Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Selasa, 06 Februari 2018

ASAL INDONESIA?


Oleh: Prof. Dr. Ing. H. Fahmi Amhar

"Saya Indonesia - Saya Pancasila". Jargon ini mulai dipopulerkan tahun 2017.  Maksudnya agar bangsa ini semakin berkepribadian Indonesia, semakin mandiri, semakin bersatu, semakin maju dan semakin percaya diri di kancah internasional.

Namun yang terjadi masih sebaliknya.  Bukannya swasembada pangan, khususnya beras, kita malah impor beras.  Bukannya membangun dengan dana sendiri, kita malah jor-joran utang, bahkan sepaket beserta tenaga ahlinya, buruhnya, teknologinya, bahkan segala label remeh-temehnya.  Dan kini, bukannya perguruan tinggi kita yang makin mendunia, menjadi "World Class Research Universities", kita akan mengimpor pula universitas asing, setelah sebelumnya muncul wacana gurubesar asing.

Memang dalam waktu singkat kita akan mengejar ketertinggalan.  Dalam waktu singkat, pasokan beras kita menjadi berlimpah.  Indonesia bebas dari ancaman kelaparan.  Setidaknya dalam angka.  Bahwa penduduk di pedalaman Papua sana tidak mampu membeli beras, entah berasnya yang tidak sampai ke sana atau uang untuk membelinya yang tidak ada, itu tidak akan terlihat dalam statistik.

Dalam waktu singkat kita akan punya "Infrastruktur kelas dunia".  Entah siapa pemilik infrastruktur itu, dan apakah benar-benar akan mampu meningkatkan ekonomi kita, itu soal nanti.  Biar presiden hasil Pemilu selanjutnya yang memikirkan.  Termasuk memikirkan bagaimana menutup hutangnya

Juga dalam waktu singkat, indeks akademik kita akan melonjak.  Publikasi ilmiah internasional kita - terlebih yang terindeks Scopus - insya Allah akan segera melebihi Malaysia atau Thailand.  Bahwa itu sebagian besar adalah karya dosen-dosen asing yang bekerja di universitas asing yang kebetulan buka cabang di Indonesia, itu bukan soal.  Yang penting nama Indonesia masuk dalam radar pesohor akademik.  Tidak peduli bahwa mereka berasal dari negeri yang tidak mengenal Pancasila, bahkan sebagian ada yang terang-terangan Anti Tuhan (atheis).  Bukankah hal yang sama sudah biasa kita lakukan di kancah olahraga atau budaya?  Bukannya sudah sering kita sewa pemain asing, atau bahkan kalau mereka mau, kita tawarkan naturalisasi.  Toh mereka ikut mengharumkan nama Indonesia.

Kalau begitu caranya, kenapa tidak kita tawarkan saja mantan Presiden asing yang berhasil memajukan negaranya menjadi presiden kita?  Misalnya mantan presiden Amerika Barack Obama, atau mantan presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad.  Sekalian saja.  Toh yang penting Indonesia ngetop.  Asal Indonesia ...

Ataukah jargonnya nanti perlu diganti, menjadi "ASAL INDONESIA, ASAL PANCASILA" ?  Toh kita sekarang sudah mulai terbiasa.  Koruptorpun, kalau sudah pasang meme "Saya Indonesia Saya Pancasila" sepertinya sudah aman.  Sudah tidak perlu lagi membuktikan dengan hafal Pancasila, hafal Indonesia Raya dan mencium Sang Saka Merah Putih.  Beda dengan Ustadz yang bukan dari Muhammadiyah dan NU.  Konon menurut Kapolri, merekalah yang masih harus membuktikan diri cinta NKRI.

Soal apakah ini benar-benar ini buah kepribadian Indonesia, atau benar-benar sesuai dengan Pancasila, biar generasi nanti yang memikirkan.  Kalau ternyata langkah ini keliru, biar generasi nanti yang memperbaiki.  Toh bangsa kita bangsa yang pemaaf, serta mudah melupakan sejarah ...

Kita sudah menjadi bangsa yang berpikir jangka pendek.  Atau bahkan tidak perlu berpikir atau berdoa.  Jargon kita KERJA-KERJA-KERJA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox