dua alasan atas kenaikan harga BBM non subsidi menjadi perhatian kita, kenaikan harga pasar dan kurs mata uang. Artinya, selama dua hal ini mengalami fluktuasi maka kenaikan BBM akan selalu terjadi. Bagaimana bisa menghentikan dua variabel tersebut menjadi sangat penting bagi kehidupan kita. Namun selama kapitalisme masih eksis maka kedua variabel menjadi sesuatu yang tidak mungkin untuk dihilangkan.

Meskipun sumber minyak mentah kita melimpah, tapi karena liberalisasi sektor migas,maka penguasan atas sumber alam tersebut lebih banyak beralih ke asing. Undang-undang kita yang memungkin itu semua terjadi. Demikian juga yang terjadi pada mata uang kita, rupiah yang dipatok dengan dolar amerika akan dengan mudah mengalami pelemahan jika stok dolar di dalam negeri berkurang. Apalagi jika jumlah impor kita semakin tinggi, maka rupiah bisa semakin melemah.

Tentu kita berharap keadaan ini akan terus menhantui kehidupan kita. Tidak ada jalan lain, Islam harus tampil kembali dalam kehidupan kita. Dengan tampilnya Islam, maka kekayaan akan dikelola negara untuk kepentingan dan kemakmuran rakyatnya. Demikian juga dengan mata uang kita akan senantiasa stabil karena didasarkan pada emas.

Bagi orang beriman, tidak pilihan lain selain berusaha dengan sungguh-sungguh agar kehidupan Islam bisa terwujud kembali semata-mata untuk mengharap ridlo Allah. Dan tentu saja semua itu untuk kepentingan hidup manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox